Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Buku Karya Pak Mendikbud M. Nuh

Salam, Guraruers yang dimuliakan Allah, apakah sudah membaca buku karya Pak Menteri Pendidikan kita? Sebuah buku yang diberi judul “ Menyemai Kreator Peradapan” Yang sudah baca bukunya tolong diposting resensinya ya. Berharap bisa memahami apa yang ada dalam buku tersebut.

Menurut M. Nuh buku yang diberi judul menyemai kreator peradaban ini bermaksud ingin mengangkat merah putih sebagai negara kesatuan RI pada tahun 2045. Dengan jumlah penduduk 240 juta saat ini, di 2045 Indonesia diharapkan akan menjadi negara besar yang diperhitungkan sebagai negara maju. Karena pada saat itu populasi usia produktif di Indonesia mengalami lonjakan yang luar biasa. “Populasi produktif jumlahnya luar biasa belum pernah terjadi sepanjang Indonesia merdeka,” kata M. Nuh.

Melalui buku ini Mendikbud menguraikan hikmah dari ledakan penduduk usia produktif pada tahun tersebut dan peran dunia pendidikan dalam mencetak manusia Indonesia yang berkualitas. M. Nuh menekankan, pentingnya pendidikan yang ramah sosial bagi masyarakat untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk menuai pendidikan.

“Jadi semua kita siapkan bagaimana caranya mengibarkan bendera rahmatan lilalamin. Dan siapa yang bisa mengibarkan bendera itu, yaitu orang orang Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia mayoritas penduduk muslim terbesar dan dengan sumber daya alam yang luar biasa walau ada yang masih belum dikelola dengan baik tapi tugas kita harus dicermati dan tata kelola dengan baik,” pungkasnya.

Mengukur Kompetensi Sikap yang dicuplik dari buku “ Menyemai Kreator Peradaban”

Di sebuah kampung di Jawa Timur,ada seorang kiai yang punya cara unik untuk menentukan kelulusan santrinya. Setelah ujian tulis, digelar ujian lisan. Dia sendiri yang turun langsung menguji mereka.
Sehari sebelum ujian lisan dimulai, sang kiai membuat dumi mushaf kitab suci. Dumi yang didesain seperti mushaf aslinya itu diletakkan di bawah sebagai pengganjal salah satu pintu ruangan ujian lisan. Sengaja ditaruh di tempat yang mudah keliatan oleh siapapun yang masuk.

Esoknya, satu per satu dipanggil memasuki ruangan. Santri pertama lancar dan fasih menjawab setiap pertanyaan sang kiai. Begitu matanya terantuk pada pengganjal pintu itu, wajahnya mulaimerengut. Ia menangkap ada kesalahan nyata di ruangan itu. Begitu usai dandipersilakan keluar hatinya terus menggerutu. Ia terus bergumam,”Bagaimanamungkin seorang kepala sekolah yang alim begitu ceroboh meletakkan kitab suci bukan pada tempatnya!”

Santri kedua dipanggil dan takkalah lancar dengan santri pertama dalam menjawab pertanyaan. Begitu menoleh kepengganjal pintu itu, matanya terbelalak Dengan nada agak tinggi iaprotes,”Bagaimana mungkin kitab suci berada di tempat tak terhormat?” Ia punfasih mengeluarkan dalil-dalil tentang perlunya menghormati dan mengagungkanAl-Quran. Sang kiai memuji kepandaian santrinya dan mempersialan ia keluar.

Santri ketiga masuk. Pertanyaandemi pertanyaan ia coba jawab dengan tenang. Tapi, kalimat-kalimatnya terhenti saat ia melihat sebuah mushaf teronggok di bawah pintu. Ia mengganggukkan kepala, lalu beranjak ke pintu menggambil mushaf itu, dan buru-buru menyerahkannya kepada sang guru. Kiai itu mengucapkan terima kasih atas tindakannya itu dan mempersilakan ia keluar setelah sang santri menjelaskan dalil-dalil tentang keutamaan kitab suci Al-Quran.

Sore harinya diumumkan bahwa santiri ketigalah yang lulus dan layak diwisuda.
Menarik sekali, kiai kampung ini tak aja mengevaluasi pengetahuan santrinya (tes tulis), tapi juga menakar kemampuan mereka mengomunikasinyaa (tes lisan). Lebih dari itu, sang kiai ingin tahu sejauh mana ilmu yang dikuasai itu mampu menggerakkan mereka untu kbertindak. Ia menetapkan standar kompetensi kelulusan anak didiknya bukan Cuma punya kecerdasan ilmiah melainkan juga kecerdasan amaliah.

Makna kompetensi sejatinya memang merupakan kemampuan bertindak secara efektif dalam situasi kompleks dengan menggunaan pengetahuan atau keterampilan yang sudah diperolehnya. Jadi,tekannya bukan saja pada pengetahuan tapi kemapuan untuk menggunakan,memberdayakan pengetahuan atau keterampilan tertentu. Bukan hanya mengenaimasalah penguasaan secara teknis, melainkan juga diarahkan pada produksi makna(bisa menerapkan dan sangat relevan).

Oleh karena itu, kompetensi lulusan tak direduksi hanya pada dimensi kognitif (akumulai pengetahuan danketerampilan), tapi perlu memperhitungkan aspek sosialnya (kemampuan berkomunikasi, negosiasi membangun hubungan kepercayaan, menginterpretasikansituasi).

Akses ke kompetensi berarti menempatkan pengetahuan di dalam tindakan-tindakan nyata. Kompetensi merupakan sumber daya untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah, mempersiapkan danmengambil keputusan-keputusan (Haryatmoko, 2011). Sehingga, proses pendidikan tak saja melahirkan ilmuwan murni (seperti tipe santri pertama), apalagi hanya pengamat (proble observer- seperti santri kedua), tetapi juga pemecah masalah (problemsolver- seperti tipe santri ketiga).

Itulah mengapa dalam Kurikulum2013 dipertajam lagi standar evaluasi yang menekankan aspek kognitif afektif,psikomotorik melalu penilaian berbasis tes dan portofolio yang saling melengkapi. Ada pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).

To learn is to grow and change. Tidak sekadar belajar lalu berubah, tetapi juga mengubah keadaan. Ketika lmu itu diamalkan, diharapkan seseorangberpartisipasi dalam mengubah diri dan lingkungannya.

Guraruers , tulisan ini adalah kolaborasi yang saya dapat dari pusat info yaiti Mba google. Silahkan saja dicek kalau tidak percaya, sumbernya ada di;

http://www.facebook.com/notes/mohammad-nuh/mengukur-kompetensi-sikap

http://sg.suaramanado.com/articles/7292


Tinggalkan komentar

Menjadi Pribadi Yang Mulia Dengan Kritik

Salam, Guraru yang dimuliakan Allah. Saya sedang ingin menulis yang adem dan ngga memaju adrenalien bekerja keras. Yuk cooling down sejenak. Semoga menginspirasi dan memotivasi gurarues agar menjadi pribadi yang mulia dengan kritik.

Menyimak di guraru beberapa hari ini, jadi terinspirasi untuk menulis tentang norma yang seharusnya kita miliki dalam pergaulan agar tidak kebablasan dalam bertindak, ada norma yang mengikat ketika bertutur kata baik lisan maupun tulisan. Rasanya kita sebagai orang timur bagaimanapun keadaannya menjaga kesopanan dalam pergaulan sangat penting.

Sebagai manusia tidak bisa dipungkiri merupakan tempat salah dan lupa. Untuk itu kita perlu sahabat dan teman,atau orang lain sebagai “alarm” yang akan mengingatkan kita ketika ada yang melenceng dari diri kita, juga menuntun kita kembali ke jalan yang benar. Atau segera sadar bahwa kita baru saja membuat kesalahan.

Lalu upaya apa yang bisa kita lakukan? Salah satunya adalah mendengarkan saran atau kritik yang disampaikan orang lain tentang diri kita. Namun hal ini tidak mudah. Mendengarkan kritik pedas saja tidak nyaman,apalagi melakukan perbaikan dan menjalankan saran yang diberikan. Karena kita kadang salah menilai sebuah kritik. Kita mengganggap kritik sebagai suatu penghinaan atau suatu pelecehan, yang bisa menurunkan nama baik kita.

Agar kita bisa memaknai suatu kritik dengan lapang dada maka ada beberapa trik yang bisa kita lakukan. Sehingga kritik itu bisa jadi sarana yang ampuh untuk membangun kualitas kemuliaan kita sebagai pribadi yang mulia.

• Harus ditanamkan dalam hati bahwa kritik dan saran itu penting. Sehingga kita selalu menunggu kapan ya kita dikritik dan diberi saran untuk meningkatkan kualitas pribadi diri kita.
• Belajarlah dari orang lain. Dianjurkan untuk bertanya dan mencari tahu dan ilmu. Kita memerlukan orang yang jujur untuk saling mengoreksi kekurangan diri masing-masing
• Nikmati kritik dan syukurilah. Ingat tidak semua kritik dan saran sesuai dengan yang kita inginkan. Sebenarnya tidak ada yang rugi ketika dikriti atau dikoreksi. Usahakan tidak berkomentar atau membantahnya. Kecuali ucapan terima kasih yang tulus kepada sang pengeritik karena sudah memberi saran.
• Evaluasi dan perbaiki diri. Jujur pada diri sendiri ketika menerima kritik , jangan sibuk menyalahkan pengeritik dan mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.
• Buat program perbaikan. Cari kelemahan diri dan perbaiki diri. Agar tidak arogan, lebih hati hati dan bijaksana dalam bertindak.
• Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah memberi saran dan kritik pada kita minimal info bahwa sarannya sangat bagus dan bisa diterima dengan baik.
• Dan berdoalah “ Yaa Allah Engkaulah yang telah membaguskan kejadianku,maka baguskanlah oleh Engkau perangaiku” yaa doa yang kita baca ketika menghadapkan wajah kita ke cermin.

Seperti rindunya kita pada cermin supaya penampilan kita bagus. Maka jadikan saran dan kritik sebagai sarana untuk memperbagus diri kita. Jangan membenci orang yang mengeritik kita. Boleh jadi itu sebagai tanda kasih sayangnya pada kita. Ia tidak ingin orang yang dikasihinya tersesat di jalan.

Nah,gimana guraru maukan menjadi pribadi yang mulia dengan kritik.


Tinggalkan komentar

Kapan Nomer Antrian Kita Di Panggil?

Salam. Guraruers yang dimuliakan Allah. Agar hidup kita tidak ngoyo dan jauh dari sifat serakah ada baiknya kita memiliki kiat atau panduan sebelum kita menghadap ke hadirat Allah SWT. Karena sejatinya kita ini sudah punya nomer antrian tapi kita tidak mengetahui kapan nomer antrian kita dipanggil.

Tanpa kita sadari ketika kita berjalan sebenarnya kita sedang menuju ke kematian kita. Kita bisa memilih mati dengan khusnul khotimah atau mati dengan zuul Khotimah. Meninggal di meja judi atau meninggal di atas sajadah ketika sedang bermunajat dengan Robbnya. Setiap manusia yang meninggal akan mengalami malam pertama di alam kubur. Hilanglah sudah gemerlap dunia. Yang tersisa hanya dosa yang membayang. Maka cukuplah kematian itu sebagai nasehat. Bebas dari azab kubur tergantung dari hidup kita.Perkataan yang kokoh di akhir hayat kita dengan Laillahailllah menghantar kita khusnul khotimah.

Kita akan ditanya di alam kubur dan kita menjawab sesuai dengan Otak Bawah Sadar (OBS), kalau memang kita tidak beribadah dengan baik maka jawabanya pun “tidak” sebaliknya jika kita beribadah dengan benar. Kita pun akan menjawab sesuai dengan otak bawah sadar kita. Jadi orang Islam yang meninggal dan Otak bawah sadarnya menjawab Iya. Kuburnya akan diluaskan, ada rasa kenikmatan surga walau masih dalam penantian untuk masuk surga. Paling tidak mereka sudah merasakan aroma surga.

Sebaliknya orang yang jarang menyebut nama Allah, yang meremehkan ibadah, yang mengecilkan sunnah Rasul, orang itu tidak mampu menjawab pertanyaan di alam kubur. Maka mereka akan merasakan kehidupan alam kuburnya rasa neraka. Walau mereka belum dimasukkan ke dalam neraka.

Maka tip menjemput kematian dengan cara mudah adalah; Apabila kita secara cerdas sering mengingat akan mati dan kita menyiapkan diri. Dalam firman ALLAH, QS: Qaaf:19 – 20 19.
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. 20. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Jadi pada hakekatnya kematian itu tidak bisa dihindari. Bentuk dan jenis kematian diwujudkan Allah dengan cara yang berbeda .

Sedang hikmah kematian orang yang benar selalu di tempat kebaikan. disinilah Allah menampakkan seuatu yang ghoib. Seperti jasad orang yang mati sahid selalu beraroma harum. Ada juga yang jasadnya masih utuh walau sudah meninggal selama 40 tahun. Subhannah.

QS.102; At takaasur mengingatkan kita akan mati dan siksa di alam kubur. 1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598], 2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui. 5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, [1598] Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya Telah melalaikan kamu dari ketaatan.

Selain itu kita juga harus mengetahui dosa dan maksiat apa yang membuat manusia disiksa di alam kubur: antara lain adalah:
• Melalaikan sholat
• Membaca Al Quran tapi melupakannya. Prilakunya tidak Qurnani.
• Tidak bersuci setelah buang airkecil
• Biasa berkata bohong
• Sering ingkar janji
• Tidak membayar zakat
• Menganut pola hidup yang berlebih-lebihan
• Makan harta riba
• Korupsi
• Memfitnah sesama saudara muslim
• Khianat terhadap amanah. Temasuk ketika diamanahi Allah dengan anak dan harta.

Semoga tulisan sederhana ini, hasil saya duduk manis di ta’lim mencari ilmu dan menyantap makanan rohani bisa bermanfaat buat guraru, agar hidup lebih seimbang jangan hanya mikir dunia dan anak didik saja tapi persiapan untuk menjemput kehidupan yang abadi juga harus kita miliki. Sehingga kita bukan termasuk golongan hamba Allah yang merugi.
Sumber; http://astutianamudjono.blogspot.com/2013/12/tips-menjemput-maut.html


Tinggalkan komentar

Ada di Tingkat Manakah Kecerdasan Anda???

Salam, guraru yang dimuliakan Allah. Sengaja siang ini saya memposting ulang tulisan saya yang pernah saya tulis di Kompasiana. Niatnya tak lain ingin membaca dan merenungkan ilmu yang saya dapat dan sebisanya mengaplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari. Mari kita renungkan level kecerdasan kita ada di tingkat yang mana.

“Manusia yang paling bertaqwa ia diberikan anugerah Kecerdasan Wahyu oleh Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa, sedangkan manusia yang paling kafir (ingkar) diberikan Kecerdasan Lahwu oleh Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa, yakni sebuah kecerdasan yang SAMA atau LEBIH BURUK dari kecerdasan yang dimiliki oleh binatang ternak. Kira-kira dimanakah kecerdasan kita hari ini berada? Mari kita selidiki. ( hehehe ngga mau kalah sama KPK ya)

Kecerdasan Wahyu (KW) Secara sederhana, KW ini adalah ketika seorang hamba tidak lagi sedikitpun menuntut sesuatu dari Tuhannya kecuali hanya Ridho dari-Nya. Dia tidak lagi bermain di titik hasrat dan keinginan dunia. . Ia hanya membutuhkan Allah, dan ia mampu bertemu dengan Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa dalam masa hidupnya. Dan keberadaan KW ini telah dipraktekkan oleh Para Nabi, special for Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa Isro’ Mi’raj-nya.

Kecerdasan Ruh (KR) adalah Kecerdasan Wahyu yang diberikan kepada manusia selain para Nabi Khusus dan Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Tepatnya Wahyu disini lebih merupakan Ilham dariNya. Kecerdasan Ruh bisa diberikan kepada wali-wali-Nya atau diberikan kepada orang-orang yang beriman yang mencintai amalan-amalan yang sunnah karena Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa. Inilah sebuah kecerdasan yang langsung “ditiupkan” oleh Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa kepada para hamba-Nya yang beriman mantap. Dan Kecerdasan ini tak mungkin didapat oleh orang yang sekedar ahli fikir dan ahli metafisik tanpa pernah mengikuti jejak Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah memberikan berbagai contoh amalan wajib dan sunnah.

Kecerdasan Alam Semesta (KAS) Kecerdasan Alam Semesta ini berpijak pada konsep Sunnatullah dimana hukum-hukum alam yang universal berlaku untuk semua individu yang ada di alam semesta ini. Bagi siapa pun yang dapat memahami rahasia hukum alam ini, maka insya Allah hidupnya akan mencapai kesuksesan di dunia. Contoh penggunaan hukum alam adalah pada Hukum Kekekalan Energi (HKE), yang menghasilkan istilah Epos (Energi Positif) dan Eneg (Energi Negatif). Untuk masalah hukum alam ini, Anda dapat membacanya lebih lanjut di buku “Kubik Leadership”, “Quantum Ikhlas”, “Spiritual Sinergi Semesta”, “The Secret” atau yang lainnya.

Kecerdasan Fuad (KF) KF adalah kecerdasan yang lahir melalui pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar adalah gudang informasi yang tersusun secara otomatis rapi sebagai karunia-Nya yang mana informasi ini berasal dari lingkungannya. Pikiran bawah sadar kita memiliki kekuatan yang luar biasa (padahal sih biasa-biasa saja dihadapan Allah), karena ia mampu menampung semua informasi, kenangan dan memori yang pernah diserapnya sejak lahir hingga hari ini. Ketika pikiran sadar telah melupakan kenangan itu, tapi pikiran bawah sadar masih mampu mengingatnya dan mengenangnya. . Mengapa demikian? Karena kenangan yang dominan mudah muncul melalui pikiran bawah sadar adalah kenangan yang berisi emosi yang tinggi, dan biasanya emosi yang tinggi identik dengan emosi negatif, sehingga orang yang menggunakan kecerdasan bawah sadar akan mudah terperangkap dengan berbagai emosi negatif lainnya. Sebetulnya, yang Anda butuhkan adalah kenangan yang beremosi rendah, atau kalau perlu kenangan yang beremosi netral, tidak menyakitkan dan tidak pula membanggakan, sehingga keputusan yang Anda ambil kelak akan lebih mudah berada dalam bimbingan-Nya

Kecerdasan Qolbu (KQ) KQ atau juga sering disebut sebagai SAR (Sistem Aktivasi Retikular) atau Critacal Factor atau Critical Area, adalah sebuah pintu masuknya informasi baru dari pikiran sadar (Shodr) menuju pikiran bawah sadar (Fuad), atau masuknya informasi lama (kenangan) dari pikiran bawah sadar menuju pikiran sadar. Jika pintunya terbuka maka akan mudah masuknya, dan jika pintunya tertutup maka akan susah masuknya. Dan terbuka atau tertutupnya pintu SAR sangat tergantung dari rasa keberterimaan atau rasa berserah dari jiwa orang yang diamanahi SAR tersebut. Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa adalah Zat yang paling berhak membuka dan menutup pintu SAR. Jika seorang hamba berserah pada Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa sepenuhnya, maka pintu SARnya akan dibuka-tutupkan oleh Allah sesuai dengan keperluan. SAR yang selalu tertutup ibarat kita memiliki Qolbu yang mati, dan SAR yang selalu terbuka pun akan membuat hidup kita menjadi tidak memiliki pendirian yang jelas, hilanglah ketegasan. Itu sebabnya, kecerdasan Critical Area ini sangat bergantung dari tingkat keberserahan diri seseorang dan kepada siapa dia menyerahkan dirinya, dengan kata lain, kepada siapakah dia ber-Tuhan.

Kecerdasan Shodr (KS) Kecerdasan Pikiran Sadar adalah kecerdasan manusia ketika menggunakan otaknya secara lebih utuh dengan memarjinalkan fungsi hatinya atau bawah sadarnya. Kecerdasan pikiran sadar identik dengan kecerdasan logika dan sinergis dengan Kinerja Otak Kiri. Pikiran sadar ini memang kadang agak lancang, hampir saja ia mengambil alih semua keputusan yang ada dari setiap masalah. Pikiran sadar ibarat striker dalam tim sepak bola. Pikiran sadar mengambil keputusan akhir dari semua informasi yang diterimanya. Namun demikian, sebagai striker, dia sering mengalami stress jika tidak ditopang oleh suplai bola informasi yang tepat. Dia seringkali gagal mencetak gol, padahal kesempatannya begitu banyak. Dia bingung harus berada di posisi yang mana agar ia pas positioning-nya tatkala menerima umpan, sehingga ia cukup tinggal bergerak sedikit saja untuk menggolkan bola ke jala gawang lawan. Pikiran sadar yang berprofesi sebagai striker tunggal ini, seringkali turun ke belakang untuk menjemput bola. Alih-alih mencetak gol, eh dia malah merecoki pikiran bawah sadar. Wah, tidak mudah ya.

Kecerdasan Lahwu (KL) Lahwu artinya “permainan” atau “senda gurau”. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Kehidupan ini hanyalah Permainan dan Senda Gurau…(Q.S. 47:36)”. Dan hari ini tidak sedikit yang “terjebak” pada kondisi Lahwu ini.

KL adalah kecerdasan level terendah bahkan bisa lebih rendah dari kecerdasan binatang ternak. Kecerdasan Lahwu hadir ketika ia sudah mulai mengabaikan kecerdasan tertinggi, yakni Kecerdasan Wahyu hingga Kecerdasan Shodr. Ia hanya berimam kepada hawa nafsunya yang disupiri oleh iblis laknatullah.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. 7:179)”

Bu Kanjeng manggut manggut, berat juga ya nich bacaan “ Aku mudeng opo ora yo?” Batinnya berkata.
Ternyata ini tho yang mau dibahas oleh sahabatnya di Spiritual Sinergi Semesta .
Sedang yang di atas tadi adalah intermezo sejenak sebelum mengupas tuntas tentang kecerdasan ini. Memang seperti itulah teman Bu Kanjeng kalau nulis rada nyeleneh.

Akhirnya Bu Kanjeng memutuskan untuk memposting tulisan ini, semoga tidak dicurigai sebagai pembohong, plagiator, penulis asongan, amatiran, penulis majalah dinding, penulis fiksi atau apa lah terserah. Bu Kanjeng hanya ingin menularkan apa yang sudah dibaca dalam bentuk tulisan untuk sahabatnya di rumah Guraru

Salam dari Bu Kanjeng untuk gurarues.