Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Rela Dimadu Demi Anak-anak

Sri SugiastutiSisi lain dari sosok seorang ibu tak pernah diduga endingnya. Ia dijadikan Allah sebagai malaikat bagi anak-anaknya. Sampai Rasul pun menekankan kata: “ibumu, ibumu, ibumu.” Tiga kata itu untuk siapa orang yang harus dihormati di dunia ini.Beliau sudah tiada sebelas tahun lalu. Tepatnya 8 Mei 2008. Di usia 71 tahun lebih 2 bulan. Memang bonus usia yang Allah berikan padanya cukup banyak. Namun di sisa usianya ia meregang nyawa setelah melawan penyakit borongan yang diderita.Semangat beliau untuk bisa sembuh sangat luar biasa. Kami tiga orang putra putrinya ikut ikhtiar, dengan doa dan merawatnya sepenuh hati. Apa yang kami berikan tentu tak sebanding dengan apa yang diperjuangkan beliau untuk kami bertiga. Beliau sosok ibu yang tegar, cekatan, pintar cari rezeki, humble, suka menolong, tegas, disiplin, keras, dan sedikit otoriter.Beliau bisa memiliki sifat dan sikap yang luar biasa itu, tentunya ada pemicunya. Ya. Di usianya yang masih remaja beliau sudah yatim piatu. Ia harus rela ikut budenya penjual beras di salah satu pasar di kota Solo. Gemblengan budenya yang cukup keras membuatnya kuat. Lulus SMP beliau masuk sekolah perawat di Semarang.Ia bertemu jodoh pun di Rumah Sakit. Tempat dia bekerja setelah lulus sekolah perawat tahun 1959. Berjodoh dengan lelaki yang memberikan 3 anak. Sayang jodohnya singkat. Ia harus sanggup menghidupi dirinya sendiri dan ketiga anaknya yang masih usia balita.Statusnya yang janda sering diganggu pria iseng, membuatnya ambil keputusan rela dinikahi oleh pria yang sudah beristri. Ini bukan pilihan yang tepat, secara materi dia bisa menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Tetapi ia ingin status yang lebih dihormati daripada menyandang status janda.Anehnya ia bisa rukun dengan istri tua. Ayah tiri kami punya 5 anak dari istri terdahulu yang biasa kami panggil Bude. Sedangkan dengan ibu kami tidak dikaruniai anak. Anak-anak Bude, biasa memanggil ibu ku dengan panggilan Bulek.3 anak dari ibuku dan 5 anak dari Bude hidup rukun walaupun tidak satu rumah.Kadang kalau liburan kami saling berkunjung atau liburan bareng mengunjungi sanak saudara di Solo atau pun di Temanggung.Ibu seorang pekerja keras. Ia punya klinik pengobatan di rumah. Selain itu ia punya jadwal keliling kampung seminggu 2 kali mengunjungi pasiennya yang tidak bisa datang ke rumah. Ibu naik sepeda onthel. Sore hari ia pulang dengan oleh-oleh yang selalu dinanti anak-anaknya. Ada pisang kesukaan adikku yang paling kecil, ada biskuit regal kesukaanku juga. Kue soes pesanan adik perempuanku.Ibu akan marah besar kalau sore hari beliau pulang, kami belum mandi. Jadi kami tidak pernah menunda waktu mandi kami, kalau ingin selamat tidak kena marah ibu. Malam hari saat kami selesai belajar, ibu meminta kami untuk membaca koran dengan suara keras. Bila ada artikel yang menarik pasti ibu membahasnya.Kesibukan ibu dalam mengais rezeki memang luar biasa. Walaupun statusnya punya suami tapi urusan nafkah dirinya dan anak-anaknya cukup dari rezeki yang diperoleh bukan dari suaminya.Aku ingat saat ibu cari pinjaman mobil sedan plus sopir dari salah satu pasiennya. Ibu khusus ingin mengajak piknik anak-anaknya ke Lido Sukabumi. Kadang kami diajak ke Hotel Indonesia untuk melihat pertunjukan atau kalau sekarang istilahnya konser Hentje penyanyi dari Belanda yang sedang naik daun.
Untuk pertama kali kami paham naik lift. Atau sesekali ibu ngajak kami ke pusat perbelanjaan “Sarinah”. Kami masih SD walaupun dari keluarga yang pas-pasan, kalau untuk pengetahuan dan majunya pendidikan ibu sangat perhatian.Ibu ingin anak-anaknya punya nasib yang lebih baik darinya. Sejak kecil aku dan adik-adik sudah diajarkan bagaimana, menjaga kerapihan rumah, punya tugas masing-masing saat libur maupun bangun tidur. Tugasku nyemir sepatu, adikku menyapu dan mengelap jendela dan meja kursi. Ada juga yang nyapu halaman. Semua dapat tugas.Pukul 06.00. sarapan sudah tersedia tak lupa cangkir kami yang berisi susu harus diminum. Menu sarapan kadang diganti dengan roti tawar disemir mentega dan diisi meses. Kalau ada nasi sisa malam, ibu dibantu mbok Kem membuat nasi goreng komplet, ada telur, abon, kerupuk dan tomat. Walaupun kata orang kalau sarapan nasi goreng bikin ngantuk tetapi tidak masalah untuk keluargaku.Cara ibu mengjariku menghargai uang dengan menyuruh aku ke pasar.. Saat itu usia ku 10 tahun kelas 4 SD. Ibu sudah siap dengan daftar belanjaan yang harus aku beli di pasar. Ada minyak goreng, gula pasir pokoknya sembako. Aku harus tahu harga saat itu, dan jangan pernah salah hitung. Semua harus jelas. Termasuk uang kembalian.Menurutku ibu itu luar biasa ilmu parentingnya. Untuk mengajari kami bersyukur salah satunya dengan banyak memberi keringanan pada pasiennya yang datang ke tempat praktiknya. Salah satu keringanan yang diberikan, banyak pasien yang datang tidak bawa uang, alias minta gratis atau membayarnya kalau sudah punya uang.Kadang ada juga yang berobat pagi hari tetapi belum sarapan. Karena ibu harus menyuntik pasien itu, biasanya ibu akan ke dapur, membuatkan teh manis dan nasi sepiring lengkap dengan lauknya . Setelah kenyang baru pasien itu diobati dan disuntik.Banyak hal yang bisa kukenang dari ibuku sayang. Karena mobilitasnya cukup tinggi tak heran kalau ibu sering capek. Akibat capek, ibu punya kebiasaan suka dipijat atau tiga anaknya yang masih di SD, sering mendapat tugas memijat dengan kaki, kami menyebutnya di injak- injak. Saat memijat ini lah seringkali proposal ku muncul untuk minta ini itu keperluan yang aku butuhkan. Bisa sepatu baru, uang untuk bayar piknik, atau tas baru.Ibu sangat piawai dalam menanggapi proposal anak-anaknya.
” Tenang ya Nduk, bulan depan ibu dapat arisan nanti uangnya sebagian bisa untuk bayar piknik.”
Atau di lain hari ibu akan berkata: ” Masih banyak pasien ibu bulan lalu yang pesan obat dan berobat tapi belum bayar, mereka janji minggu ini mau bayar. Besok ibu kasih catatannya dan bantu ibu menagih ya ke rumah bu Halimah, bu Hasan, juga bu Darto! ” Besoknya ibu sudah menyodorkan daftar tagihan yang harus aku bawa dan pergi ke rumah orang tersebut untuk menagihnya.Ibuku punya misi ke depan yang super demi kemajuan pendidikan anak-anaknya. Aku yang masih duduk di kelas 6 SD, diikutsertakan kursus bahasa Inggris bersama program dewasa. Ibu juga mengajarkan tata krama Jawa yang luar biasa dan sangat jarang digunakan di lingkungan tetangga yang tinggal di Jakarta.Menjelang ketiga anaknya tumbuh dewasa ibu juga ikut menaruh perhatian dengan 5 anak tirinya. Kami tumbuh bersama walau beda rumah dan lumayan berjauhan. Kami berkumpul saat Liburan, hari raya atau acara keluarga lainnya. Sekolah kami disesuaikan dengan minat dan hobi masing-masing. Ada yang STM, Sekolah perawat, sekolah Sosial dan SMA.Hampir semua anak kandung dan anak tirinya dikawal ketika mencari sekolah ke jenjang sekolah menengah. Ibu juga paham mana sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Aku merasa beruntung bisa sekolah di SMAN favorit pada zamannya. Bersekolah di sekolah favorit tentu ada plus minusnya. Sekolah favorit didominasi oleh anak-anak orang kaya. Perlengkapan sekolah yang dipakai juga branded.Aku bisa banyak belajar dari keadaan yang ada. Dan yang utama aku jadi lebih bersyukur.. Aku punya seorang ibu yang hebat dan berhati mulia. Ia rela dimadu agar status anak-anaknya di mata umum punya sosok seorang bapak yang melindungi.Untuk urusan rohani, awalnya ibu memang kurang paham urusan Akherat. Tetapi ia ingin anaknya pintar ngaji. jadi aku dan adik-adik. Sempat sekolah madrasah di siang hari, belajar ngaji dengan ustadzah yang tinggal di dekat rumah. Tetapi karena kurang fokus jadi belajarnya kurang optimal.Ibu selalu membuat hatiku terharu. Saat aku lulus sma dan harus kuliah, waktu itu belum zaman online. Ibu lah yang antri di UNS untuk mendapatkan selembar formulir pendaftaran. Ibu juga bersusah payah menengok aku di tempat KKN yang ada di perbatasan Karanganyar dan Wonogiri yang angkutan umum adanya di hari Pasaran. Yang jaraknya 70 km dari Solo. Padahal sampai disana aku tidak ada.Ibu juga yang sangat mengerti perasaanku yang sedang patah hati, karena lelaki yang aku cintai adalah pecundang. Kuliah ku yang sukses tidak diiringi dengan kesuksesan jodoh. Hanya ibu yang bisa mengiburku. Termasuk mencarikan tempat mengajar sebagai guru wiyata bakti di salah satu sekolah di Jakarta.Urusan perjodohan pun ibu yang paling khawatir. Padahal aku yang sedang patah hati baik-baik saja. Kunikmati sebagai guru muda dan tetap membuka diri. Dan di usia ku jelang 25 tahun ada seorang duda beranak tiga yang langsung melamarku lewat ibuku. Anehnya ibu berharap aku mau menerima lamaran orang itu.Jujur saat itu yang terbayang bukan gantengnya sang duda dengan kumis hitam, gigi rapih dan hidung standar. Tetapi naluri keibuanku yang muncul. Kubayangkan anak berusia 7 tahun, 4 tahun dan terkecil 1 tahun, mereka tidak punya ibu. Bisa kah aku menjadi ibu tiri yang baik. Hanya kepada ibu juga aku membuat perjanjian bahwa sepenuhnya aku mohon dukungan dan doa restunya. Bila suatu saat terjadi yang tidak diinginkan ibu yang menyelesaikan atau mencarikan solusinya.Akhirnya aku menerima lamaran itu. Ternyata dia memang jodohku. Saat ini genap 33 tahun, kami membangun keluarga sakinah mawadah warohmah dengan perjuangan yang luar biasa. Karena jadi ibu tiri, jadi mantu yang baik, juga mendampingi pasangan dengan latar belakang yang berbeda itu ujiannya luar biasa.Saat aku terpuruk ibu selalu ada menghibur sekaligus mensupport agar aku tegar. Ibu ada saat aku hamil pertama dan bayiku meninggal di dalam perut. Ibu yang mengantar dan menungguku. Dokter kandungan pilihan ibu juga yang membantu melahirkan. Ya walaupun aku sudah menikah, aku lebih nyaman tinggal bersama ibu.Untuk kedua kali di Jakarta aku kehilangan bayi lagi, walaupun kasusnya berbeda. Lagi-lagi ibu yang paling sedih dan rempong. Betapa tidak saat itu usia kandungan anak kedua ku itu masuk 26 minggu belum 7 bulan. Saat selesai kontrol ke dokter info yang didapat bayiku sungsang, bobotnya masih 1,2 kg. Aku disarankan senam hamil. Hari itu juga aku ikut kelas senam hamil. Tetapi apa yang terjadi? Belum ganti baju aku harus kembali ke Rumah Sakit karena terjadi kontraksi.Tentu saja ibu yang paling panik. Ia menemaniku sampai masuk ke kamar bersalin. Rupanya bayi ini tidak bisa dipertahankan. Bayi yang lahir prematur dan hanya bertahan 2 minggu di inkubator. Sementara aku harus menunggu di rumah sambil recovery usai melahirkan. Ibu lah yang wira-wiri ke Rumah Sakit menu nggu cucunya dan akhirnya tetap diambil oleh sang Khalik.Ibu terus mendampingiku, walaupun kondisinya sudah tidak prima lagi. Ketika aku diajak suami pindah ke Solo, sebenarnya ibu tidak rela. Ada gurat kesedihan. Apalagi ketika ia menilai rumah mertua ku tidak layak huni. Tetapi ia harus mengikhlaskan anak perempuannya hidup bersama suami dan mertuanya.Aku masih berikhtiar untuk mendapatkan anak, sambil membesarkan ketiga anak tiriku. Hidup di Solo menghidupi keluarga besar , ada 3 anak, mertua dan pembantu total 8 orang yang tiap hari makan 3 kali dan punya kebutuhan masing – masing cukup membuatku harus ekstra sabar dan hati-hati . Aku yang mejalani berusaha tegar. Tetapi hati seorang ibu pasti tak tega melihat kehidupanku yang sedang diuji Allah.Tak lelah ibu masih terus membantuku dengan caranya. Aku dikirimi uang untuk belanja dagangan di pasar klewer ada daster, kain ataupun sarung. Kadang juga abon dan makanan khas lainnya yang ada di Solo. Tentu saja ada lebihan yang bisa aku terima.Ketika ibu mendengar kabar kalau aku hamil. Ibu langsung berinisiatif kalau aku harus bedrest di usia kehamilan bulan ke 6. Ya setelah izin ambil cuti besar aku bisa bedrest di Jakarta. Aku harus fokus untuk keselamatan anak ketiga ini. Ibu rajin mengantar ku ke dokter dan banyak saran dan nasihatnya agar aku menjaga kandunganku dengan baik.Alhamdulillah, aku melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama oleh neneknya. Usia bayi 2 bulan saat kuboyong ke Solo. Aku harus kembali mengajar dan mengurusi keluarga. Hubungan ku dengan ibu hanya lewat telpon atau kadang ibu mengunjungi kami ke Solo.Cita-cita ibu menghabiskan hari tua nya di Salatiga bisa terlaksana karena aku mendukungnya. Ibu memang hebat. Uangnya tidak banyak tetapi ia punya mimpi. Mimpi punya rumah dengan beberapa kamar untuk anak kos. Dalam waktu satu tahun rumahnya jadi. Aku dan keluarga yang lebih sering menikmati rumah itu. Ternyata ibu dan bapak kurang cocok dengan udara di Salatiga. Jadi rencana untuk boyongan dan menetap di Salatiga batal. Mulai saat itu ibu sudah sering sakit dan rajin berobat ke mana-mana.Walaupun sakit, semangat ibu tetap luar biasa. Dia bisa tetap “nyebar roso seneng ” dan menyejukkan untuk orang yang ada di sekitarnya. Terutama buat orang-orang yang dikunjungi. Ibu sering memberi tali asih. Bisa berupa uang, makanan atau baju. Jadi kehadirannya di Solo banyak dinanti sanak saudara. Terutama aku anaknya.Rasanya aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini. Ibu begitu berarti bagiku. Ia sangat berduka ketika aku harus kehilangan anakku yang ke 3 di usianya yang 4 tahun lebih dua bulan. Cucu perempuan yang sedang lucu dan tumbuh sehat. Nyamuk nakal yang ada di penyakit Demam berdarah jadi suatu penyebab Allah mengambilnya.Baru dikabari saja ibu sudah bingung. Esok paginya ia sudah di Solo menunggu cucunya yang sakit sampai akhirnya Allah memanggil cucunya untuk selama-lamanya. Perasaan sedihnya disimpan ia lebih banyak menghiburku. Banyak sekali nasihat untukku agar aku tegar dan ikhlas menerima kenyataan yang ada.Dan akhirnya saat aku dipercaya Allah untuk hamil lagi. Ibu sibuk lagi dan paling bersemangat. Sayang dia hanya bisa menemani cucunya hingga kelas 6 SD. Ibu sudah lelah dan menyerah dengan penyakit yang diderita. Beberapa kali terserang stroke ditambah melebar penyakitnya, ada di Jantung, Diabetes, hipertensi dan terakhir kanker hati.Ada yang harus kuingat tentang ibu. Alhamdulillah, saat pasca stroke ibu mendapat hidayah dimudahkan Allah menjalankan rukun Islam yang ke lima. Aku pun mendapatkan hidayah itu. Karena ibu dalam melaksanakan ibadah haji, memilih aku untuk mendampinginya. Tahun 2006 jadi kenangan manis aku bersama ibu selama 40 hari. Dari mulai berada di pondok gede asrama haji sampai kembali ke tanah air sungguh perjalanan dan ibadah yang tak mungkin terlupakan.Bagaimana ibu tertawa bahagia dengan kursi rodanya, saat berada di depan kabah pagi hari. Saat sebagian Jamaah Haji sudah pulang ke tanah air.Ibu aku ingin memelukmu dalam doaku di setiap waktu. Semoga dilapangkan kuburmu, diampuni dosamu dan kita dipertemukan di jannah kelak. Aamiin YRATulisan ini aku dedikasikan untuk ananda Yassin Cahyo Ramadhan


Tinggalkan komentar

Bu Kanjeng dan Airbus A 330 Lion Air

Sri Sugiastuti

Airbus A 330 Lion Air, salah satu pesawat andalan Lion Air yang membawa Jamaah umroh dari beberapa kota besar yang ada di Indonesia menuju Jeddah atau Madinah PP. Kodratullah pesawat itu mengantar Bu Kanjeng pulang ke Solo yang sebelumnya transit di Jakarta setelah turun dari pesawat Boing 737 milik Lion yang mengantarnya dari Padang transit di Jakarta.

Perjalanan Padang Jakarta walau sempat sport jantung karena sempat terjebak macet di Bukitinggi. Ia tinggal punya waktu 7 menit untuk masuk ke dalam pesawat. Dapat nomer seat 6B terasa kurang nyaman. Setelah pesawat lepas landas Bu Kanjeng ke toilet. Matanya melirik kursi kosong yang ada di depan. Tanpa sungkan Bu Kanjeng minta izin pada Pramugara untuk pindah ke kursi kosong tersebut.

Mas Pramugara malah menyarankan Bu Kanjeng duduk di deretan depan. Langsung Bu Kanjeng pindah ke depan. Ia pun bisa melampiaskan hasrat laparnya dengan 1 cup indomie rasa sapi siap saji. Sambil memandang gugusan awan yang berjarak cantik, satu cup indomie itu dalam sekejap pindah ke perut Bu Kanjeng.

Bu Kanjeng yang sering merenung dengan apa yang sudah dialami lalu menyimpulkan bahwa semua kejadian yang dihadapi segala sesuatu baik yang kasat mata atau tidak adalah atas izin Allah SWT. Berjalan dari pintu keluar terminal 1/ B menuju terminal 1/A lumayan jauh. Sambil mendorong troly hati Bu Kanjeng galau pasalnya ia belum salat.

Segera ia menitipkan koper di petugas Lion ruang tunggu. Ia bersegera ke musala terdekat. Hatinya plong. Kewajiban dan juga kebutuhannya salat terpenuhi. Baru saja ia kembali ke ruang tunggu, terdengar suara keras pengumuman bahwa Lion mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang karena pesawat yang dari Makassar mengalami keterlambatan 60 menit. Dengan alasan operasional.

Bu Kanjeng sudah hapal bahkan pernah menjuluki Lion si raja delay. Lebih baik waktu yang ada dimanfaatkan untuk salat magrib berjamaah. Musala langsung full. Bu Kanjeng harus antri lumayan lama, karena hampir semua penumpang yang beragama Islam menyerbu musala.

Sambil menunggu musala agak longgar Bu Kanjeng ngobrol dengan seorang Bapak yang Kanjeng sebagai distributor buku di seluruh Indonesia. Bu Kanjeng pun bertambah ilmua tentang perbukuan dan penerbitan. Insyaallah ngobrol itu jadi berkualitas karena sesuai dengan yang Bu Kanjeng butuhkan sebagai penggiqt literasi.

Bu Kanjeng tergopoh-gopoh saat diumumkan agar penumpang segera naik ke pesawat tapi nomer dan pesawatnya beda dengan yang ada di tiket. Ketika sampai di mulut pesawat Bu Kanjeng baru sadar kalau pesawat itu Airbus A 330. Pesawat berbadan lebar dengan daya tampung 400 penumpang.

Hmmm, ini kan pesawat yang harusnya aku gunakan ketika umrah pada akhir tahun 2017.”

Ya. Keinginan dan mindset Bu Kanjeng saat ibadah umroh dengan Lion yakin bahwa pesawat yang terbang Solo – Madinah adalah Airbus A330 ternyata salah. Rombongan itu naik pesawat yang lebih kecil yaitu Boing 737 yang daya tampung nya kurang dari 200 orang. Dengan dibayangi sejarah Lion yang bagaimana gituh, akhirnya Bu Kanjeng pasrah. Alhamdulillah ibadah umroh itu lancar.

Nah ternyata doa dan keinginan Bu Kanjeng baru dikabulkan hari Senin tanggal 16 Desember 2019. Padahal harapan dan doanya di November 2017. Semakin yakin lah Bu Kanjeng bahwa itu bagian dari cara Allah menunda sebuah doa.

Sedangkan ada juga doa yang disegerakan. Ini pun pernah dialami Bu Kanjeng. Ketika di tahun 2005 ia menabung 200 ribu rupiah tiap bulan dengan doa dan harapan di saat jelang pensiun ia sebagai guru saat menjelang pensiun bisa melaksanakan ibadah haji.

Ternyata baru bulan ke 3 menabung, panggilan itu datang. Adiknya meminta Bu Kanjeng untuk segera menyiapkan berkas kelengkapan ibadah haji dan biaya ditanggung adiknya full. Awal tahun 2006 pun Bu Kanjeng bersama ibu dan adiknya melaksanakan ibadah haji.

Airbus A 330 yang membawa Bu Kanjeng dan mendarat di bandara Adi Sumarmo mengajak pikiran Bu Kanjeng mengembara mengingat ibunya yang sudah tiada dan perjalanan haji mereka di tahun 2006.

Padang – Jakarta – Solo 16 Des 2019


Tinggalkan komentar

Seratus Ribu Rupiah Plus, Puas

Sri Sugiastuti

“Anda senang, saya puas”. Apa artinya uang 100 ribu buat Bu Kanjeng.? Lumayan berharga uang itu bisa untuk jatah belanja makan siang guru dan karyawan di sekolahnya. Sore tadi kepuasan Bu Kanjeng terbayar tunai seratus ribu rupiah plus setelah mengikuti Lava Tour.

Rencana refresing keluarga besar sekolahnya sudah dirancang sebulan lalu. Tujuannya Yogyakarta dengan obyek wisata, Merapi Park, Museum Gunung Merapi, dan Gardu Pandang sekaligus jadi tempat penjemputan Lava Tour bagi yang ingin mengikuti.

Pak Kanjeng menolak ketika ditawari ikut paket Lava Tour. Bu Kanjeng juga ragu karena 4 tahun lalu ia sudah ngebolang kesana dan singgah ke rumah Mbah Marijan yang fenomenal. Apalagi Pak Kanjeng yang over protect selalu mengingatkan bahwa Merapi yang tidak bisa diprediksi dan cuaca ekstrim yang kadang tidak bersahabat.

Usai salat dan makan nasi kotak yang dipesan panitia dari lokasi setempat, peserta Lava Tour bersiap. Ternyata panitia kurang cermat. Harusnya cuma 5 Jeep menjadi 6 Jeep. Artinya kurang personil. Bu Kanjeng pun berinisiatif gabung setelah dapat izin dari Pak Kanjeng. Bermodal payung ia pun duduk di samping driver Jeep warna jreng hijau pupus.

Sebelum mengikuti Lava Tour ada pengarahan, termasuk menggunakan helm, dan dilarang berdiri saat Jeep berjalan. Ada 5 titik yang akan dikunjungi museum korban erupsi, Batu Alien, Bunker, Rumah Mbah Marijan dan yang terakhir. Jelajah Kali Kuning.

6 Jeep siap berangkat dari arah Gardu Pandang langsung turun melewati vila dan taman yang ada di Kaliurang. Ketika menuju arah panah yang bertuliskan Lava Tour, petualangan dimulai. Terlihat konvoi Jeep dari dua arah cukup padat. Konon ada 1016 Jeep yang beroperasi saat liburan. Dari plat nomer yang ada bisa dilihat asal Jeep tersebut. Berplat B, N, D, AB dan juga AD.

Jalan berbatu besar, pemandangan perbukitan yang diselimuti kabut membawa perasaan Bu Kanjeng pada kepanikan penduduk saat terjadi letusan gunung Merapi termasuk saat awan panas khas gunung Merapi si wedus gembel menelan banyak korban. The house of memory jadi salah satu tujuan Lava Tour.

Di dalam rumah itu terdapat sisa-sisa keganasan erupsi. Betapa awan panas itu telah memporakporandaka harta benda yang mereka miliki, ada tulang belulang hewan ternak, kerangka sepeda motor, bebatuan juga peralatan makan dan masak yang masih tersisa. Bu Kanjeng juga melewati makam para korban bencana yang dimakamkan secara masal. Saat ini tinggal sejarah dan lahan mereka kini diawasi pemerintah daerah.

Titik berikut yang dikunjungi adalah Batu Alien, atau batu besar yang berbentuk wajah. Baru turun dari Jeep cuaca berubah jadi gelap. Kap Jeep langsung ditutup, Bu Kanjeng berlari ke Jeep. Bress, hujan lebat disertai angin kencang bisa dinikmati Bu Kanjeng dari dalam Jeep . Sangat terasa hembusan angin dan hujan lebat di kaki gunung Merapi. Tubuh Bu Kanjeng ikut basah kena cipratan air hujan. Jeep itu tak mungkin melanjutkan perjalanan. Sambil menunggu hujan reda mulut Bu Kanjeng komat kamit berdoa dan berzikir. Masih ada 3 titik lagi yang dikunjungi.

Alhamdulillah, akhirnya hujan reda. Jeep langsung melaju ke titik berikut yaitu Bunker Kaliadem. Sisa hujan lebat campur angin menumbangkan beberapa pohon. Pemandangan di sekitar Merapi ada kabut dan masih terlihat mendung. Nampak Merapi berdiri tegak dengan bentuk khas di atasnya bekas mulut tempat ia menyemburkan lava panas yang mematikan.

Bunker Kaliadem saksi bisu dimana dua Relawan yang berlindung disana tetap jadi korban. Karena Bunker itu tak kuasa menahan panas semburan dari gunung Merapi tahun 2006. Dari Bunker Kaliadem Bu Kanjeng bisa melihat dengan jelas kegagahan gunung Merapi. Tapi untuk _hunting_ foto secara utuh belum dapat yang pas.

Sebelum menuju Kalikuning, sang driver memenuhi janji ya. Ia berhenti di spot terindah dengan Background gunung Merapi setelah hujan di sore hari. Rasanya Bu Kanjeng terpuaskan. Sekarang ia paham mengapa banyak orang yang begitu terpikat dengan keelokan gunung Merapi.

Sudah 150 menit Lava Tour berlalu. Medan yang dilintasi Pasca hujan tentunya jadi tantangan tersendiri buat Bu Kanjeng dan rombongan. Padahal masih ada dua titik yang bisa dikunjungi sesuai dengan paket Lava Tour. Bu Kanjeng memutuskan tidak mengunjungi sisa rumah Mbah Marijan demi efisiensi waktu. Mereka langsung menuju titik yang paling ditunggu. Titik uji nyali.

Setelah melewati jalan bebatuan yang sempit. Berhenti sejenak di setiap jalan yang ada kotak untuk memasukkan dana sukarela yang sudah disepakati bersama. Tibalah jeep Bu Kanjeng menurun dan menurun menuju Kalikuning. Ini tempat paling seru untuk manuver jeep.

Kegiatan ini sangat memacu adrenalin. Sang driver berkali-kali melakukan manuver yang luar biasa. Bu Kanjeng serasa diajak ke suatu tempat yang sulit dijangkau karena transportasi darat yang rusak parah. Seperti yang sering disaksikan di TV atau layar lebar. Dan sore itu Bu Kanjeng jadi pelakunya. Langsung berada di medan itu bersama sang driver tangguh. Ini termasuk kegiatan yang berbahaya dan penuh tantangan. Cipratan air kubangan yang membasahi kaca depan mobil membuat Bu Kanjeng berteriak lepas. Jeep yang melintas di bebatuan miring 90 derajat membuat hati dagdigdug. Andai jeep itu terbalik atau remnya blong.

Tak terasa 20 menit berlalu. Badan Bu Kanjeng rasanya seperti patah dan pegel luar biasa. Tapi hatinya puas bagaikan baru saja lolos dari maut. Ketika bermanuver ada rasa takut tapi ada rasa ketagihan ingin mencoba lagi. Sang driver memberi bonus beberapa putaran. Sungguh sangat sensasional.

Dalam perjalanan Bu Kanjeng sempat bertanya kepada sang Driver bagaimana ia bisa tertarik dengan profesi sebagai driver jeep Lava Tour. Ternyata hobi ngetrack yang membawanya pada profesi ini. Ada test yang dijalani. Termasuk kelayakan Jeep untuk menjelajahi Medan.Semua jeep wajib KIR untuk diperiksa kelayakan ya setiap 3 bulan sekali oleh departemen Perhubungan.

Jeep berhenti di lokasi penjemputan. Terlihat wajah Pak Kanjeng yang penuh rasa khawatir. Dibayangkan Bu Kanjeng berbasah ria kehujanan. Apa lagi dia melihat ada dari rombongan lain yang benjol kepalanya dan basah kuyup. Itu karena Jeep terbuka dan kurang hati-hati sehingga kepala terbentur besi bagian dari Jeep.

Bu Kanjeng tersenyum puas. Ia katakan. “Seratus ribu. Puas”. Akhirnya Bu Kanjeng meminta berfoto dengan sang _driver_ yang memang “anak Merapi”.Rumahnya 6 KM dari kawasan Merapi. Jabat tangan dan saling memaafkan karena ada kebersamaan dengannya selama tiga setengah jam. Karena Jeep kami berisi 4 orang maka harus tambah jadi 500 ribu, bukan 400 ribu.

Tadabur alam.21 Desember 2019


Tinggalkan komentar

20 Menit di Area Jam Gadang Bukittinggi

Sri Sugiastuti

Kunjungan Bu Kanjeng ke Sumatera Barat yang hanya sekejap tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Betapa tidak Solo – Padang-Dharmasraya – Padang – Solo hanya ada waktu 4×24 jam. Sungguh berpacu dengan waktu.

Bu Kanjeng ngarep banget dapat literasi dan juga dapat wisata. Banyak tempat wisata Sumatera Barat yang ingin dikunjungi apa daya tak semua dapat dikunjungi karena keterbatasan waktu.

Perjalanan dari Dharmasraya mampir Istano Basa Pagaruyung lanjut kuliner dan bermalam di Tanah Datar Batusangkar. Padahal besoknya pesawat dari Padang menuju Jakarta pukul 14.15. Hanya ada waktu setengah hari berada di Padang. Wisata yang diincar ya Bukittinggi.

Setelah sarapan lontong sayur, jalan-jalan melihat keindahan gunung Sago, bukit Batu dan gunung Merapi dari kejauhan. Hamparan pohon padi yang menghijau bak karpet empuk mentul mentul. Ada juga emang atau balong yang berisi ikan gurame dan nila. Bu Kanjeng jadi ingin berlama lama disana.

Setelah itu Bu Kanjeng lanjut diajak ke 3 spot di Bukittinggi. Berharap tidak macet dan bisa sampai bandara tepat waktu. Jarak Batusangkar- Bukit tinggi butuh waktu sekitar 1 jam lewat jalan pintas. Tepat pukul 8.30 sudah sampai Bukittinggi. 2 spot Taman Bacaan Panorama dan Museum Bung Hatta walaupun hanya sebentar sudah dikunjungi.

Baru saja Bu Kanjeng menikmati suasana jalan di kota Bukitinggi tiba-tiba mobil sudah parkir dan saat Bu Kanjeng menengok ke kiri, Taraaa menara jam Gadang sudah terlihat di depan mata.

” Onde Mande.. Ini jam Gadang yang sudah dikenal sejak ia sekolah di SD.” Udara segar menyerusup ke dada Bu Kanjeng. Dimanjakan mata memandang keindahan kota Bukitinggi tinggi dari halaman atau alun-alun dimana jam Gadang berdiri kokoh sebagai Ikon kota Bukitinggi.

Lokasinya itu Pasar Bawah, Pasar Atas, Plaza Bukittinggi dan Istana Bung Hatta. Konon nama Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”, nama ini diambil karena jam yang terdapat di keempat sisi menara tersebut yang berdiameter cukup besar, yaitu 80 cm.

Pada tahun 1826 saat Indonesia masih dijajah Belanda Menara Jam ini dibangun sebagai kado untuk sekretaris kota Bukittingi yaitu Rook Maker. Yazid Rajo Mangkuto, sebagai arsitektur pribumi, yang mendisign. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra Rook Maker yang saat itu masih berusia 6 tahun.

Hampir sama dengan bangunan sejarah yang ada di Nusantara, dejak didirikan hingga saat ini, ornamen jam gadang sudah beberapa kali mengalami perubahan khususnya pada bagian atapnya. Pertama kali dibangun, atap menara dibuat berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya yang menghadap ke arah timur.

Pada masa penjajahan Jepangpun atap tersebut direnovasi menjadi bentuk seperti Pagoda atau Klenteng. Kemudian setelah Indonesia merdeka, atap menara tersebut diubah menjadi bentuk seperti adat rumah Minangkabau sekaligus menjadi simbol dari suku Minangkabau.

Ternyata setelah Bu Kanjeng ngulik di Internet Jam gadang itu unik dan menarik. Ada kisah dibalik pembuatannya, Tulisan angka empat yang ada di jam tersebut menyimpang dari pakem, karena tertulis IIII, bukan IV. Di sinilah letak keunikannya.

Angka empat romawi yang seharusnya ditulis IV malah ditulis dengan angka satu berjejer empat (IIII). Keunikan penulisan angka pada jam tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi setiap orang yang melihatnya.

Apakah penulisan angka tersebut merupakan sebuah kesalahan dalam pembuatannya, atau memang sebuah patron kuno untuk angka romawi? Biarkan itu jadi misteri.

Sambil berfoto ria Bu Kanjeng menikmati keindahan langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih yang sangat cantik. Rasanya ia ingin berlama lama disana. Cukup 10 menit saja. Sisa 10 menit ia manfaat untuk beli kerudung dan bros. Bu Kanjeng tidak berani masuk toko fashion ia takut lapar mata dan tidak ingat waktu. Alhamdulillah apa yang diinginkan sudah sesuai dengan anggaran yang ada.

Mereka segera masuk mobil dan meluncur menuju Bandara, butuh waktu 3 jam. Bu Kanjeng sempat sport jantung, ketika ada kemacetan. di jalan. Walaupun bukan hari libur Bukittinggi di jalan- jalan tertentu memang macet atau padat merayap.

Sepertinya Bu Kanjeng harus puas dengan budaya literasi di sepanjang jalan yang dilalui. Mata dan batin ya hanya membaca tulisan toko yang menjual aneka makanan juga fashion khas Sumatera Barat. Untuk mengabadikan keindahan alam ia cukup membuat video dan foto ria.

Berpacu dengan waktu. Suami Bu Ides perlu didaulat sebagai pilot keren yang membawa kami semua. Tepat 14.00 kami tiba di bandara. Satu spot untuk makan basamo hilang. Bu Desi lari beli nasi bungkus khas bandara. Sementara Bu Kanjeng tidak bisa menunggu, namanya sudah dipanggil untuk segera masuk ke dalam pesawat.

Tak lama Bu Kanjeng duduk pesawat pun take off.. Alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat. Bu Kanjeng masih sempat membuka hape dan melihat nasi padang khas Bandara yang bukan rezekinya.

_Antara Padang Solon 16 Desember 2019_


4 Komentar

Senja di Istano Basa Pagaruyung*

_Sri Sugiastuti_

Alhamdulillah entah sudah berapa kontainer Bu Kanjeng bersyukur setiap kali bisa wisata budaya di belahan bumi nusantara. Ya Allah telah mengizinkan perjalanan yang memudahkan semua urusan Bu Kanjeng dan mitranya. Mereka Bu Ides dan suami juga Bu Desi dan dua krucil pengwalnya. Setelah menempuh perjalanan 5 jam akhirnya sampai juga lokasi wisata budaya Sumatera Barat.

Bu Kanjeng dan rombongan tiba di Istano Basa Pagaruyung jelang senja saat usai turun hujan. Hatinya sempat cemas khawatir sudah tutup dan menjadi penyesalan tidak bisa berwisata budaya.

Jujur Bu Kanjeng bisa mengunjungi Istano Basa Pagaruyung memang tidak terlalu berharap. Tujuan utama adalah berbagi ilmu menularkan virus cinta literasi di komunitas yang diikuti. Perkara akhirnya ia bisa sampai di Istano Basa itu semata bonus dari Allah yang meringankan hati Bu Ides dan Bu Desi mengantar Bu Kanjeng ke lokasi tersebut.

Sejak zaman dahulu bumi Nusantara memiliki budaya yang menarik. Bentuk bangunan rumah, adat istiadat, lagu daerah, kuliner juga pesona alam yang digabungkan dengan budaya. Semua perlu dikelola dengan baik. Agar tetap terjaga dan diberdayakan sesuai dengan fungsinya. Itu yang jadi pemikiran Bu Kanjeng.

Berhubung Bu Kanjeng tiba saat senja, tentu saja tidak sepuas bila berkunjungnya di siang hari. Bu Kanjeng ingin mengabadikan senja indah saat hujan sudah reda sangat menawan. Pergantian dari sore ke malam itu sangat indah. Dengan latar belakang Istano Basa yang menyatu dengan alam sungguh tak bisa dilukiskan dengan untaian kata. Adanya hanya bersyukur dan bersyukur.

Bu Kanjeng diminta segera masuk ke lantai dasar memiliki model baju yang akan dikenakan untuk berfoto. Ia memilih warna merah. Dengan membayar 35 ribu rupiah tanpa melepas baju yang dikenakan. Ia terlihat semakin bulat dan sudah mirip dengan Bundo Kandung. Dipilihnya spot untuk foto sampai puas. Jepret sana sini dengan kesan tergesa. Baik indoor maupun outdoor.

Sambil mengagumi bangunan Istana Pagaruyung, Bu Kanjeng mendengarkan Informasi dari sohibnya tentang Istana tersebut.

Istana Pagaruyung yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dibangun pada zaman Belanda. Konon Istano Basa yang asli dulu terletak di atas bukit Batu Patah. Tragisnya, Istana Pagaruyung yang asli ini terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah tahun 1804 pada zaman Belanda. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar pada tahun 1966.

Konstruksi Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di lokasi istana yang asli, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya.

Karena Bu Kanjeng dan rombongan datang sudah senja, loket masuk sudah tutup. Terpaksa main mata dengan petugas karcis. Ada dana yang dibayar dan masuk dana pribadi. Sungguh ini tidak mendidik. Kesannya jadi pungli. Tapi ini solusi sesaat. So Bu Kanjeng dan rombongan bisa masuk area Istana Pagaruyung.

Karena Bu Kanjeng pakai guide lokal, ia tidak kurang akal. Untuk melengkapi tulisan ini ia ambil info dari suara.com. Alhamdulillah informasinya bisa berbagi disini.

Istana Pagaruyung ternyata terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar, dan sebuah singgasana di bagian tengah. Jika Istana Pagaruyung dilihat dari luar, maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya.

Nah Bu Kanjeng sempat berfoto ria di anak tangga, di jendela gadang juga di meja khusus dengan latar belakang ormanen yang cantik. Tak lupa ia foto dengan patung atau replika dari Datuk dan keluarga raja.

Bu Kanjeng melihat beberapa ruang ada bagian yang disebut sebagai anjuang. Keberadaan anjuang adalah salah satu ciri khas rumah adat Koto Piliang. Anjuang yang berada di sebelah kanan disebut sebagai anjuang Rajo Babandiang sedangkan yang di sebelah kanan disebut anjuang Perak. Anjuang ini adalah ruang kehormatan bagi keluarga kerajaan.

Masih dari hasil ngintip di Internet Bu Kanjeng jadi paham silsilah penempatan kamar yang ada di istana Pagaruyung. Pada bagian tengah terdapat 7 kamar tidur untuk anak raja yang sudah menikah. Anak yang paling tua menempati kamar yang paling kanan, begitu seterusnya sampai anak yang termuda menempati kamar yang berada paling kiri. Tepat di tengah ruangan, persis di depan pintu masuk terdapat sebuah singgasana yang disebut sebagai Bundo Kanduang karena yang duduk di sana memang ibunda raja.

Pantas ketika Bu Kanjeng mengirimkan fotonya yang berbaju Minang dipanggil sebagai Bundo Kanduang.

Bundo Kanduang yang asli akan duduk di sana sehari-hari untuk mengawasi setiap tamu yang datang. Apabila kerajaan mengadakan perjamuan atau rapat maka ibunda raja yang akan memastikan setiap orang duduk pada tempatnya yang benar, hidangan disajikan tepat waktu dan mengawasi apapun keperluan dalam ruangan sedangkan raja berada di anjuang Rajo Babandiang.

Sedang yang ada di lantai dua biasa disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah.

Adapun lantai tiga adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus Raja 3 selo. Raja 3 selo adalah institusi tertinggi dalam hirarki kerajaan Pagaruyung, berasal dari keturunan yang sama dan masing-masing bertugas untuk memutuskan perkara-perkara yang berhubungan dengan alam, adat dan ibadat.

Akhirnya Bu Kanjeng tidak penasaran lagi. Rombongan pun meluncur ke arah parkir mobil. Nah menuju ke arah sana walaupun sudah Rembang-remang, tetapi penjual buah lokal masih buka. Bu Kanjeng tertarik dengan buah sawo, alpukat dan mangga.

Setelah membeli buah secukupnya, Bu Kanjeng dengan hati lega dan rasa syukur yang luar biasa melanjutkan langkahnya menuju tempat kuliner.

Tanah Datar, 15 Desember 2019