Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Sepenggal Siang Di Kupang

Sri Sugiastuti

“Kupang aku datang dengan penuh harapan. Sahabatku, komunitasku, silaturahmiku, berbagiku, dan travelingku. Tetapi waktu begitu singkat, jelajahku, kegiatanku, kulinerku, dan city tourku?” Gejolak batin Bu Kanjeng berdendang penuh tanya. Sampai akhirnya biar Allah yang maha mengatur apa yang menjadi kodratullahnya.

Sampai pada titik ini, Bu Kanjeng selalu optimis dan bersemangat walau hanya 3 hari di Kupang ia ingin menorehkan sejarah singkatnya dalam tulisan. Bu Kanjeng ingin tiap detik yang dirasakan bisa menginspirasi pembaca juga mencerahkan. Ahay tentu ini bukan hal yang dipaksakan. Biarkan semua mengalir dalam sebuah tulisan.

Bu Kanjeng yakin ini bukan kebetulan tetapi lebih pada Allah lah yang menggerakkan hati keluarga Bu Syaidah mengantar dan mendampingi Bu Kanjeng selama di Kupang di sela kegiatan seminar dan Workshop di hotel Pelangi Kupang. Ia ingin waktu yang singkat di Kupang bisa berkualitas dan penuh manfaat.

Saat mengisi hari Ahad ceria di Kupang, sepulang dari pantai Lasiana membawa kisah pohon lontar, Bu Kanjeng transit sejenak di rumah Bu Syaidah sambil menunggu saat salat dzuhur. Bu Kanjeng yang fakir kuota karena sinyal 3 tidak ada, ia bisa menggunakan wifi rumah untuk berkabar ria dengan orang rumah. Dan yang terpenting berita penyebaran si Covid 19 dan kebijakan yang diambil pemerintah. Sungguh berita itu membuat hatinya was-was. Ia harus waspada dan jangan sampai terpapar virus Covid 19.

Alhamdulillah Bu Kanjeng bisa rehat sesaat. Usai salat dzuhur, syahibul bait menghidangkan semangok bakso lembut yang super yummy Pentolnya besar. Bu Kanjeng hanya sanggup menyantap 2 pentol. Sisanya masuk kotak tupple ware bisa untuk teman perjalanan. ( selalu ada celah untuk berhemat).

Suasana siang yang cerah di halaman menuju King Restro Kupang

Koper keluar dari kamar dan menempati posisi di mobil bagian belakang. Begitu keluar rumah, udara asli Kupang menyengat. Bu Syaidah dan keluarga mengajak Bu Kanjeng makan siang di King Restro yang letaknya di tepi pantai. Bu Kanjeng punya kesempatan makan siang di King Restro yang keren dengan nuansa bambu dan view yang memesona. Sepenggal waktu yang ada sebelum menuju bandara El Tari. King Restro memang salah satu distinasi yang direkomenasikan oleh salah satu peserta seminar kemarin.

Perkiraan Bu Kanjeng tidak salah, mobil menuju arah barat menyusuri jalan tepi pantai. Mereka melewati masjid raya yang semalam Bu Kanjeng diantar kesana untuk salat magrib. Seakan kembali menghapal jalan yang dilewati. Bedanya saat lewat malam hari dan siang.

Dalam hitungan 15 menit mobil berhenti. Bu Kanjeng dan Bu Syaidah turun menuju kios Se’i. Ada 2 bungkus kripik paru dan 1pak Se’i dibeli Bu Syaidah untuk Bu Kanjeng. Alhamdulillah.

Mobil kembali melaju menuju King Restro. Bu Kanjeng tidak menyia-nyiakan yang ada di depan matanya. Tadabur alam ala Bu Kanjeng mulai lagi. Ia membuat video juga menikmati suasana keindahan kehidupan di tepi pantai. Udara panas, langit cerah, lambaian gemulai daun lontar tertiup angin laut jadi bagian dari rasa syukur Bu Kanjeng saat berada di Kupang.

Memasuki area King Restro yang konsep bangunannya terbuat dari bambu kekaguman Bu Kanjeng bertambah. Apalagi letaknya yang menjorok ke pantai sangat memanjakan mata saat melihat laut lepas. Kalau bukan karena izin-Nya Bu Kanjeng tak akan sampai ke King Restro Kupang. Ini semua disadari Bu Kanjeng bagian dari ” Rahasia Silaturahmi” yang jadi potensi dirinya.

Andai Bu Kanjeng punya waktu yang longgar, pasti setiap sudut view di King Restro jadi korban jeprat jepret ala Bu Kanjeng. Kenyataannya ia cukup berswa foto ala kadarnya sambil memilih menu yang tertulis di buku menu yang tersedia. Keluarga Bu Syaidah dengan cepat memiliki menu yang diinginkan. Sementara Bu Kanjeng ingin sesuatu yang khas dari menu di King Restro.

Bu Kanjeng butuh gizi yang baik sebagai benteng pertahanannya agar terhindar dari virus Covid 19 yang sedang melanda dunia. Pesan Pak Kanjeng agar ia menjaga kebersihan dan kesehatan terutama daya tahan tubuhnya karena akan menempuh perjalanan pulang yang cukup jauh, apalagi harus transit di bandara Juanda Surabaya. Dan kota Solo dalam status KLB ( Kejadian Luar Biasa) Sudah ada korban dari penyebaran virus Covid 19.

Pertimbangan memilih menu sehat bermanfaat dan bisa jadi kekuatan untuk melanjutkan perjalanan agar sampai rumah dengan selamat, pilihan menu pun tertuju pada sepiring nasi putih, Se’i hot plate dan Banana float ice cream.

Sambil menunggu hidangan tersaji Bu Kanjeng meminta password wifi King Restro. Ya jaringan wifi ini sangat menolong Bu Kanjeng. Ia bisa Vicall dengan keluarganya di Solo, debgan Omjay sohibnya, juga dengan panitia workshop yang baru usai digelar.

Pesanan datang dan terhidang. Mata Bu Kanjeng terbelalak tak percaya, karena porsinya jumbo. Se’i Hot plate dan ice cream Banana flot meliriknya. “Ayo segera nikmati sensasinya. Se’i sapi khas Kupang akan segera dieksekusi.

Bersama Bu Syaidah yang berbaik hati mengantar Bu Kanjeng keliling Kupang

#Kupang 15 Maret 2020
#KLB di Solo
#King Restro Kupang

Bersambung


3 Komentar

Better Late Than Never

Sri Sugiastuti

Istilah Better Than Never memang mendunia untuk menyamakan istilah Mendingan telat daripada kagak. Seperti itu untuk mengumpamakan Bu Kanjeng yang bergelut di dunia tulis menulis yang bisa dibilang telat banget.

Bayangin aja, masak di umur 50 tahun, Bu Kanjeng baru belajar menulis ( Halo! Sebelumnya ngapain aja?) Ahhh… Bu Kanjeng jadi malu. Kasih tau ngga ya? Jujur kalau untuk melahap bacaan, dari mulai, koran, berbagai majalah, novel, sampai aneka buku pengetahuan hampir tiap hari Bu Kanjeng melahapnya.

Ya, jelas ketemunya buku dan membaca. Bu Kanjeng yang berprofesi sebagai guru ngga bisa jauh dari dunia baca dan tulis. Ternyata sebelumnya memang Bu Kanjeng mengalami ketidakseimbangan antara menulis dan membaca. Ia tidak mencoba menuliskan apa yang sudah dibaca. Sayang ia menyadarinya terlambat.

Keinginan Bu Kanjeng menulis sebenarnya sudah ada sejak SMP dengan bukti punya diary, punya buku kenangan yang ditulis teman-teman, punya koleksi buku bacaan, punya komunitas korespondensi dari nusantara juga negara tetangga yang masih terjalin hingga kini. Nah bibit inilah akhirnya jadi modal dan semangatnya untuk belajar menulis.

Bergulirnya waktu, saat ia mendapat kesempatan kuliah S2 di tahun 2007 diikuti merebaknya dunia maya dan adanya medsos tuh. Nah ambil S2 Itu juga suatu obsesi Bu Kanjeng yang terpendam tapi untuk meraihnya hanya setengah hati.

Namanya mahasiswa S2, Bu Kanjeng harus melek IT dong. Kenalanlah ia dengan Internet, kenalan juga dengan blog keroyokan sekelas Kompasiana, dan ada Guraru juga yang baru-baru ini Gurusiana.

Aktivitas Bu Kanjeng yang baru itu dampaknya luar biasa. Semangat terpacu, punya banyak teman dan ngga merasa tua. Tiap hari punya kesempatan nulis status di medsos. Nulis dan baca postingan teman di blog. Pokoknya asyik aja. Setelah itu kok ya berani ikut lomba nulis tentang “Diary Ketika Buah Sakit”. Tulisan ini True story yang mengharu biru. Tulisan saat Bu Kanjeng kehilangan buah hatinya. Kisah seorang bocah imut yang berusia 4 tahun harus meregang nyawa melawan virus nyamuk DB. Bu Kanjeng harus rela ketika Allah memanggilnya. Kisah yang ditulis itu menang peringkat 3. Tentu saja hati Bu Kanjeng membuncah.

“Aku bisa nulis tah” dan Tulisanku bisa menang. Alhamdulillah.

Sejak itu harapan Bu Kanjeng jadi penulis semakin menggebu. Termasuk segudang harapan lainnya seperti bisa berdakwah lewat tulisan, keinginan jadi novelis, jadi motivator dan jadi narasumber yang keliling nusantara untuk berbagi.

Di dalam hati Bu Kanjeng selalu bertanya Apa bisa? Caranya bagaimana? Ia harus yakin dan mengubah mindsetnya bahwa ia bisa. Banyak celah dan peluang yang bisa diambil bila mau. Ya kata kuncinya “Mau”.

Akhirnya Bu Kanjeng menyadari, ternyata di saat ia baru mimpi dan punya niat untuk mewujudkannya, ada banyak jalan. Tergantung mau mengambilnya atau tidak. Seberapa kuat usaha untuk mewujudkan mimpi itu.

Bu Kanjeng punya jejak langkah yang bisa dicontoh. Ia mau berproses. Yang diambil lumayan
banyak. Intinya, apakah Bu Kanjeng berproses berdarah-darah? Lah iya lah.

Bu Kanjeng pernah belajar Web dengan bayar 1 juta dan gagal. Mentornya cuma datang 2 kali. Setelah itu Good bye. Padahal perjanjiannya sampai bisa dapat duit dari blog/Web.

Pernah juga Bu Kanjeng disarankan membuat buku memoar. Katanya tulisan Bu Kanjeng bagus, mau dibantu dihubungkan dengan penerbit Gramedia. Wah Bu Kanjeng langsung terbakar semangatnya. Ia berhasil menulis ketika dilayout pdf sampai 418 halaman.

Naskah itu diprint lewat dengan jasa700 ribu. Katanya dikirim ke penerbit Gramedia. Saat ditanya kapan dan prosesnya bagaimana eehhhhh ternyata zonk. Telan saja kata batin Bu Kanjeng. Mungkin prosesnya harus begitu.

Ada lagi yang bikin nyesek hati Bu Kanjeng saat jadi penulis pemula. Sebagai penulis ia dapat order nulis 6 buku / naskah jual putus. Bu Kanjeng menerima DP satu juta rupiah. Ia pun ngebut menyiapkan banyak referensi. Dalam waktu 2 bulan ngebut dan tulisan selesai. Naskah lengkap segera kirim. Ketika ditagih uang kekurangannya, susahnya minta ampun. Dan sampai saat ini ngga ada kabarnya. Mungkin akan ditagih Bu Kanjeng kelak di akhirat. Ahh engga lah. Mending dkikhlaskan saja. Kata hatinya yang paling dalam.

Menurut Bu Kanjeng berproses dari manusia biasa dan jadi penulis pemula itu gurih gurih sedap. Bu Kanjeng harus bisa membaca dengan kacamata 5 dimensi.

Bu Kanjeng berproses diawali menulis content writer yang dibayar 15 rb untuk nulis 500-700 karakter dengan berbagai tema yang kadang sangat asing dengan dunia pendidikan. Bagi Bu Kanjeng Ini juga sangat mengasyikkan. Ia kerja secara online. Setor tulisan, honor masuk rekening. Besar kecil rezeki yang diterima tetap disyukuri.

Dari honor nulis, dari uang tunjangan sertifikasi, Bu Kanjeng bisa menyisihkan untuk mengupgrade diri. Ia belajar baik secara offline atau online. Dari hasil belajar itu Bu Kanjeng punya banyak komunitas dan semangat belajar semakin kencang. Untuk semua ikhtiar itu, Allah berikan banyak reward. Bu Kanjeng dapat kesempatan menyusun buku ajar permintaan dari penerbit nasional sekelas Erlangga. Ada kerja sama selama 5 tahun dimana tiap semester mengalir dana ke rekening tabungannya. Lumayan lah kalau dihitung ada 9 digit.

Bu Kanjeng merasa uang yang ada itu full barokah. Sebagian bisa untuk biaya sekolah anak, silaturahmi dan berbagi. Intinya penulis itu memang orang kaya. Ia punya teman di mana saja, mudah bergaul dan merasa sangat bahagia.

Pada Akhirnya Bu Kanjeng mulai berani menerima tawaran sebagai editor, ghost writer, narasumber atau sekedar berbagi untuk membantu proses kelahiran sebuah buku. Ini pekerjaan yang membahagiakan. Bagaikan malaikat tanpa sayap yang bekerja dalam senyap. Ketika buku terbit dan sampai ke tangan penulis dengan senyum bahagia mereka. Jadi kebahagiaan tersendiri di hati Bu Kanjeng.

Bu Kanjeng menyadari sebagai penulis pemula yang berproses baru 10 tahun rasanya masih terlalu dini untuk leha-leha. Masih harus banyak membaca dan belajar. Belajar dari mana saja, kapan saja dan dimana saja. Adapun kerikil penghalang yang kadang membuat resah dan kecewa tidak usah digagas. Begitu yang jadi semboyan Bu Kanjeng.

Berbagilah suka dukamu. Bila ada pengalaman buruk juga bagikan agar yang lain waspada dan tidak ada korban. Atau setidaknya bisa mengingatkan bahwa budaya baca itu penting. Kadang karena malas membaca secara runtut menyebabkan pesan tidak sampai dan akhirnya gagal paham. Yang terjadi bertanya lagi dan mengulangi lagi. Pesan Bu Kanjeng yang sok bijak.

Yuk berproses biar naik kelas dari penulis pemula jadi penulis mulia. Semoga. Keren juga ya pesan Bu Kanjeng.


1 Komentar

CARAKU MENULIS SETIAP HARIOleh Mudafiatun Isriyah

Judulnya sudah sangat menarik. Ternyata hasil belajar online via WA asyiknya. Nah ini dia hasilnya. Yuk. Disimak. Pasti banyak manfaat nya

Bersama komunitas PGRI Kupang 14 Maret 2020

Selasa, 17 Maret 2020

Tema: Cara Praktis Menulis Buku

Nara sumber: Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd

Oleh: Mudafiatun Isriyah

Menulis merupakan kecerdasan Intelektualitas dan Kematangan Berpikir.

Keinginan menjadi penulis diantara kita sangat banyak, namun hanya sedikit yang mewujudkannya. Banyak ditemukan kendala dan hambatan yaitu: 

  1. Tidak memiliki ide
  2. Tidak suka menulis
  3. Tidak berani menerima kritik
  4. Tidak memiliki waktu
  5. Merasa tidak berbakat

Kendala faktor internal yaitu

  1. Motivasi
  2. Etos yang kuat

Keduanya berjalan akan menghasilkan karya tulis. Seperti bagan di bawah ini

Menulis di awali dari:

  1. WHY : Mengapa kita menulis
     Lebih bersifat teknis dan jawaban

nya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan, 

  1. HOW:  Bagaimana cara menulis Lebih filosofisdan berhubungan  dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia
  2. ALASAN:

mengapa kita menulis bisa sangat beragam,misalnya: 

Lebih bersifat teknis dan jawaban

nya cenderung mudah dipelajari 

melalui proses latihan, 

Lebih filosofis dan berhubungan  dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.

mengapa kita menulis bisa sangat beragam, misalnya:

1.      Orientasi Material

Tujuannya mengejar uang, bisa dari royalti, fee pembicara dan semacamnya. Apalagi jika berhasil  menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar

2.      Orientasi Eksistensial

Tujuannya mengejar popularitas dan pengakuan Dari masyarakat

3.      Orientasi Personal

Bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk Mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, Pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.

4.      Orientasi Sosial

Tujuannya untuk mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.

5.      Orientasi Spiritual

Tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik.

Motivasi diri yang kuat disebutkan dalam hadis nabi  “khoirunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lain).

Sebagai penulis pemula:

Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh  seseorang untuk menjadi Penulis Dari Nol?

Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang penulis yang baik yaitu:

1. Membaca

Untuk menjadi seorang penulis yang baik, kita perlu membaca banyak buku baik yang bersifat general (umum) maupun spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi kita)

2. Diskusi

Hal ini penting karena ide dan gagasan seringkali muncul saat kita mendialektikakan bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri.

Bila diperlukan, ada baiknya kita memiliki mentor menulis yang tepat.

3.  Mengamati dan Merasakan (Look & Feel)

 Baik secara langsung maupun apa yang kita lihat dan baca di media 
 (TV, radio, internet, medsos dll)?

 4. Sosialisasi (Socialize)

Berapa banyak pengetahuan, pengalaman dan kisah orang lain yang dapat kita serap?

A.      Persiapan Menulis ( Writing Preparation)

Kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam proses ini antara lain:

1.      Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide

PppPada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. 
Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming.

2.      Menentukan Tujuan, Genre dan Segmen Pembaca

Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. 
Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable

3.      Menentukan Topik

      Menentukan Topik

Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. 
Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable

4.      Membuat Outline

Outline merupakan bentuk kerangka tulisan. 
Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja.

Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.

5.      Mengumpulkan Bahan Materi/Buku

Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan.

Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.

B.     Bagaimana Cara Menulis

Caranya, Just do it – lakukan saja

Penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada:

1.       ketekunan (persistence) dalam proses menulis.

2.      Menulis itu harus sabar.

3.      Tulislah semampu kita terlebih dahulu.

4.      Jangan berfikir harus sempurna,

5.      jangan terlalu idealis.

Bayangkan jika buku kita best seller 
kita akan jadi penulis populer, diundang ke berbagai acara, berkesempatan memiliki relasi yang luas, royalti dari buku kita dapat membantu mencukupi kebutuhan hidup, untuk anak-anak atau untuk membantu orang tua kita. Manfaatnya bisa untuk jangka panjang.

Menulis buku jika dimaknai sebagai 
amal shaleh yang  tidak pernah terputus sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain, maka kita telah menanamkan investasi besar 
untuk kehidupan akhirat.

A.    Langkah selanjutnya (Next steps)

Dalam proses menulis, 
Yang perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1.      Setelah kita menyelesaikan naskah kasar
dari buku yang kita tulis (rough draft),

2.      tahapan yang harus dilewati hingga terbitnya buku kita adalah:

a)      Editing

b)      Rivising

c)      Publishing

1.       Penyuntingan (Editing) Yaitu langkah perbaikan draf naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahapan ini membahas tentang: 
 a. Membaca ulang
 b. Menyempurnakan draf

Kegiatan menyempurnakan draf dapat dilakukan melalui: 1)Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Berdasarkan PUEBI tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan: Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda bacadan penulisan unsur serapan, 2) Sistematika penulisan, 3) Isi tulisan.

  1. Revisi (Revising) Yaitu langkahmemperbaiki naskah

Tahapan ini Membahas Tentang:

 a. Mengubah beberapa bagian naskah.

  b. Melengkapi naskah  
1) Menambahi materi yang diperlukan tapi belum terdapat di dalam naskah.
 2) Menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap tidak perlu.

c. Mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulis.

  1. Publikasi (Publishing) Yaitu langkah mempublikasikan karya/tulisan

Tahapan ini Membahas Tentang:
a. Pengiriman naskah
Dalam mengirimkan naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan
agar bisa memilih jalur penerbitan yang sesuai dengan pilihannya.

Dalam hal ini, ada dua  jalur penerbitan yang bisa dipilih, yaitu:
1) Major Publishing (penerbit umum)
2) Self Publishing (penerbit independen)

Tahapan ini Membahas Tentang:       

b. Pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading)
Proses pracetak dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses.

penyuntingan. Proses ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan ISBN (international standard book number).

Proses ini melibatkan pihak lain. 
Penulis bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. 
Untuk membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. 
Sinopsis ini memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.

Tahapan ini Membahas Tentang:

c. Pencetakan 
Proses cetak merupakan proses akhir dalam penulisan buku. Ada        beberapa alternative pencetakan buku, melalui penerbit mayor                atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak maupun        digital. 

Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

Tahapan ini Membahas Tentang:

d. Promosi dan distribusi
Buku yang telah tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi.                           

Promosi bisa dilakukan melalui media sosial (Facebook, Instagram,   WhatsApp, atau yang lainnya). 

Promosi juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak                seperti koran, majalah, buletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau yang lainnya.

Kesimpulan

1.  Menulis itu mudah

2. Ubahlah mind set Anda agar mampu untuk menulis

  1. Jadilah diri sendiri dan tulislah apa yang Anda Sukai dan Anda kuasai

Narsum Ibu Sri Sugiastuti

Sumber

Mudafiatun Isriyah

Indahnya berbagi bersama Prof Ign Wardiman di hotel Pelangi Kupang NTT 14 Maret 2020


3 Komentar

Solo Surabaya Kupang

Oleh Sri Sugiastuti

Bila hati sudah berniat maka berbuatlah dan ikuti prosesnya.

Jejak literasi Bu Kanjeng semakin memanjangkan kaki ke arah timur. Bila akhir Desember ia bergerak ke barat menuju Sumatera Barat tepatnya Dharmasraya, maka di tahun cantik 2020 ada undangan ke ibu kota NTT pun diambil demi penyebaran virus.cinta literasi

Ada Bu Nia dan Bu.Retno dari Kupang, yang memiliki gagasan cerdas dan bernas atas nama Pengurus Besar PGRI dirasa perlu ikut bertanggungjawab agar virus cinta literasi menyebar dan menular sehingga menjadi menulis dan membaca sebagai gaya hidup guru.

Keberadaan Bu Kanjeng di Kupang pun karena cinta Literasi. 50 Buku seberat 12 kg sudah berangkat sejak hari Selasa pagi dengan harapan saat Bu Kanjeng tiba di Kupang, buku pun sudah siap.

Hiruk pikuk suasana bandara Juanda dan lautan manusia dengan berbagai tujuan seakan jadi simbol betapa Indonesia sebagai negara besar dan luas. Punya mobiltas yang tinggi di.bidang transportasi.

Dengan berbagai pertimbangan dan mengikuti kata hati Bu Kanjeng menghindari transit di bandara Ngurah Rai Bali. Fenomena Covid 19 jadi alasannya. Ia memilih penerbangan langsung Surabaya Kupang pulang pergi. Ada transportasi Kereta Api, ada sahabat literasi di Surabaya dan ada semangat traveling yang membara.

Adanya virus Corona yang melanda dunia tak menyurutkan semangat Bu Kanjeng dalam berliterasi dan berbagi. Potensi diri bersilahturahmi , menjalin persaudaraan dan berbagi begitu kuat di hatinya.

Perjalanan Solo Surabaya selama 4 jam dilanjut pertemuannya dengan Pak Marjuki dan Mba Ririn yang biasa berbagi di group jadi penyemangat langkah Bu Kanjeng menjumpai sahabat barunya di NTT.

Surabaya yang berkembang pesat membuat Bu Kanjeng terkaget-kaget. Maklum Bu Kanjeng terakhir ke Surabaya 1984, saat ia masih kuliah.di semester.akhir

Alhamdulillah Bu Kanjeng merasakan banyak kemudahan. Di stasiun Gubeng ada literasi saat Psk Marjuki dan Mba.RIrin menjemputnya. Mereka sempat.foto bareng dengan buku kebanggaan.

Malam Sudah larut pertemuan singkat harus diakhiri. Bu Kanjeng harus cari tempat.istirahat yang dekat dengan bandara.Karena pukul 06.55.pesawat Lion Air akan membawanya ke Kupang.

Berangkat ke Bandara lebih awal
Bu Kanjeng sempat berbagi.grab saat menuju Bandara..Lumayan bisa berhemat karena ada yang membayar uang parkirnya.

Karena sudah pegang check in online, rasanya lega melangkah.walau harus.antri lagi untuk diprint. Penerbangan dengan indahnya gugusan awan yang.cantik perpaduan warna putih bersih dan biru sungguh memesona.

Mata dan hati serasa mendapat vitamin yang luar biasa.dari tadabur.alam menuju NTT, tepatnya Kupang. Dan larangan membuat foto dipesawat pun dilanggar dan keindahan itu pun abadi terekam.dan terdomentasi .

Pukul 10.00 WITA Bu Kanjeng tiba di El Tari Kupang. Dua Mak Cantik dari.PGRI Kupang menyambut pelukan hangat Bu Kanjeng yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kupang.

Mereka tidak langsung mengantar Bu Kanjeng ke hotel tetapi menuju kampus UPG.1945 untuk menemui Pak Rektor dan staf. Sambutan hangat dan jabat persahabatan beraura positif mengaliri perjumpaan ini.

Solo,Surabaya Kupang dalam catatan literasi Bu Kanjeng. Maret 2020

Bersambung


Tinggalkan komentar

Buku atau Susu

Oleh Sri.Sugiastuti

Buku adalah jendela ilmu dan susu minuman sehat penuh semangat. Apa ini ada hubungannya? Ya pasti ada.Dua benda itu menarik untuk jadi ide menulis Bu Kanjeng.

Usai menularkan virus cinta menulis di acara Seminar dan Workshop yang digelar pengurus PGRI Kupang tanggal 14 Maret 2020, Bu Kanjeng sempat membahas Buku yang jadi salah satu produk setelah workshop.

Ceritanya pihak panitia mendapat banyak sponsor dalam.seminar tersebut. Ada dari Epson, Gadget powerbank, sampai produk susu yang beli satu gratis satu. Acara berlangsung sesuai rundown walau agak molor sedikit.

Bu Kanjeng sebagai pembawa virus cinta literasi dengan semangat 45 di hadapan peserta memotivasi sekaligus memberi materi agar peserta bisa mengubah mindsetnya tentang literasi dan mampu menulis buku. Tentu saja Bu Kanjeng tidak hanya modal PPT, atau tayangan slide dan video. Penyampaian materipun dijelaskan secara cetar sampai pada buku yang bisa dipakai untuk referensi. Buku tersedia di meja bersanding dengan susu

Dari awal hingga akhir peserta terlihat serius dan penuh perhatian. Walaupun dalam.pengamatan antar mereka ada yg asyik berWA ria atau main games. Tetapi dalam pengamatan Bu Kanjeng everything is running well Lalu bagaimana nasib buku dan susu yang dipasang sejajar? Ternyata susu laris manis sedang buku masih menunggu takdirnya.

Artinya bisa ditebak penyebabnya. Lebih dibutuhkan susu yang dijual promo khasiat langsung terlihat. Sedang buku untuk melahap dan mencernanya perlu waktu. Bahkan buku yang didapat gratis pun masih rapih dengan plastiknya tak tersentuh. Itu suatu fakta bahwa orang Indonesia lebih suka menonton daripada membaca.

Itu suatu kenyataan yang harus diterima Bu Kanjeng sebagai duta Bunda Baca yang hatus bisa mengedukasi para ibu agar anggaran beli susu dan buku seimbang. Diharapkan dengan minum susu fisik kuat hingga mampu membaca.dan akhirnya mencapai keinginan bisa menulis.

Bu Kanjeng boleh mimpi sebelum tidur.Selamat malam teman.

Solo,16 Maret.2020
Curhat malam
Sri Sugiastuti mendidik dengan hati
Pegiat Literasi Nusantara


Tinggalkan komentar

Rela Dimadu Demi Anak-anak

Sri SugiastutiSisi lain dari sosok seorang ibu tak pernah diduga endingnya. Ia dijadikan Allah sebagai malaikat bagi anak-anaknya. Sampai Rasul pun menekankan kata: “ibumu, ibumu, ibumu.” Tiga kata itu untuk siapa orang yang harus dihormati di dunia ini.Beliau sudah tiada sebelas tahun lalu. Tepatnya 8 Mei 2008. Di usia 71 tahun lebih 2 bulan. Memang bonus usia yang Allah berikan padanya cukup banyak. Namun di sisa usianya ia meregang nyawa setelah melawan penyakit borongan yang diderita.Semangat beliau untuk bisa sembuh sangat luar biasa. Kami tiga orang putra putrinya ikut ikhtiar, dengan doa dan merawatnya sepenuh hati. Apa yang kami berikan tentu tak sebanding dengan apa yang diperjuangkan beliau untuk kami bertiga. Beliau sosok ibu yang tegar, cekatan, pintar cari rezeki, humble, suka menolong, tegas, disiplin, keras, dan sedikit otoriter.Beliau bisa memiliki sifat dan sikap yang luar biasa itu, tentunya ada pemicunya. Ya. Di usianya yang masih remaja beliau sudah yatim piatu. Ia harus rela ikut budenya penjual beras di salah satu pasar di kota Solo. Gemblengan budenya yang cukup keras membuatnya kuat. Lulus SMP beliau masuk sekolah perawat di Semarang.Ia bertemu jodoh pun di Rumah Sakit. Tempat dia bekerja setelah lulus sekolah perawat tahun 1959. Berjodoh dengan lelaki yang memberikan 3 anak. Sayang jodohnya singkat. Ia harus sanggup menghidupi dirinya sendiri dan ketiga anaknya yang masih usia balita.Statusnya yang janda sering diganggu pria iseng, membuatnya ambil keputusan rela dinikahi oleh pria yang sudah beristri. Ini bukan pilihan yang tepat, secara materi dia bisa menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Tetapi ia ingin status yang lebih dihormati daripada menyandang status janda.Anehnya ia bisa rukun dengan istri tua. Ayah tiri kami punya 5 anak dari istri terdahulu yang biasa kami panggil Bude. Sedangkan dengan ibu kami tidak dikaruniai anak. Anak-anak Bude, biasa memanggil ibu ku dengan panggilan Bulek.3 anak dari ibuku dan 5 anak dari Bude hidup rukun walaupun tidak satu rumah.Kadang kalau liburan kami saling berkunjung atau liburan bareng mengunjungi sanak saudara di Solo atau pun di Temanggung.Ibu seorang pekerja keras. Ia punya klinik pengobatan di rumah. Selain itu ia punya jadwal keliling kampung seminggu 2 kali mengunjungi pasiennya yang tidak bisa datang ke rumah. Ibu naik sepeda onthel. Sore hari ia pulang dengan oleh-oleh yang selalu dinanti anak-anaknya. Ada pisang kesukaan adikku yang paling kecil, ada biskuit regal kesukaanku juga. Kue soes pesanan adik perempuanku.Ibu akan marah besar kalau sore hari beliau pulang, kami belum mandi. Jadi kami tidak pernah menunda waktu mandi kami, kalau ingin selamat tidak kena marah ibu. Malam hari saat kami selesai belajar, ibu meminta kami untuk membaca koran dengan suara keras. Bila ada artikel yang menarik pasti ibu membahasnya.Kesibukan ibu dalam mengais rezeki memang luar biasa. Walaupun statusnya punya suami tapi urusan nafkah dirinya dan anak-anaknya cukup dari rezeki yang diperoleh bukan dari suaminya.Aku ingat saat ibu cari pinjaman mobil sedan plus sopir dari salah satu pasiennya. Ibu khusus ingin mengajak piknik anak-anaknya ke Lido Sukabumi. Kadang kami diajak ke Hotel Indonesia untuk melihat pertunjukan atau kalau sekarang istilahnya konser Hentje penyanyi dari Belanda yang sedang naik daun.
Untuk pertama kali kami paham naik lift. Atau sesekali ibu ngajak kami ke pusat perbelanjaan “Sarinah”. Kami masih SD walaupun dari keluarga yang pas-pasan, kalau untuk pengetahuan dan majunya pendidikan ibu sangat perhatian.Ibu ingin anak-anaknya punya nasib yang lebih baik darinya. Sejak kecil aku dan adik-adik sudah diajarkan bagaimana, menjaga kerapihan rumah, punya tugas masing-masing saat libur maupun bangun tidur. Tugasku nyemir sepatu, adikku menyapu dan mengelap jendela dan meja kursi. Ada juga yang nyapu halaman. Semua dapat tugas.Pukul 06.00. sarapan sudah tersedia tak lupa cangkir kami yang berisi susu harus diminum. Menu sarapan kadang diganti dengan roti tawar disemir mentega dan diisi meses. Kalau ada nasi sisa malam, ibu dibantu mbok Kem membuat nasi goreng komplet, ada telur, abon, kerupuk dan tomat. Walaupun kata orang kalau sarapan nasi goreng bikin ngantuk tetapi tidak masalah untuk keluargaku.Cara ibu mengjariku menghargai uang dengan menyuruh aku ke pasar.. Saat itu usia ku 10 tahun kelas 4 SD. Ibu sudah siap dengan daftar belanjaan yang harus aku beli di pasar. Ada minyak goreng, gula pasir pokoknya sembako. Aku harus tahu harga saat itu, dan jangan pernah salah hitung. Semua harus jelas. Termasuk uang kembalian.Menurutku ibu itu luar biasa ilmu parentingnya. Untuk mengajari kami bersyukur salah satunya dengan banyak memberi keringanan pada pasiennya yang datang ke tempat praktiknya. Salah satu keringanan yang diberikan, banyak pasien yang datang tidak bawa uang, alias minta gratis atau membayarnya kalau sudah punya uang.Kadang ada juga yang berobat pagi hari tetapi belum sarapan. Karena ibu harus menyuntik pasien itu, biasanya ibu akan ke dapur, membuatkan teh manis dan nasi sepiring lengkap dengan lauknya . Setelah kenyang baru pasien itu diobati dan disuntik.Banyak hal yang bisa kukenang dari ibuku sayang. Karena mobilitasnya cukup tinggi tak heran kalau ibu sering capek. Akibat capek, ibu punya kebiasaan suka dipijat atau tiga anaknya yang masih di SD, sering mendapat tugas memijat dengan kaki, kami menyebutnya di injak- injak. Saat memijat ini lah seringkali proposal ku muncul untuk minta ini itu keperluan yang aku butuhkan. Bisa sepatu baru, uang untuk bayar piknik, atau tas baru.Ibu sangat piawai dalam menanggapi proposal anak-anaknya.
” Tenang ya Nduk, bulan depan ibu dapat arisan nanti uangnya sebagian bisa untuk bayar piknik.”
Atau di lain hari ibu akan berkata: ” Masih banyak pasien ibu bulan lalu yang pesan obat dan berobat tapi belum bayar, mereka janji minggu ini mau bayar. Besok ibu kasih catatannya dan bantu ibu menagih ya ke rumah bu Halimah, bu Hasan, juga bu Darto! ” Besoknya ibu sudah menyodorkan daftar tagihan yang harus aku bawa dan pergi ke rumah orang tersebut untuk menagihnya.Ibuku punya misi ke depan yang super demi kemajuan pendidikan anak-anaknya. Aku yang masih duduk di kelas 6 SD, diikutsertakan kursus bahasa Inggris bersama program dewasa. Ibu juga mengajarkan tata krama Jawa yang luar biasa dan sangat jarang digunakan di lingkungan tetangga yang tinggal di Jakarta.Menjelang ketiga anaknya tumbuh dewasa ibu juga ikut menaruh perhatian dengan 5 anak tirinya. Kami tumbuh bersama walau beda rumah dan lumayan berjauhan. Kami berkumpul saat Liburan, hari raya atau acara keluarga lainnya. Sekolah kami disesuaikan dengan minat dan hobi masing-masing. Ada yang STM, Sekolah perawat, sekolah Sosial dan SMA.Hampir semua anak kandung dan anak tirinya dikawal ketika mencari sekolah ke jenjang sekolah menengah. Ibu juga paham mana sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Aku merasa beruntung bisa sekolah di SMAN favorit pada zamannya. Bersekolah di sekolah favorit tentu ada plus minusnya. Sekolah favorit didominasi oleh anak-anak orang kaya. Perlengkapan sekolah yang dipakai juga branded.Aku bisa banyak belajar dari keadaan yang ada. Dan yang utama aku jadi lebih bersyukur.. Aku punya seorang ibu yang hebat dan berhati mulia. Ia rela dimadu agar status anak-anaknya di mata umum punya sosok seorang bapak yang melindungi.Untuk urusan rohani, awalnya ibu memang kurang paham urusan Akherat. Tetapi ia ingin anaknya pintar ngaji. jadi aku dan adik-adik. Sempat sekolah madrasah di siang hari, belajar ngaji dengan ustadzah yang tinggal di dekat rumah. Tetapi karena kurang fokus jadi belajarnya kurang optimal.Ibu selalu membuat hatiku terharu. Saat aku lulus sma dan harus kuliah, waktu itu belum zaman online. Ibu lah yang antri di UNS untuk mendapatkan selembar formulir pendaftaran. Ibu juga bersusah payah menengok aku di tempat KKN yang ada di perbatasan Karanganyar dan Wonogiri yang angkutan umum adanya di hari Pasaran. Yang jaraknya 70 km dari Solo. Padahal sampai disana aku tidak ada.Ibu juga yang sangat mengerti perasaanku yang sedang patah hati, karena lelaki yang aku cintai adalah pecundang. Kuliah ku yang sukses tidak diiringi dengan kesuksesan jodoh. Hanya ibu yang bisa mengiburku. Termasuk mencarikan tempat mengajar sebagai guru wiyata bakti di salah satu sekolah di Jakarta.Urusan perjodohan pun ibu yang paling khawatir. Padahal aku yang sedang patah hati baik-baik saja. Kunikmati sebagai guru muda dan tetap membuka diri. Dan di usia ku jelang 25 tahun ada seorang duda beranak tiga yang langsung melamarku lewat ibuku. Anehnya ibu berharap aku mau menerima lamaran orang itu.Jujur saat itu yang terbayang bukan gantengnya sang duda dengan kumis hitam, gigi rapih dan hidung standar. Tetapi naluri keibuanku yang muncul. Kubayangkan anak berusia 7 tahun, 4 tahun dan terkecil 1 tahun, mereka tidak punya ibu. Bisa kah aku menjadi ibu tiri yang baik. Hanya kepada ibu juga aku membuat perjanjian bahwa sepenuhnya aku mohon dukungan dan doa restunya. Bila suatu saat terjadi yang tidak diinginkan ibu yang menyelesaikan atau mencarikan solusinya.Akhirnya aku menerima lamaran itu. Ternyata dia memang jodohku. Saat ini genap 33 tahun, kami membangun keluarga sakinah mawadah warohmah dengan perjuangan yang luar biasa. Karena jadi ibu tiri, jadi mantu yang baik, juga mendampingi pasangan dengan latar belakang yang berbeda itu ujiannya luar biasa.Saat aku terpuruk ibu selalu ada menghibur sekaligus mensupport agar aku tegar. Ibu ada saat aku hamil pertama dan bayiku meninggal di dalam perut. Ibu yang mengantar dan menungguku. Dokter kandungan pilihan ibu juga yang membantu melahirkan. Ya walaupun aku sudah menikah, aku lebih nyaman tinggal bersama ibu.Untuk kedua kali di Jakarta aku kehilangan bayi lagi, walaupun kasusnya berbeda. Lagi-lagi ibu yang paling sedih dan rempong. Betapa tidak saat itu usia kandungan anak kedua ku itu masuk 26 minggu belum 7 bulan. Saat selesai kontrol ke dokter info yang didapat bayiku sungsang, bobotnya masih 1,2 kg. Aku disarankan senam hamil. Hari itu juga aku ikut kelas senam hamil. Tetapi apa yang terjadi? Belum ganti baju aku harus kembali ke Rumah Sakit karena terjadi kontraksi.Tentu saja ibu yang paling panik. Ia menemaniku sampai masuk ke kamar bersalin. Rupanya bayi ini tidak bisa dipertahankan. Bayi yang lahir prematur dan hanya bertahan 2 minggu di inkubator. Sementara aku harus menunggu di rumah sambil recovery usai melahirkan. Ibu lah yang wira-wiri ke Rumah Sakit menu nggu cucunya dan akhirnya tetap diambil oleh sang Khalik.Ibu terus mendampingiku, walaupun kondisinya sudah tidak prima lagi. Ketika aku diajak suami pindah ke Solo, sebenarnya ibu tidak rela. Ada gurat kesedihan. Apalagi ketika ia menilai rumah mertua ku tidak layak huni. Tetapi ia harus mengikhlaskan anak perempuannya hidup bersama suami dan mertuanya.Aku masih berikhtiar untuk mendapatkan anak, sambil membesarkan ketiga anak tiriku. Hidup di Solo menghidupi keluarga besar , ada 3 anak, mertua dan pembantu total 8 orang yang tiap hari makan 3 kali dan punya kebutuhan masing – masing cukup membuatku harus ekstra sabar dan hati-hati . Aku yang mejalani berusaha tegar. Tetapi hati seorang ibu pasti tak tega melihat kehidupanku yang sedang diuji Allah.Tak lelah ibu masih terus membantuku dengan caranya. Aku dikirimi uang untuk belanja dagangan di pasar klewer ada daster, kain ataupun sarung. Kadang juga abon dan makanan khas lainnya yang ada di Solo. Tentu saja ada lebihan yang bisa aku terima.Ketika ibu mendengar kabar kalau aku hamil. Ibu langsung berinisiatif kalau aku harus bedrest di usia kehamilan bulan ke 6. Ya setelah izin ambil cuti besar aku bisa bedrest di Jakarta. Aku harus fokus untuk keselamatan anak ketiga ini. Ibu rajin mengantar ku ke dokter dan banyak saran dan nasihatnya agar aku menjaga kandunganku dengan baik.Alhamdulillah, aku melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama oleh neneknya. Usia bayi 2 bulan saat kuboyong ke Solo. Aku harus kembali mengajar dan mengurusi keluarga. Hubungan ku dengan ibu hanya lewat telpon atau kadang ibu mengunjungi kami ke Solo.Cita-cita ibu menghabiskan hari tua nya di Salatiga bisa terlaksana karena aku mendukungnya. Ibu memang hebat. Uangnya tidak banyak tetapi ia punya mimpi. Mimpi punya rumah dengan beberapa kamar untuk anak kos. Dalam waktu satu tahun rumahnya jadi. Aku dan keluarga yang lebih sering menikmati rumah itu. Ternyata ibu dan bapak kurang cocok dengan udara di Salatiga. Jadi rencana untuk boyongan dan menetap di Salatiga batal. Mulai saat itu ibu sudah sering sakit dan rajin berobat ke mana-mana.Walaupun sakit, semangat ibu tetap luar biasa. Dia bisa tetap “nyebar roso seneng ” dan menyejukkan untuk orang yang ada di sekitarnya. Terutama buat orang-orang yang dikunjungi. Ibu sering memberi tali asih. Bisa berupa uang, makanan atau baju. Jadi kehadirannya di Solo banyak dinanti sanak saudara. Terutama aku anaknya.Rasanya aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini. Ibu begitu berarti bagiku. Ia sangat berduka ketika aku harus kehilangan anakku yang ke 3 di usianya yang 4 tahun lebih dua bulan. Cucu perempuan yang sedang lucu dan tumbuh sehat. Nyamuk nakal yang ada di penyakit Demam berdarah jadi suatu penyebab Allah mengambilnya.Baru dikabari saja ibu sudah bingung. Esok paginya ia sudah di Solo menunggu cucunya yang sakit sampai akhirnya Allah memanggil cucunya untuk selama-lamanya. Perasaan sedihnya disimpan ia lebih banyak menghiburku. Banyak sekali nasihat untukku agar aku tegar dan ikhlas menerima kenyataan yang ada.Dan akhirnya saat aku dipercaya Allah untuk hamil lagi. Ibu sibuk lagi dan paling bersemangat. Sayang dia hanya bisa menemani cucunya hingga kelas 6 SD. Ibu sudah lelah dan menyerah dengan penyakit yang diderita. Beberapa kali terserang stroke ditambah melebar penyakitnya, ada di Jantung, Diabetes, hipertensi dan terakhir kanker hati.Ada yang harus kuingat tentang ibu. Alhamdulillah, saat pasca stroke ibu mendapat hidayah dimudahkan Allah menjalankan rukun Islam yang ke lima. Aku pun mendapatkan hidayah itu. Karena ibu dalam melaksanakan ibadah haji, memilih aku untuk mendampinginya. Tahun 2006 jadi kenangan manis aku bersama ibu selama 40 hari. Dari mulai berada di pondok gede asrama haji sampai kembali ke tanah air sungguh perjalanan dan ibadah yang tak mungkin terlupakan.Bagaimana ibu tertawa bahagia dengan kursi rodanya, saat berada di depan kabah pagi hari. Saat sebagian Jamaah Haji sudah pulang ke tanah air.Ibu aku ingin memelukmu dalam doaku di setiap waktu. Semoga dilapangkan kuburmu, diampuni dosamu dan kita dipertemukan di jannah kelak. Aamiin YRATulisan ini aku dedikasikan untuk ananda Yassin Cahyo Ramadhan


Tinggalkan komentar

Bu Kanjeng dan Airbus A 330 Lion Air

Sri Sugiastuti

Airbus A 330 Lion Air, salah satu pesawat andalan Lion Air yang membawa Jamaah umroh dari beberapa kota besar yang ada di Indonesia menuju Jeddah atau Madinah PP. Kodratullah pesawat itu mengantar Bu Kanjeng pulang ke Solo yang sebelumnya transit di Jakarta setelah turun dari pesawat Boing 737 milik Lion yang mengantarnya dari Padang transit di Jakarta.

Perjalanan Padang Jakarta walau sempat sport jantung karena sempat terjebak macet di Bukitinggi. Ia tinggal punya waktu 7 menit untuk masuk ke dalam pesawat. Dapat nomer seat 6B terasa kurang nyaman. Setelah pesawat lepas landas Bu Kanjeng ke toilet. Matanya melirik kursi kosong yang ada di depan. Tanpa sungkan Bu Kanjeng minta izin pada Pramugara untuk pindah ke kursi kosong tersebut.

Mas Pramugara malah menyarankan Bu Kanjeng duduk di deretan depan. Langsung Bu Kanjeng pindah ke depan. Ia pun bisa melampiaskan hasrat laparnya dengan 1 cup indomie rasa sapi siap saji. Sambil memandang gugusan awan yang berjarak cantik, satu cup indomie itu dalam sekejap pindah ke perut Bu Kanjeng.

Bu Kanjeng yang sering merenung dengan apa yang sudah dialami lalu menyimpulkan bahwa semua kejadian yang dihadapi segala sesuatu baik yang kasat mata atau tidak adalah atas izin Allah SWT. Berjalan dari pintu keluar terminal 1/ B menuju terminal 1/A lumayan jauh. Sambil mendorong troly hati Bu Kanjeng galau pasalnya ia belum salat.

Segera ia menitipkan koper di petugas Lion ruang tunggu. Ia bersegera ke musala terdekat. Hatinya plong. Kewajiban dan juga kebutuhannya salat terpenuhi. Baru saja ia kembali ke ruang tunggu, terdengar suara keras pengumuman bahwa Lion mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang karena pesawat yang dari Makassar mengalami keterlambatan 60 menit. Dengan alasan operasional.

Bu Kanjeng sudah hapal bahkan pernah menjuluki Lion si raja delay. Lebih baik waktu yang ada dimanfaatkan untuk salat magrib berjamaah. Musala langsung full. Bu Kanjeng harus antri lumayan lama, karena hampir semua penumpang yang beragama Islam menyerbu musala.

Sambil menunggu musala agak longgar Bu Kanjeng ngobrol dengan seorang Bapak yang Kanjeng sebagai distributor buku di seluruh Indonesia. Bu Kanjeng pun bertambah ilmua tentang perbukuan dan penerbitan. Insyaallah ngobrol itu jadi berkualitas karena sesuai dengan yang Bu Kanjeng butuhkan sebagai penggiqt literasi.

Bu Kanjeng tergopoh-gopoh saat diumumkan agar penumpang segera naik ke pesawat tapi nomer dan pesawatnya beda dengan yang ada di tiket. Ketika sampai di mulut pesawat Bu Kanjeng baru sadar kalau pesawat itu Airbus A 330. Pesawat berbadan lebar dengan daya tampung 400 penumpang.

Hmmm, ini kan pesawat yang harusnya aku gunakan ketika umrah pada akhir tahun 2017.”

Ya. Keinginan dan mindset Bu Kanjeng saat ibadah umroh dengan Lion yakin bahwa pesawat yang terbang Solo – Madinah adalah Airbus A330 ternyata salah. Rombongan itu naik pesawat yang lebih kecil yaitu Boing 737 yang daya tampung nya kurang dari 200 orang. Dengan dibayangi sejarah Lion yang bagaimana gituh, akhirnya Bu Kanjeng pasrah. Alhamdulillah ibadah umroh itu lancar.

Nah ternyata doa dan keinginan Bu Kanjeng baru dikabulkan hari Senin tanggal 16 Desember 2019. Padahal harapan dan doanya di November 2017. Semakin yakin lah Bu Kanjeng bahwa itu bagian dari cara Allah menunda sebuah doa.

Sedangkan ada juga doa yang disegerakan. Ini pun pernah dialami Bu Kanjeng. Ketika di tahun 2005 ia menabung 200 ribu rupiah tiap bulan dengan doa dan harapan di saat jelang pensiun ia sebagai guru saat menjelang pensiun bisa melaksanakan ibadah haji.

Ternyata baru bulan ke 3 menabung, panggilan itu datang. Adiknya meminta Bu Kanjeng untuk segera menyiapkan berkas kelengkapan ibadah haji dan biaya ditanggung adiknya full. Awal tahun 2006 pun Bu Kanjeng bersama ibu dan adiknya melaksanakan ibadah haji.

Airbus A 330 yang membawa Bu Kanjeng dan mendarat di bandara Adi Sumarmo mengajak pikiran Bu Kanjeng mengembara mengingat ibunya yang sudah tiada dan perjalanan haji mereka di tahun 2006.

Padang – Jakarta – Solo 16 Des 2019