Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Noda Kecil Jelang Shalat Ied

Oleh : Sri Sugiastuti

Tidur awal waktu karena lelah seharian di dapur, membuat bu Kanjeng terjaga lebih awal dari jadwal shalat tahajudnya. Saat itu pukul 02.00 dini hari. Seperti biasa usai shalat ia membangunkan pak Kanjeng dan anaknya yang sudah datang sejak seminggu yang lalu.

Suasana sahur masih terasa di saat takbir berkumandang menggetarkan jiwa. Sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri hari kemenangan. Setelah sebulan berpuasa sanggup kah kembali suci dan menjadi lebih baik.

Jelang azan subuh mereka sudah menyiapkan diri untuk kegiatan sholat Ied, tata cara yang wajib dan sunnah diperhatikan, termasuk sarapan pagi. Bu Kanjeng menyiapkan makanan dengan hati riang.

“Yes, menu yang akan terhidang hari ini, ketupat, sambel goreng tolo plus krecek, sayur jipan bersantan, dan terik daging sapi pelengkapnya krupuk udang.” Itu semua sudah terprogram di benak bu Kanjeng.

Entah ada setan lewat, atau terlalu capek, tiba-tiba bu Kanjeng baper, emosinya meledak ketika ia masih melihat ada tiga bingkai tempat foto teronggok di atas meja. Padahal semalaman ia mendengar dan melihat kesibukan pak Kanjeng menata rumah.

“Itu bingkai dan foto sudah berbulan-bulan ngga disentuh apalagi dipasang, padahal cetak dan milih bingkainya butuh kesabaran karena harus antri dan milih foto dari ribuan yang ada di galeri hape. Sekarang tinggal masang, sudah berbulan-bulan belum juga terpasang.” Omelnya penuh emosi.

“Ada apa toh Bu, koq kesetanan kayak gitu, aku tuh bingung, mau ditata seperti apa? Barusan baik-baik aja koq jadi ngamuk ngga karuan!” Sahut Pak Kanjeng.

Bu Kanjeng semakin emosi. Diambilnya foto itu lalu disobek- sobek, hampir saja bingkai itu dibantingnya. Tapi dia masih bisa menahan diri. Kemarahannya pada pak Kanjeng yang dianggap hanya peduli dengan lukisan jadul koleksi hasil huntingnya di pasar loakan lebih berharga dari pada bingkai foto keluarga yang disiapkan bu Kanjeng.

Memang sepertinya sepele, tetapi bu Kanjeng merasa ide dan usahanya diabaikan. Itu yang membuatnya marah. Untung Pak Kanjeng tidak terpancing. Ia memilih diam.

Tentu saja suasana itu membuat si anak yang melihat kemarahan ibunya jadi tidak nyaman. Diambilnya bingkai dan sebagian foto yang terselamatkan dari kemarahan bu Kanjeng. Lalu disusun dalam bingkai. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya.

Azan subuh bergema, mereka bertiga berangkat ke masjid dengan perasaannya masing-masing. Bu Kanjeng langsung menyesali tindakannya yang kadang arogan dan menumpahkan kemarahan di depan anak, walaupun anaknya sudah dewasa.

“Aku ngga mau sholat Ied kalau bapak sama ibu ngga mau berbaikan.” Ancamnya.

Nyatanya bu Kanjeng masih memendam rasa kesal, akhirnya mereka berangkat sholat Ied masing-masing. Usai sholat Ied, si anak tidak ada di rumah. Hanya ada pesan di WA bu Kanjeng.

“Aku ngga mau pulang kalau Ibu belum sungkem sama bapak!” Pesannya.

“Wong tadi selesai sholat Ied ibu sudah minta maaf sama bapak.”Balas bu Kanjeng.

Ditunggu 30 menit sang anak belum juga membalas.

Bu Kanjeng akhirnya mengancam.
“Ibu tunggu kalau jam. 8.00 belum ada di rumah ibu tinggal pergi.”

“Aku pulang nanti kalau mas-masku sudah datang.” Balas si anak

Akhirnya bu Kanjeng menghibur diri dengan menyelesaikan pekerjaannya mencuci baju dan menata meja.. Sambil melayani tamu tetangga kanan kiri yang datang silih berbagi.

Tamu yang diharapkan pun tiba, anak yang nomer 3 datang bersama anak dan istrinya. Suasana mulai mencari, kedatangan cucu harus disambut dengan senyuman. Jeda 15 menit si Sulung lengkap dengan pasukannya mengetuk pintu, suasana tambah ceria.

Mungkin mereka kompak dan sudah dapat bocoran dari adiknya kalau bu Kanjeng marah tadi pagi tetap mereka tidak memperkeruh suasana. Sang adik pun datang. Setelah agak santai baru si Sulung punya gagasan,

“Ayo acara sungkeman dimulai”

“Iya tuh, ibu tadi pagi, baru selesai Ramadan malah emosi jiwa, cuma gara-gara foto.” si adik lapor ke mas – masnya.

Bu Kanjeng pun berganti baju, dandan cantik, pakai parfum, dan memulai acara sungkeman dengan meminta maaf kepada pak Kanjeng orang yang selama ini paling mengerti dan paham plus minusnya Bu Kanjeng.

Berurutan dari yang anak tertua, hingga cucu-cucu. Untaian doa dan harapan terucap dari hati sanubari bu Kanjeng ada rasa syukur, haru dan harapan untuk bisa lebih baik lagi.

Noda kecil jelang sholat Ied tadi pagi terlupakan, tiga bingkai foto kenangan kebahagiaan mereka di momen tertentu sudah terpasang di kamar.

Ternyata untuk menjadi orang penyabar itu butuh proses. Bu Kanjeng hanya manusia biasa yang sering kehilangan kontrol dan emosi jiwanya meledak. Hal negatif yang tidak boleh dicontoh.

_Edisi Refleksi diri di hari na fitri_
_1 Syawal 1440 H_