Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Syawal Bulan Peningkatan nan Menawan

Tinggalkan komentar

Oleh : Sri Sugiastuti

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS.3:200)

Bu Kanjeng memaknai ayat tersebut sebagai penguat hidupnya di usianya yang sudah tidak muda lagi. Sudah puluhan kali Idul Fitri berlalu dan selalu ada semangat untuk bisa naik kelas, mengupgrade diri agar lebih baik.

Siapakah bu Kanjeng? Dia hamba Allah yang merasa keimanan harus tetap dijaga dan sadar bahwa kehidupan di dunia hanyalah senda gurau juga tipuan semata. Tetapi mengapa ia masih sering lalai dan terlena dengan indahnya dunia. Bu Kanjeng tak boleh menyalahkan setan. Walau pekerjaan setan memang mengganggu manusia.

Dalam mengisi Ramadan yang jadi 1 bulan full barokah bu Kanjeng berusaha memanfaatkan momen itu sesuai potensi yang dimiliki karena banyak sekali amalan kebaikan yang bisa kita rasakan dikerjakan dan ganjarannya akan dilipatgandakan. Bu Kanjeng berusaha agar puasanya tidak bolong, bertadarus di masjid bada sholat taraweh dan sholat subuh. Duduk manis di masjid sambil mendengarkan tausyiah dan juga belajar tahsin Betul-betul imannya dipupuk dan disirami agar tidak kering kerontang

.Ia dan suaminya kodratullah bisa mengawali 10 hari terakhir Ramadan di sebuah pondok yang bernama pondok Husnul khotimah, sebuah pondok yang diperuntukkan bagi lansia yang ingin menuju husnul khotimah.Untuk sampai ke pondok husnul khotimah cukup menguras perasan bu Kanjeng dan rombongan, maklum mereka belum paham Medan dan antara denah manual dan Google map berbeda.

Mereka tiba di pondok husnul khotimah sore ini. Setelah berjuang untuk bisa sampai ke alamat yang dituju. Sambutan yang ramah dari panitia mengajak mereka segera berwudhu dan lanjut shalat berjamaah di masjid yang cukup megah dengan ormanen etnik Jawa.

Selesai shalat mereka diberi kunci kamar termasuk daftar nama peserta sekamar yang berjumlah 6 orang. Pembagian buku materi dan alat tulis terkesan cepat dibagikan dan di buku itu tertera lengkap susunan acara dan materi yang akan diterima selama mengikuti Santri Weekend Husnul khotimah. Kamar bu Kanjeng dan 5 temannya ada di deretan sebelah timur dari masjid agak turun melalui beberapa anak tangga.

Di sekitar pondok terhampar tamanan sereh dan, pohon tin, kebun bunga, pohon singkong, pepaya dan beberapa tanaman lain yang tumbuh subur. Hamparan sawah ijo royo-royo menyejukkan mata. Sinar matahari sore yang mulai meredup terlihat dari celah lereng gunung Lawu. Subhanallah betapa bersyukur hati bu Kanjeng bisa menikmati semua ciptaan – Nya.

Alhamdulillah, bu Kanjeng bisa langsung menaruh barang dan melapisi tempat tidur kami dengan sprei dan sarung bantal yang dibawa dari rumah. Itu pesan bu Lestantun agar bu Kanjeng lebih nyaman. Selimut kesayangan pun keluar dari koper kecil yang dibawa. Setelah itu mandi dan merasakan kesegaran air gunung Lawu, dan lanjut bersegera menuju ke masjid lagi.

Sore jelang berbuka memang sudah ada kajian yang sebelumnya sudah diperkenalkan oleh panitia dan siapa saja keluarga besar yang ada di pondok. Kegiatan dari pondok ini sengaja dibuat untuk usia 40 tahun keatas agar mudah menyiapkan ikhtiar husnul khotimah.

.Ilustrasi tausyiah yang mengawali dengan perumpamaan hidup ini bagai bunga dan masing – masing sudah ada takdirnya, siapa yang memetik, di saat mekar, kuncup atau layu berguguran tak berguna. Jadi sebagai manusia harus siap dipetik oleh malaikat penyabut nyawa kapan pun bila Perintah Allah sudah turun.Bunga itu bak hidup kita. Ada yang jadi minyak wangi, bunga tabur, penghias ruang, dipetik kuncupnya, atau di saat mekar dan layu.

Intinya jangan pernah takut berbuat baik selama masih diberi kesempatan hidup.Namun semua itu harus dipersiapkan dengan amalan yang dimiliki bila ingin husnul khotimah begitu banyak ayat yang berkisah sekaligus mengingatkan tentang kematian yang jaraknya begitu dekat dan pasti.

Memahami sekaligus merenungkan tentang tahapan umur sudah waktunya orang berusia 40 ke atas bermuhasabah diri, selama ini apa saja yang sudah diperbuat.Sambil menunggu azan magrib untuk segera dilanjutkan dengn berbuka puasa, mereka diberi PR, nanti malam selesai shalat tahajud, untuk bermunajat pada Ilahi agar ikhlas bila dipanggil kapan pun.

Pondok ini memang ditujukan untuk mereka yang sadar bahwa mereka punya kampung akherat dan tidak ingin menyesal kekak. Pondok ini tempat yang tenang, di lereng gunung, asri dengan tanaman yang terawat rapih. Semua itu mengingatkan kita pada sang Pencipta Allah SWT.

Dalam hitungan menit azan magrib bergema, sebelumnya diiringi dengan pujian pada Allah menggunakan bahasa Jawa. Lalu mengglegar suara beduk dipukul . Semua itu menggetarkan kalbu..Alhamdulillah puasa hari ke 20 dilalui.Berada di pondok selama 3 hari 2 malam, nyantri ala anak pondok, mendapatkan ilmu sekaligus merasakan ketenangan batin yang luar biasa bagi bu Kanjeng ini sebagai karunia Allah yang sangat disyukuri.

Kegiatan pagi sebelum meninggalkan pondok bu Kanjeng dan kawan-kawan beranjangsana ke rumah penduduk sekaligus tadabur alam. Suasana damai di sekitar desa, rumah penduduk yang bervariasi tingkat ekonominya, dan tetap ada yang harus dibantu atau sekedar berbagi.

Ini satu kesempatan bagi bu Kanjeng. Ia bisa bersilaturahmi dan muhasabah diri dengan apa yang sudah dialami selama ini. Ia bertekad di sisa hidupnya harus bisa lebih baik, baik, dan baik. Ia harus menjaga iman dan taqwanya dengan siraman rohani, Muhasabah Diri dan terus mengupgrade diri

Idul Fitri tiba, saatnya umat Islam terutama yang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan sungguh – sungguh hatinya menangis, Bu Kanjeng sedih Ramadan segera pergi. Akan kah ia berjumpa Ramadan lagi. Sudah cukupkah bekal yang akan dibawa pulang ke kampung akherat.

Terlihat perasaan galau dan di hatinya.Ramadan tetap pergi dan Syawal pun datang. Saatnya bu Kanjeng yang ingin berubah jadi kupu-kupu cantik tetap menjaga semangat ibadah di bulan Ramadan untuk 11 bulan lainnya.

Undangan dan kegiatan Halal bihalal pun berdatangan. Selalu diisi dengan berbagai tausyiah dengan tema Idul Fitri dan maknanya. Bu Kanjeng sempat menyimak makna Idul Fitri yang disampaikan oleh Gus Noeril Huda dari pondok husnul khotimah Karangpandan.

Manakala musim bunga telah pergi dan taman-taman jadi kerontang, dari mana kah kau akan_
mencari wewangian bunga mawar?(Rumi)

Wewangian bunga mawar masih ada di rumah kita, kataku. Karena kala musim itu kita bawa pulang tiga kembang, dan kita rawat dengan baik, tetap segar dan berbunga pula.__

Ramadan itu awalnya Rahmah, tengahnya maghfirah, akhirnya ‘itqun minannar.__Meski Ramadan telah berlalu, 11 bulan lainnya akan tetap jadi Ramadan bila manusia tetap membawa dan memelihara dengan baik serta meluberkan wangi dan indahnya 3 kembang ke sekelilingnya curahan rahmat (kasih sayang/welas asih), maghfirah (maaf memafkan) dan itqun minannar (menghindari dholim ada yang lain dan tidak mudah menuntut balas kedholiman orang lain).

Memelihara “wangi mawar Ramadan” dengan tetap memelihara hanya harapan/kehendak yang baik kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin dan kepada seluruh manusia.

Wallahu a’lam

Mendengar apa yang disampaikan itu hati bu Kanjeng merasa makcles, semoga ia bisa mengamalkannya.

Sri Sugiastuti pegiat literasi tinggal di Solo

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s