Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Buku Karya Pak Mendikbud M. Nuh

Tinggalkan komentar

Salam, Guraruers yang dimuliakan Allah, apakah sudah membaca buku karya Pak Menteri Pendidikan kita? Sebuah buku yang diberi judul “ Menyemai Kreator Peradapan” Yang sudah baca bukunya tolong diposting resensinya ya. Berharap bisa memahami apa yang ada dalam buku tersebut.

Menurut M. Nuh buku yang diberi judul menyemai kreator peradaban ini bermaksud ingin mengangkat merah putih sebagai negara kesatuan RI pada tahun 2045. Dengan jumlah penduduk 240 juta saat ini, di 2045 Indonesia diharapkan akan menjadi negara besar yang diperhitungkan sebagai negara maju. Karena pada saat itu populasi usia produktif di Indonesia mengalami lonjakan yang luar biasa. “Populasi produktif jumlahnya luar biasa belum pernah terjadi sepanjang Indonesia merdeka,” kata M. Nuh.

Melalui buku ini Mendikbud menguraikan hikmah dari ledakan penduduk usia produktif pada tahun tersebut dan peran dunia pendidikan dalam mencetak manusia Indonesia yang berkualitas. M. Nuh menekankan, pentingnya pendidikan yang ramah sosial bagi masyarakat untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk menuai pendidikan.

“Jadi semua kita siapkan bagaimana caranya mengibarkan bendera rahmatan lilalamin. Dan siapa yang bisa mengibarkan bendera itu, yaitu orang orang Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia mayoritas penduduk muslim terbesar dan dengan sumber daya alam yang luar biasa walau ada yang masih belum dikelola dengan baik tapi tugas kita harus dicermati dan tata kelola dengan baik,” pungkasnya.

Mengukur Kompetensi Sikap yang dicuplik dari buku “ Menyemai Kreator Peradaban”

Di sebuah kampung di Jawa Timur,ada seorang kiai yang punya cara unik untuk menentukan kelulusan santrinya. Setelah ujian tulis, digelar ujian lisan. Dia sendiri yang turun langsung menguji mereka.
Sehari sebelum ujian lisan dimulai, sang kiai membuat dumi mushaf kitab suci. Dumi yang didesain seperti mushaf aslinya itu diletakkan di bawah sebagai pengganjal salah satu pintu ruangan ujian lisan. Sengaja ditaruh di tempat yang mudah keliatan oleh siapapun yang masuk.

Esoknya, satu per satu dipanggil memasuki ruangan. Santri pertama lancar dan fasih menjawab setiap pertanyaan sang kiai. Begitu matanya terantuk pada pengganjal pintu itu, wajahnya mulaimerengut. Ia menangkap ada kesalahan nyata di ruangan itu. Begitu usai dandipersilakan keluar hatinya terus menggerutu. Ia terus bergumam,”Bagaimanamungkin seorang kepala sekolah yang alim begitu ceroboh meletakkan kitab suci bukan pada tempatnya!”

Santri kedua dipanggil dan takkalah lancar dengan santri pertama dalam menjawab pertanyaan. Begitu menoleh kepengganjal pintu itu, matanya terbelalak Dengan nada agak tinggi iaprotes,”Bagaimana mungkin kitab suci berada di tempat tak terhormat?” Ia punfasih mengeluarkan dalil-dalil tentang perlunya menghormati dan mengagungkanAl-Quran. Sang kiai memuji kepandaian santrinya dan mempersialan ia keluar.

Santri ketiga masuk. Pertanyaandemi pertanyaan ia coba jawab dengan tenang. Tapi, kalimat-kalimatnya terhenti saat ia melihat sebuah mushaf teronggok di bawah pintu. Ia mengganggukkan kepala, lalu beranjak ke pintu menggambil mushaf itu, dan buru-buru menyerahkannya kepada sang guru. Kiai itu mengucapkan terima kasih atas tindakannya itu dan mempersilakan ia keluar setelah sang santri menjelaskan dalil-dalil tentang keutamaan kitab suci Al-Quran.

Sore harinya diumumkan bahwa santiri ketigalah yang lulus dan layak diwisuda.
Menarik sekali, kiai kampung ini tak aja mengevaluasi pengetahuan santrinya (tes tulis), tapi juga menakar kemampuan mereka mengomunikasinyaa (tes lisan). Lebih dari itu, sang kiai ingin tahu sejauh mana ilmu yang dikuasai itu mampu menggerakkan mereka untu kbertindak. Ia menetapkan standar kompetensi kelulusan anak didiknya bukan Cuma punya kecerdasan ilmiah melainkan juga kecerdasan amaliah.

Makna kompetensi sejatinya memang merupakan kemampuan bertindak secara efektif dalam situasi kompleks dengan menggunaan pengetahuan atau keterampilan yang sudah diperolehnya. Jadi,tekannya bukan saja pada pengetahuan tapi kemapuan untuk menggunakan,memberdayakan pengetahuan atau keterampilan tertentu. Bukan hanya mengenaimasalah penguasaan secara teknis, melainkan juga diarahkan pada produksi makna(bisa menerapkan dan sangat relevan).

Oleh karena itu, kompetensi lulusan tak direduksi hanya pada dimensi kognitif (akumulai pengetahuan danketerampilan), tapi perlu memperhitungkan aspek sosialnya (kemampuan berkomunikasi, negosiasi membangun hubungan kepercayaan, menginterpretasikansituasi).

Akses ke kompetensi berarti menempatkan pengetahuan di dalam tindakan-tindakan nyata. Kompetensi merupakan sumber daya untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah, mempersiapkan danmengambil keputusan-keputusan (Haryatmoko, 2011). Sehingga, proses pendidikan tak saja melahirkan ilmuwan murni (seperti tipe santri pertama), apalagi hanya pengamat (proble observer- seperti santri kedua), tetapi juga pemecah masalah (problemsolver- seperti tipe santri ketiga).

Itulah mengapa dalam Kurikulum2013 dipertajam lagi standar evaluasi yang menekankan aspek kognitif afektif,psikomotorik melalu penilaian berbasis tes dan portofolio yang saling melengkapi. Ada pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian otentik (mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).

To learn is to grow and change. Tidak sekadar belajar lalu berubah, tetapi juga mengubah keadaan. Ketika lmu itu diamalkan, diharapkan seseorangberpartisipasi dalam mengubah diri dan lingkungannya.

Guraruers , tulisan ini adalah kolaborasi yang saya dapat dari pusat info yaiti Mba google. Silahkan saja dicek kalau tidak percaya, sumbernya ada di;

http://www.facebook.com/notes/mohammad-nuh/mengukur-kompetensi-sikap

http://sg.suaramanado.com/articles/7292

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s