Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Noda Kecil Jelang Shalat Ied

Oleh : Sri Sugiastuti

Tidur awal waktu karena lelah seharian di dapur, membuat bu Kanjeng terjaga lebih awal dari jadwal shalat tahajudnya. Saat itu pukul 02.00 dini hari. Seperti biasa usai shalat ia membangunkan pak Kanjeng dan anaknya yang sudah datang sejak seminggu yang lalu.

Suasana sahur masih terasa di saat takbir berkumandang menggetarkan jiwa. Sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri hari kemenangan. Setelah sebulan berpuasa sanggup kah kembali suci dan menjadi lebih baik.

Jelang azan subuh mereka sudah menyiapkan diri untuk kegiatan sholat Ied, tata cara yang wajib dan sunnah diperhatikan, termasuk sarapan pagi. Bu Kanjeng menyiapkan makanan dengan hati riang.

“Yes, menu yang akan terhidang hari ini, ketupat, sambel goreng tolo plus krecek, sayur jipan bersantan, dan terik daging sapi pelengkapnya krupuk udang.” Itu semua sudah terprogram di benak bu Kanjeng.

Entah ada setan lewat, atau terlalu capek, tiba-tiba bu Kanjeng baper, emosinya meledak ketika ia masih melihat ada tiga bingkai tempat foto teronggok di atas meja. Padahal semalaman ia mendengar dan melihat kesibukan pak Kanjeng menata rumah.

“Itu bingkai dan foto sudah berbulan-bulan ngga disentuh apalagi dipasang, padahal cetak dan milih bingkainya butuh kesabaran karena harus antri dan milih foto dari ribuan yang ada di galeri hape. Sekarang tinggal masang, sudah berbulan-bulan belum juga terpasang.” Omelnya penuh emosi.

“Ada apa toh Bu, koq kesetanan kayak gitu, aku tuh bingung, mau ditata seperti apa? Barusan baik-baik aja koq jadi ngamuk ngga karuan!” Sahut Pak Kanjeng.

Bu Kanjeng semakin emosi. Diambilnya foto itu lalu disobek- sobek, hampir saja bingkai itu dibantingnya. Tapi dia masih bisa menahan diri. Kemarahannya pada pak Kanjeng yang dianggap hanya peduli dengan lukisan jadul koleksi hasil huntingnya di pasar loakan lebih berharga dari pada bingkai foto keluarga yang disiapkan bu Kanjeng.

Memang sepertinya sepele, tetapi bu Kanjeng merasa ide dan usahanya diabaikan. Itu yang membuatnya marah. Untung Pak Kanjeng tidak terpancing. Ia memilih diam.

Tentu saja suasana itu membuat si anak yang melihat kemarahan ibunya jadi tidak nyaman. Diambilnya bingkai dan sebagian foto yang terselamatkan dari kemarahan bu Kanjeng. Lalu disusun dalam bingkai. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya.

Azan subuh bergema, mereka bertiga berangkat ke masjid dengan perasaannya masing-masing. Bu Kanjeng langsung menyesali tindakannya yang kadang arogan dan menumpahkan kemarahan di depan anak, walaupun anaknya sudah dewasa.

“Aku ngga mau sholat Ied kalau bapak sama ibu ngga mau berbaikan.” Ancamnya.

Nyatanya bu Kanjeng masih memendam rasa kesal, akhirnya mereka berangkat sholat Ied masing-masing. Usai sholat Ied, si anak tidak ada di rumah. Hanya ada pesan di WA bu Kanjeng.

“Aku ngga mau pulang kalau Ibu belum sungkem sama bapak!” Pesannya.

“Wong tadi selesai sholat Ied ibu sudah minta maaf sama bapak.”Balas bu Kanjeng.

Ditunggu 30 menit sang anak belum juga membalas.

Bu Kanjeng akhirnya mengancam.
“Ibu tunggu kalau jam. 8.00 belum ada di rumah ibu tinggal pergi.”

“Aku pulang nanti kalau mas-masku sudah datang.” Balas si anak

Akhirnya bu Kanjeng menghibur diri dengan menyelesaikan pekerjaannya mencuci baju dan menata meja.. Sambil melayani tamu tetangga kanan kiri yang datang silih berbagi.

Tamu yang diharapkan pun tiba, anak yang nomer 3 datang bersama anak dan istrinya. Suasana mulai mencari, kedatangan cucu harus disambut dengan senyuman. Jeda 15 menit si Sulung lengkap dengan pasukannya mengetuk pintu, suasana tambah ceria.

Mungkin mereka kompak dan sudah dapat bocoran dari adiknya kalau bu Kanjeng marah tadi pagi tetap mereka tidak memperkeruh suasana. Sang adik pun datang. Setelah agak santai baru si Sulung punya gagasan,

“Ayo acara sungkeman dimulai”

“Iya tuh, ibu tadi pagi, baru selesai Ramadan malah emosi jiwa, cuma gara-gara foto.” si adik lapor ke mas – masnya.

Bu Kanjeng pun berganti baju, dandan cantik, pakai parfum, dan memulai acara sungkeman dengan meminta maaf kepada pak Kanjeng orang yang selama ini paling mengerti dan paham plus minusnya Bu Kanjeng.

Berurutan dari yang anak tertua, hingga cucu-cucu. Untaian doa dan harapan terucap dari hati sanubari bu Kanjeng ada rasa syukur, haru dan harapan untuk bisa lebih baik lagi.

Noda kecil jelang sholat Ied tadi pagi terlupakan, tiga bingkai foto kenangan kebahagiaan mereka di momen tertentu sudah terpasang di kamar.

Ternyata untuk menjadi orang penyabar itu butuh proses. Bu Kanjeng hanya manusia biasa yang sering kehilangan kontrol dan emosi jiwanya meledak. Hal negatif yang tidak boleh dicontoh.

_Edisi Refleksi diri di hari na fitri_
_1 Syawal 1440 H_


Tinggalkan komentar

Syawal Bulan Peningkatan nan Menawan

Oleh : Sri Sugiastuti

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS.3:200)

Bu Kanjeng memaknai ayat tersebut sebagai penguat hidupnya di usianya yang sudah tidak muda lagi. Sudah puluhan kali Idul Fitri berlalu dan selalu ada semangat untuk bisa naik kelas, mengupgrade diri agar lebih baik.

Siapakah bu Kanjeng? Dia hamba Allah yang merasa keimanan harus tetap dijaga dan sadar bahwa kehidupan di dunia hanyalah senda gurau juga tipuan semata. Tetapi mengapa ia masih sering lalai dan terlena dengan indahnya dunia. Bu Kanjeng tak boleh menyalahkan setan. Walau pekerjaan setan memang mengganggu manusia.

Dalam mengisi Ramadan yang jadi 1 bulan full barokah bu Kanjeng berusaha memanfaatkan momen itu sesuai potensi yang dimiliki karena banyak sekali amalan kebaikan yang bisa kita rasakan dikerjakan dan ganjarannya akan dilipatgandakan. Bu Kanjeng berusaha agar puasanya tidak bolong, bertadarus di masjid bada sholat taraweh dan sholat subuh. Duduk manis di masjid sambil mendengarkan tausyiah dan juga belajar tahsin Betul-betul imannya dipupuk dan disirami agar tidak kering kerontang

.Ia dan suaminya kodratullah bisa mengawali 10 hari terakhir Ramadan di sebuah pondok yang bernama pondok Husnul khotimah, sebuah pondok yang diperuntukkan bagi lansia yang ingin menuju husnul khotimah.Untuk sampai ke pondok husnul khotimah cukup menguras perasan bu Kanjeng dan rombongan, maklum mereka belum paham Medan dan antara denah manual dan Google map berbeda.

Mereka tiba di pondok husnul khotimah sore ini. Setelah berjuang untuk bisa sampai ke alamat yang dituju. Sambutan yang ramah dari panitia mengajak mereka segera berwudhu dan lanjut shalat berjamaah di masjid yang cukup megah dengan ormanen etnik Jawa.

Selesai shalat mereka diberi kunci kamar termasuk daftar nama peserta sekamar yang berjumlah 6 orang. Pembagian buku materi dan alat tulis terkesan cepat dibagikan dan di buku itu tertera lengkap susunan acara dan materi yang akan diterima selama mengikuti Santri Weekend Husnul khotimah. Kamar bu Kanjeng dan 5 temannya ada di deretan sebelah timur dari masjid agak turun melalui beberapa anak tangga.

Di sekitar pondok terhampar tamanan sereh dan, pohon tin, kebun bunga, pohon singkong, pepaya dan beberapa tanaman lain yang tumbuh subur. Hamparan sawah ijo royo-royo menyejukkan mata. Sinar matahari sore yang mulai meredup terlihat dari celah lereng gunung Lawu. Subhanallah betapa bersyukur hati bu Kanjeng bisa menikmati semua ciptaan – Nya.

Alhamdulillah, bu Kanjeng bisa langsung menaruh barang dan melapisi tempat tidur kami dengan sprei dan sarung bantal yang dibawa dari rumah. Itu pesan bu Lestantun agar bu Kanjeng lebih nyaman. Selimut kesayangan pun keluar dari koper kecil yang dibawa. Setelah itu mandi dan merasakan kesegaran air gunung Lawu, dan lanjut bersegera menuju ke masjid lagi.

Sore jelang berbuka memang sudah ada kajian yang sebelumnya sudah diperkenalkan oleh panitia dan siapa saja keluarga besar yang ada di pondok. Kegiatan dari pondok ini sengaja dibuat untuk usia 40 tahun keatas agar mudah menyiapkan ikhtiar husnul khotimah.

.Ilustrasi tausyiah yang mengawali dengan perumpamaan hidup ini bagai bunga dan masing – masing sudah ada takdirnya, siapa yang memetik, di saat mekar, kuncup atau layu berguguran tak berguna. Jadi sebagai manusia harus siap dipetik oleh malaikat penyabut nyawa kapan pun bila Perintah Allah sudah turun.Bunga itu bak hidup kita. Ada yang jadi minyak wangi, bunga tabur, penghias ruang, dipetik kuncupnya, atau di saat mekar dan layu.

Intinya jangan pernah takut berbuat baik selama masih diberi kesempatan hidup.Namun semua itu harus dipersiapkan dengan amalan yang dimiliki bila ingin husnul khotimah begitu banyak ayat yang berkisah sekaligus mengingatkan tentang kematian yang jaraknya begitu dekat dan pasti.

Memahami sekaligus merenungkan tentang tahapan umur sudah waktunya orang berusia 40 ke atas bermuhasabah diri, selama ini apa saja yang sudah diperbuat.Sambil menunggu azan magrib untuk segera dilanjutkan dengn berbuka puasa, mereka diberi PR, nanti malam selesai shalat tahajud, untuk bermunajat pada Ilahi agar ikhlas bila dipanggil kapan pun.

Pondok ini memang ditujukan untuk mereka yang sadar bahwa mereka punya kampung akherat dan tidak ingin menyesal kekak. Pondok ini tempat yang tenang, di lereng gunung, asri dengan tanaman yang terawat rapih. Semua itu mengingatkan kita pada sang Pencipta Allah SWT.

Dalam hitungan menit azan magrib bergema, sebelumnya diiringi dengan pujian pada Allah menggunakan bahasa Jawa. Lalu mengglegar suara beduk dipukul . Semua itu menggetarkan kalbu..Alhamdulillah puasa hari ke 20 dilalui.Berada di pondok selama 3 hari 2 malam, nyantri ala anak pondok, mendapatkan ilmu sekaligus merasakan ketenangan batin yang luar biasa bagi bu Kanjeng ini sebagai karunia Allah yang sangat disyukuri.

Kegiatan pagi sebelum meninggalkan pondok bu Kanjeng dan kawan-kawan beranjangsana ke rumah penduduk sekaligus tadabur alam. Suasana damai di sekitar desa, rumah penduduk yang bervariasi tingkat ekonominya, dan tetap ada yang harus dibantu atau sekedar berbagi.

Ini satu kesempatan bagi bu Kanjeng. Ia bisa bersilaturahmi dan muhasabah diri dengan apa yang sudah dialami selama ini. Ia bertekad di sisa hidupnya harus bisa lebih baik, baik, dan baik. Ia harus menjaga iman dan taqwanya dengan siraman rohani, Muhasabah Diri dan terus mengupgrade diri

Idul Fitri tiba, saatnya umat Islam terutama yang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan sungguh – sungguh hatinya menangis, Bu Kanjeng sedih Ramadan segera pergi. Akan kah ia berjumpa Ramadan lagi. Sudah cukupkah bekal yang akan dibawa pulang ke kampung akherat.

Terlihat perasaan galau dan di hatinya.Ramadan tetap pergi dan Syawal pun datang. Saatnya bu Kanjeng yang ingin berubah jadi kupu-kupu cantik tetap menjaga semangat ibadah di bulan Ramadan untuk 11 bulan lainnya.

Undangan dan kegiatan Halal bihalal pun berdatangan. Selalu diisi dengan berbagai tausyiah dengan tema Idul Fitri dan maknanya. Bu Kanjeng sempat menyimak makna Idul Fitri yang disampaikan oleh Gus Noeril Huda dari pondok husnul khotimah Karangpandan.

Manakala musim bunga telah pergi dan taman-taman jadi kerontang, dari mana kah kau akan_
mencari wewangian bunga mawar?(Rumi)

Wewangian bunga mawar masih ada di rumah kita, kataku. Karena kala musim itu kita bawa pulang tiga kembang, dan kita rawat dengan baik, tetap segar dan berbunga pula.__

Ramadan itu awalnya Rahmah, tengahnya maghfirah, akhirnya ‘itqun minannar.__Meski Ramadan telah berlalu, 11 bulan lainnya akan tetap jadi Ramadan bila manusia tetap membawa dan memelihara dengan baik serta meluberkan wangi dan indahnya 3 kembang ke sekelilingnya curahan rahmat (kasih sayang/welas asih), maghfirah (maaf memafkan) dan itqun minannar (menghindari dholim ada yang lain dan tidak mudah menuntut balas kedholiman orang lain).

Memelihara “wangi mawar Ramadan” dengan tetap memelihara hanya harapan/kehendak yang baik kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin dan kepada seluruh manusia.

Wallahu a’lam

Mendengar apa yang disampaikan itu hati bu Kanjeng merasa makcles, semoga ia bisa mengamalkannya.

Sri Sugiastuti pegiat literasi tinggal di Solo


Tinggalkan komentar

Oh La Vita di Suasana Hari Raya

Oleh Sri Sugiastuti

Suasana hari raya masih terasa di Solo. Hampir semua tempat kuliner diserbu penggemarmya. Terutama keluarga yang mengajak anak cucunya untuk bisa makan bareng di luar.

Oh La Vita salah satu tempat kuliner yang khusus menyediakan masakan Italia jadi salah satu incaran keluarga bu Kanjeng. Karena resto ini salah satu tempat favorit mereka.

Walau pun saat ini banyak pilihan untuk kuliner aneka masakan Korea, Jepang dan China, tetap saja aneka masakan Italia dari mulai pizza hingga spaghetti jadi kesukaan keluarga bu Kanjeng.

Jadi tidak heran bila pilihan mereka kuliner ada di Oh La Vita. Resto ini menu andalannya
Beef Schnitzel & Sausage , Roast Chicken Quarter Spicy , Spicy BBQ Giant Steak, Breaded Dory Sicilly., dan Meat Lover Pizza. Ada juga Lasagna Verde, Chocolate Mousse dan Ice Tea.

Memilih menu dengan nama yang ribet memang ada Seni nya. Mereka kadang memesan yang berbeda agar bisa saling tukaran. Nah pak Kanjeng lah bagian icip sana sini.

Bu Kanjeng memesan Breaded Dory Sicilly. Daging ikan dory yang dibalut dengan tepung roti rasanya sangat crispy dan lembut. Bu Kanjeng juga memesan pendampingnya ada Onion Ring yang tak kalah crispy dan lezat serta yang menjadi favorit adalah Mashed Potato yang Creamy, lembut dan rasa yang lezat berpadu menjadi satu membuat lidah menari – nari hmmm Lezato.

Karena mereka datang sudah agak malam, menu yang ada tidak lengkap lagi. Pak Kanjeng tetap Bahagia karena ada menu nasi dengan semur ala Italia. Aduh namanya apa ya bu Kanjeng lupa.

Suasana ngobrol sambil nunggu pesanan tiba, jadi momen special, anak cucu dan mantu bisa bercanda ria. Mereka bisa berbagi tentang banyak hal. Dari mulai hobi, kuliner, politik hingga saling menggoda dalam batasan bercanda.

Satu persatu menu yang mereka pesan datang, lalu bisa dinikmati bareng hingga tuntas. Mereka puas, walaupun awalnya mencari tempat kosong juga tempat parkir agak susah.

Mereka pulang dengan perut kenyang dan berdendang girang mendapatkan Asupan yang nendang.

Mungkin ada Pembaca yang ingin mencoba berkuliner di Oh La Vita. Alamat lengkap bisa disimak di bawah ini.

Oh La Vita bertempat di Jalan Tirtosari 11 Sriwedari, Solo. Ancer – ancer nya apabila dari arah Jalan Slamet Riyadi lurus terus sampai setelah lampu merah Stadion Sriwedari mulai siap – siap ambil kiri, tidak jauh dari situ ada pertigaan belok kiri (depan pertigaan ada Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari dan Gedung Wanita), nanti ketemu warung Steak Obonk, setelah ada gang dan ada palang tulisan “Oh La Vita” belok kiri, lurus terus sekitar 150 meter, nanti tempatnya kiri jalan. Sebenarnya sebelum lampu merah Stadion Sriwedari juga bisa belok kiri, kemudian lurus sekitar 200 meteran ada gapura belok kanan, lurus lagi nanti tempat nya kanan jalan. Hanya saja apabila naik mobil lebih mudah mencari parkir dari arah yang pertama tadi apabila pas weekend atau malam hari.

Untuk lebih simpel bisa klik nama Oh La Vita dan Minta dibantu Google msp, semua pasti beres.


Tinggalkan komentar

Silahturahmi dan Kebersamaan

Oleh Sri Sugiastuti

Apa potensi diri yang Anda miliki? Tidak tegaan, berarti Anda bisa jadi ahli sedekah. Suka menahan lapar, Anda bisa jadi ahli puasa Suka membaca bisa jadi ahli baca Alquran, Nah suka ngebolang, bisa jadi ahli silaturahmi. Melalui potensi itu kita bisa mengetuk pintu surga

Bu Kanjeng punya hobi ngebolang dan silaturahminya getol luar biasa. Tidak heran bila ia banyak teman. Bu Kanjeng hampir tiap hari bersilaturahmi walaupun hanya lewat WA. Ia bisa menyapa sahabatnya yang bisa terhubung dengan medsos.

Beberapa waktu lalu, masih suasana Idul Fitri, saat ia sedang di Yogya ada sohibnya yang bertandang ke Solo. Rasa rindunya membuncah
Sudah lama tidak jumpa fisik walaupun tiap hari kontak lewat Dumay. Bu Kun sohibnya yang tinggal di Ambarawa sedang quality time bersama keluarganya refeshing sejenak di taman Balekambang Solo.

Tentu saja ini momen istimewa buat bu Kanjeng agar bisa berjumpa dengan keluarga bu Kun dalam formasi lengkap. Ada suami, anak , mantu dan cucu. Kodratullah pertemuan sore hari di taman balekambang bisa jadi pengobat rindu. Waktu yang singkat bisa menikmati kebersamaan sejenak dan berbagi.

Bu Kun dan keluarga memilih taman balekambang yang lumayan sejuk terletak tak jauh dari rumah Bu Kanjeng. Taman ini sudah ada sejak ratusan tahun, taman yang dipersembahkan seorang raja kepada permaisurinya. Di sekitar taman memang tumbuh pohon yang umurnya sudah ratusan tahun, ada kolam ikan untuk memancing yang cukup luas, kebun binatang mini yang berisi reptil, rusa yang berkeliaran di sekitar taman, dilengkapi kolam bundar yang ada air mancur kecil dan ada patung di tengahnya. Baik pagi, siang atau sore taman itu layak dikunjungi.

Di taman balekambang sering diadakan berbagai event untuk lomba, panggung gembira atau suatu kegiatan yang bersifat hiburan sekaligus mengedukasi masyarakat. Sehingga apa yang jadi program pemerintah bisa sampai pada masyarakat. Di taman balekambang yang dulu sering digelar dua kesenian rakyat yaitu srimulat dan ketoprak. Saat ini yang masih bertahan hanya ketoprak, itu pun sepi pengunjung.

Pertemuan bu Kanjeng dan bu Kun dilanjut kuliner nasi liwet. Waktu yang nanggung karena jelang magrib memang kurang nyaman, tetapi melihat situasi dan kondisi okelah. Dua mobil yang berisi bu Kanjeng dan keluarga bu Kun meluncur ke arah yang ada di google map. Awalnya bu Kanjeng sempat gagal fokus dan ngeblank dengan lokasi yang ada di google map, begitu sampai di lokasi baru paham, ternyata ada di pojok sebelah barat pasar Kembang jalan Rajiman.

Sebuah kedai tenda dengan branded mba Bety yang buka pukul 17.00. Khusus menjual nasi liwet dan cabuk rambak plus aneka minuman pendukung, teh dan air jeruk. Warung itu terlihat cukup ramai, tapi pelayanannya cepat. Nasi liwet itu adakah satu khas masakan Solo , yang terdiri dari nasi gurih yang diberi santan, garam dan daun salam, sedang toping atau pelengkapnya, sayur sambal goreng jipan atau pepaya muda. Sedang lauknya, ada telur rebus, dan opor ayam yang menjadi khas adalah adanya areh. Yaitu santan kental yang berbumbu gurih.

Keluarga bu Kun sangat menikmati nasi liwet, sementara bu Kanjeng merasa ketemu jodoh menikmati cabuk rambak. Makanan itu berupa ketupat yang diiris tipis, atasnya diberi bumbu atau sauce sambal wijen dengan bumbu bawang putih dan daun jeruk. Masih dilengkapi dengan karak atau kerupuk beras.

Sambil menikmati cabuk rambak bu Kanjeng sempat diskusi kecil dengan bu Kun tentang literasi yang jadi passion mereka. Momen ini jadi ajang berbagi dan saling support agar bisa lebih bermanfaat lagi di sisa usia yang mereka miliki.

Tak terasa waktu bergulir , mereka harus berpisah. Bu Kun dan keluarga harus pulang ke Ambarawa, sementara bu Kanjeng sudah di WA, anak mantu yang mau ngajak makan malam bersama di sebuah Restro masakan Italia “Oh Lavita”.

“Alhamdulillah yaa Allah, Kau berikan berbagai kenikmatan, kesehatan, dan kesempatan dalam hidup kami.” Ucap syukur bu Kanjeng atas semua karunia yang Allah berikan.

Catatan 5 Syawal 1440 H


Tinggalkan komentar

MEDIA UNTUK JURNAL


Oleh Sri Sugiastuti

Pada dasarnya kita bisa pakai apa saja. Buku tulis, agenda, buku gambar, jurnal yang sudah siap pakai dsb. Tapi jeng Julie lebih suka dengan model yang lagi nge-trend di sini. Yakni yang dinamakan DOT GRID JOURNALING.

Dot Grid ini adalah notes atau semacam agenda yang halamannya hanya terisi titik-titik. Tidak ada tanggal, kolom dab seperti layaknya agenda. Jadi ya kosong gitu.

Selain itu, jurnaling juga membantu kita untuk “stay on track” terhadap goal diri sendiri. Kan sering tuh kita kena euphoria trend. Orang lagi diet Keto, kita ikut. Orang diet ini itu, kita ikut. Tapi cuma seminggu, setelah itu nggak lanjut.

Kita bikin resolusi ini itu, ya hasilnya cuma sebulan dua bulan. Setelah itu ilang deh. Kita juga terlalu banyak menghabiskan waktu di medsos. Berapa jam nih dalam sehari kita mantengin medsos? Rata-rata pasti lebih dari satu jam. Bahkan ada yang 6 jam sehari! Padahal, waktu sebanyak itu, akan jauh lebih bermanfaat jika kita gunakan untuk hal lain.

Nah, dengan jurnaling, kita bisa membantu diri kita untuk stay on track. Karena tercatat, kita jadi tahu bahwa ada banyak sekali hal yang tak perlu kita lakukan, dan kita bisa mengubahnya di hari berikutnya.
Jadi nanti, kita bisa isi sendiri sesuai kemauan kita. Bisa bikin kolom, gambar, tulisan dsb.

Kapan sebaiknya menulis jurnal? Waktu yang paling tepat untuk menulis jurnal, bisa pada malam hari saat hendak tidur. Itu bagus untuk mengisi kolom To Do List dan hal-hal lain yang akan dikerjakan esok harinya. Kemudian kolom kontemplasi, kalau saya suka muncul mendadak, jadi segera tulis saja ketika pikiran itu muncul. Kalau ada ide, biasanya ini muncul pada pagi hari, terutama sehabis subuhan atau baru bangun tidur. Sebaiknya ditulis saat itu juga, agar ide tidak hilang.

Waktu untuk menulis jurnal bisa fleksibel. Seperti jurnal traveling, itu bisa tulis setelah sampai di hotel dan hendak istirahat. Kalau kontemplasi atau ide, sesuai dengan waktu munculnya. Sedangkan To Do List dibuat tiap malam sebelum tidur, sebagai persiapan aktifitas esok hari.

Nulis jurnal tidak perlu setiap hari. Kita bisa menulisnya sesuai kebutuhan. Kecuali bagi yang sedang tracking habit, maka itu nulisnya tiap hari karena ada yang perlu dimonitor.

Jurnal bisa kita sebut dengan catatan harian, logbook, agenda, field notes tergantung pada penggunanya. Biasanya, agenda identik dengan kolom aktifitas yang saklek. Kita bisa pakai itu untuk tujuan khusus. Sedangkan jurnal dot grid seperti yang dicontohkan, itu lebih fleksibel dan bisa menjadi saluran kreatifitas kita.

Untuk jurnal penjualan, ada baiknya pakai jurnal yang siap pakai. Seperti agenda pencatatan keluar masuk barang, harga, dsb. Sebab penjualan perlu akurasi data keluar masuk barang dan uang.

Jurnal Penelitian/observasi adalah aktifitasnya. Sedangkan journaling adalah proses perekamannya ke dalam field notes/journal. Saat kita melakukan observasi, semua harus dicatat dalam jurnal khusus. Jangan lupa mencantumkan tanggal dan lembar halaman, karena ini perlu terutama kalau kita akan memasukkannya dalam tabulasi seperti SPSS.

Inilah kelebihan menulis jurnal dengan menggunakan media berupa dot grid atau buku polosan. Sebab itu bisa diisi oleh apapun yang kita mau, dengan gaya kita.

Orang-orang yang bertipe kreatif biasanya memang tidak suka dibatasi jadi kalau kebetulan bertipe kreatif, pakai saja yang dot grid atau polosan. Nanti bikin sendiri kotak-kotaknya, tulisan, gambar dsb.

Ada juga seniman dan perancang busana di sini yang gemar sekali pakai cat air, spidol dll termasuk contoh-contoh perca ke dalam jurnalnya.

Boleh kah nulis Jurnal di tablet? Itu boleh No problem. Kita tidak harus nulis pakai tangan. Dan kalaupun tulisan tangan kita jelek menurut kita, ya no problem. Kan jurnal itu kita simpan untuk diri sendiri

Jeng Julie lebih suka nulis jurnal pakai tulisan tangan, karena menulis dengan tangan itu bisa untuk terapi. Syaraf-syaraf di jari akan lebih aktif, dan bisa boosting otak kita untuk bekerja lebih kreatif. Juga bisa untuk penyaluran emosi. Jadi unsur terapeutiknya tinggi.

Itulah sedikit ulasan saya ketika sharing tentang nulis Jurnal. Asyik kan! Siapa yang sudah rutin nulis Jurnal atau yang baru niat? Semoga yang sedikit ini bermanfaat ya.

Sri Sugiastuti seorang pegiat literasi yang suka belajar kesana kemari dan berbagi.


Tinggalkan komentar

MEDIA UNTUK JURNAL

Lanjutan

Pada dasarnya kita bisa pakai apa saja. Buku tulis, agenda, buku gambar, jurnal yang sudah siap pakai dsb. Tapi jeng Julie lebih suka dengan model yang lagi nge-trend di sini. Yakni yang dinamakan DOT GRID JOURNALING.

Dot Grid ini adalah notes atau semacam agenda yang halamannya hanya terisi titik-titik. Tidak ada tanggal, kolom dab seperti layaknya agenda. Jadi ya kosong gitu.

Selain itu, jurnaling juga membantu kita untuk “stay on track” terhadap goal diri sendiri. Kan sering tuh kita kena euphoria trend. Orang lagi diet Keto, kita ikut. Orang diet ini itu, kita ikut. Tapi cuma seminggu, setelah itu nggak lanjut.

Kita bikin resolusi ini itu, ya hasilnya cuma sebulan dua bulan. Setelah itu ilang deh. Kita juga terlalu banyak menghabiskan waktu di medsos. Berapa jam nih dalam sehari kita mantengin medsos? Rata-rata pasti lebih dari satu jam. Bahkan ada yang 6 jam sehari! Padahal, waktu sebanyak itu, akan jauh lebih bermanfaat jika kita gunakan untuk hal lain.

Nah, dengan jurnaling, kita bisa membantu diri kita untuk stay on track. Karena tercatat, kita jadi tahu bahwa ada banyak sekali hal yang tak perlu kita lakukan, dan kita bisa mengubahnya di hari berikutnya.
Jadi nanti, kita bisa isi sendiri sesuai kemauan kita. Bisa bikin kolom, gambar, tulisan dsb.

Kapan sebaiknya menulis jurnal? Waktu yang paling tepat untuk menulis jurnal, bisa pada malam hari saat hendak tidur. Itu bagus untuk mengisi kolom To Do List dan hal-hal lain yang akan dikerjakan esok harinya. Kemudian kolom kontemplasi, kalau saya suka muncul mendadak, jadi segera tulis saja ketika pikiran itu muncul. Kalau ada ide, biasanya ini muncul pada pagi hari, terutama sehabis subuhan atau baru bangun tidur. Sebaiknya ditulis saat itu juga, agar ide tidak hilang.

Waktu untuk menulis jurnal bisa fleksibel. Seperti jurnal traveling, itu bisa tulis setelah sampai di hotel dan hendak istirahat. Kalau kontemplasi atau ide, sesuai dengan waktu munculnya. Sedangkan To Do List dibuat tiap malam sebelum tidur, sebagai persiapan aktifitas esok hari.

Nulis jurnal tidak perlu setiap hari. Kita bisa menulisnya sesuai kebutuhan. Kecuali bagi yang sedang tracking habit, maka itu nulisnya tiap hari karena ada yang perlu dimonitor.

Jurnal bisa kita sebut dengan catatan harian, logbook, agenda, field notes tergantung pada penggunanya. Biasanya, agenda identik dengan kolom aktifitas yang saklek. Kita bisa pakai itu untuk tujuan khusus. Sedangkan jurnal dot grid seperti yang dicontohkan, itu lebih fleksibel dan bisa menjadi saluran kreatifitas kita.

Untuk jurnal penjualan, ada baiknya pakai jurnal yang siap pakai. Seperti agenda pencatatan keluar masuk barang, harga, dsb. Sebab penjualan perlu akurasi data keluar masuk barang dan uang.

Jurnal Penelitian/observasi adalah aktifitasnya. Sedangkan journaling adalah proses perekamannya ke dalam field notes/journal. Saat kita melakukan observasi, semua harus dicatat dalam jurnal khusus. Jangan lupa mencantumkan tanggal dan lembar halaman, karena ini perlu terutama kalau kita akan memasukkannya dalam tabulasi seperti SPSS.

Inilah kelebihan menulis jurnal dengan menggunakan media berupa dot grid atau buku polosan. Sebab itu bisa diisi oleh apapun yang kita mau, dengan gaya kita.

Orang-orang yang bertipe kreatif biasanya memang tidak suka dibatasi jadi kalau kebetulan bertipe kreatif, pakai saja yang dot grid atau polosan. Nanti bikin sendiri kotak-kotaknya, tulisan, gambar dsb.

Ada juga seniman dan perancang busana di sini yang gemar sekali pakai cat air, spidol dll termasuk contoh-contoh perca ke dalam jurnalnya.

Boleh kah nulis Jurnal di tablet? Itu boleh No problem. Kita tidak harus nulis pakai tangan. Dan kalaupun tulisan tangan kita jelek menurut kita, ya no problem. Kan jurnal itu kita simpan untuk diri sendiri

Jeng Julie lebih suka nulis jurnal pakai tulisan tangan, karena menulis dengan tangan itu bisa untuk terapi. Syaraf-syaraf di jari akan lebih aktif, dan bisa boosting otak kita untuk bekerja lebih kreatif. Juga bisa untuk penyaluran emosi. Jadi unsur terapeutiknya tinggi.

Itulah sedikit ulasan saya ketika sharing tentang nulis Jurnal. Asyik kan! Siapa yang sudah rutin nulis Jurnal atau yang baru niat? Semoga yang sedikit ini bermanfaat ya.

_Sri Sugiastuti seorang pegiat literasi yang suka belajar kesana kemari dan berbagi._


Tinggalkan komentar

Nulis Jurnal Yuk*

_Oleh :Sri Sugiastuti_

Rezeki itu tidak selalu berupa uang atau sesuatu yang berhubungan dengan materi. Ilmu yang saya peroleh secara ngga sengaja itu juga rezeki. Seperti yang saya tuliskan kali ini.

Singkatnya ketika sedang asyik berWAG ria ada info bakal ada kelas sharing online tentang Manfaatnya Menulis Jurnal. Tentu saja saya bergairah, Ahay ada yang saya dapat nih, apalagi pematerinya Jeng Artha Julie Nava seorang Outhor, personal banding, social branding, analyst, yang tinggal di Amrik.

Setelah say helo, sharing online dimulai. Menulis jurnal, sebetulnya bukanlah hal yang baru. Manusia sudah melakukan pencatatan terhadap aktifitas mereka sejak dulu kala. Kalau kita melihat dari catatan sejarah, ada banyak sekali bukti bahwa teknik jurnaling ini sudah dilakukan sejak dulu kala. Contohnya: masyarakat Mesir yang hidup sekitar 4500 tahun lalu, sudah menggunakan jurnal ketika mereka membangun piramida Giza.

Begitu juga dengan Leonardo da Vinci rajin menulis ide-idenya dalam jurnal. Lengkap dengan deskripsi mesin dan sebagainya yang jadi penemuan dia. Ada juga Frieda Kahlo. Ia pelukis terkenal dari Meksiko. Karena ia pelukis, dan jiwa seninya tinggi, tidak heran kalau jurnalnya juga penuh berisi goresan kuas dan warna.

Logbook alias jurnal kuno masa Mesir yang memuat jadwal pembangunan menara Giza sekitar 4500 tahun lalu pda masa 27 tahun pemerintahan raja Khufu. Lengkap dengan nama inspekturnya yang bernama Merer, dan ia membawahi 200 pekerja. Pengawasnya dari pejabat istana bernama Ankhaf, saudara tiri raja Khufu. Jurnal ini ditemukan di situs

Jurnal juga digunakan oleh ilmuwan, seniman, peneliti, dan penulis, selalu mencatat aktifitas dan pemikiran mereka dalam jurnal. Jeng Julie mem berikan contohnya ketika ia menggunakan jurnal sejak lama, karena pekerjaan saya sebagai social researcher yang harus ke lapangan dan mengumpulkan data.

Pertama kali yang mengenalkan sistem jurnal adalah professornya dari Cambridge University. Namanya Judith Ennew. Dia sekarang sudah almarhum. She is the best, guru paling hebat yang pernah dia kenal, Ia mendapatkan untuk soal penelitian sosial. Orangnya jutek, nggak toleran terhadap kesalahan sekecil apapun.

BEDA JURNAL DENGAN DIARY

Sebetulnya sih nggak beda-beda amat, karena fungsi keduanya adalah untuk mencatat/merekam hal-hal yang dialami oleh seseorang.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, orang membuat perbedaan tentang Diary dan Jurnal.

Diary, adalah istilah untuk catatan tentang aktifitas keseharian, mulai dari pagi hingga malam. Dan pencatatannya runtut, dari A (bangun tidur biasanya) hingga ke Z (saat pergi tidur lagi). Sehari penuh, dan tanpa tema spesifik.

Sedangkan Jurnal, adalah aktifitas menulis atau merekam sesuatu yang dialami penulisnya secara lebih rinci, dan dengan tema spesifik. Ia tidak sekedar mencatat aktifitas keseharian, namun juga bisa disertai dengan goal khusus. Misalnya daftar aktifitas yang harus dijalankan, goal untuk Mindset, goal untuk diet, goal olahraga, ngaji, dan sebagainya.

Pendeknya, jurnal punya tujuan yang lebih spesifik. Selanjutnya, sistem jurnal yang biasa jeng Julie gunakan untuk merekam jejak problem ya.

Kebetulan dia sering dapat gangguan berupa mimpi aneh-aneh. Akhirnya, ketimbang bingung sendiri, ia catat saja, sembari melakukan terapi spiritual semacam doa, dzikir, berpikir positif, rukyah, dll.

Alhamdulillah sekarang gangguannya sudah jauh berkurang. Mimpinya bagus-bagus sekarang, lucu, konyol, indah. Semacam itu. Ia hampir tidak pernah lagi bermimpi buruk. Dan kalaupun ada, itu cepat hilang sehingga tidak bisa dicatat.

Perbedaannya lagi, jurnal itu lebih fleksibel. Kita bisa memasukkan sekaligus beberapa hal yang kita anggap penting. Misalnya nih: kita punya goal diet, goal olahraga dll… itu bisa kita masukkan sekaligus ke dalam satu catatan. Jadi kita tidak lagi pakai agenda terpisah-pisah. Sekali jalan, beberapa pulau terlampau.

Dan jurnal juga bisa jadi penyalur kreatifitas kita. Misalnya kita gemar corat-coret (ini biasanya tipe Kinesik), kita bisa gunakan gambar, foto, warna-warni, kain perca dll… seperti halnya kita sedang scrapbooking.

Kita bisa memasukkan desain baju yang sedang kita rancang, bersamaan dengan jadwal harian, curhat dsb. Jadi, jurnal tidak harus hanya berupa tulisan. Seandainya muat pun, temen-temen bisa taruh pohon beringin di dalamnya istilahnya gitu.Menarik, bukan?

Kemudian, sistem jurnaling sesekali bisa dipakai untuk kelas Semacam Terapi Ikhlas, dan Menemukan Daya Tarik Diri serta Potensi Alamiah.

Jeng Julie berbagi bahwa Darwin, si Bapak Evolusi. Ia selalu mencatat dengan cermat setiap hal yang ditemukannya. Lengkap dengan gambar, peta, nomor penemuan, tanggal, dan sebagainya. Dari catatan hasil lapangan inilah, ia akhirnya berhasil menyajikan teorinya yang terkenal tentang evolusi.

Sistem jurnal, digunakan juga untuk membantu kita agar bisa FOKUS dalam kegiatan keseharian. Kita perlu banget ya, melatih diri untuk fokus. Apalagi buat mereka yang punya bisnis dan punya seabrek kegiatan. Kalau kita nggak fokus, ya gud bai deh yang namanya kesuksesan.

_Bersambung ya.._


Tinggalkan komentar

Masa Depan Profesi Menulis

_Oleh: Sri Sugiastuti_

Sudah kah Anda dapat bukti ada banyak orang sukses karena menulis buku? Atau orang yang sudah sukses lalu menulis buku? Konon menulis buku cara paling efektif adalah melipatgandakan kesuksesan.

Yang jadi pertanyaan siapkah Anda punya buku sendiri? Silakan dijawab, jadikan PR, atau cukuplah direnungkan saja. Pernahkah Anda mendengar istilah writerprenuer.”? Mereka biasanya disebut sebagai penulis lepas. Punya posisi mandiri.

Mengapa Masa depan profesi menulis perlu Anda ketahui sehingga profesi menulis menjadi pilihan utama. Ini fakta menariknya. Penulis itu tidak terkait kontrak kerja dari lembaga, perusahaan atau organisasi manapun. Penulis ini memiliki posisi merdeka.

Penulis lepas itu tidak tertekan, tidak dikejar _deadline_ , meskipun begitu ia punya jadwal kerja, target kerja yang ia buat sendiri secara jelas.

Artinya apa? _Ia bisa menjalankan profesi menulis ini dengan menyenangkan. Awet muda, banyak teman dan selalu berpikir positif_

Nah, jika menggunakan kaca mata profesi _Cashflow Quadrantny Robert Kiyosaki_ , profesi semacam ini masuk dalam Quadrat S ( _self employ_ ), artinya ia kerja untuk dirinya sendiri sebagai profesional.

Membaca paparan di atas pasti menggiurkan, berbahagia lah Anda bila punya passion menulis, mimpi Anda untuk menjadi orang sukses sudah di depan mata, tinggal lakukan, 3M, Menulis, Menulis menulis.

Beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Penulis Lepas:

1. Menulis buku sendiri dan diterbitkan sendiri ( _Self Publishing_ ) kerja sama dengan Penerbit.
2. _Blogger_ , menulis konten yang ia sukai.
3. Penulis artikel di media massa, portal berita bukan sebagai jurnalis, tapi sebagai koresponden.
4. _Ghostwriter_ , membantu orang lain menulis buku dengan jasa ketiknya.

Pekerjaan penulis lepas yang mungkin saja bisa menjadi rekomendasi teman-teman semua, jika ingin menekuni pekerjaan-pekerjaan tersebut dalam bidang penulisan, yaitu Menulis Buku. lalu ciptakan personal branding Caranya bagaimana? Jangan lelah untuk mengupgrade diri terus lah belajar dengan penuh semangat.

Tulisan ini terinspirasi dari belajar menulis online baik yang gratisan maupun berbayar. Saya pribadi sering tergoda dengan yang gratis padahal ujung-ujungnya tetap diarahkan untuk gabung dan berbayar. Jelas semua ada plus minusnya. Bisa sukses bisa gagal, semua kembali ke niat juga seberapa serius Anda berkomitmen dengan keputusan yang sudah diambil.

Salam Literasi penuh cinta