Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Menjadi Pemain Sirkus itu Penting*

Tinggalkan komentar

Oleh: Sri Sugiastuti

Sungguh kehidupan di dunia itu sesuatu yang menipu. Kalimat itu menjadi pengingat bu Kanjeng saat hatinya sedang galau tanpa sebab.

“Duhai Allah yang membolak balikkan hati ini, jangan biarkan hatiku berandai-andai yang tak karuan” Bu Kanjeng memohon pada Allah dari hatinya yang paling dalam.

Refleksi hati dan perenungan diri sering mengusik hatinya yang paling dalam. Terutama yang berhubungan dengan dua sosok pria yang dikirim Allah padanya. Ya dua makhluk yang sangat dekat dengannya. Bahkan sosok itu adalah darah dagingnya, sedang yang satu lagi makhluk yang berbeda karakter dan kebiasaannya. Ia dijadikan sebagai pendamping bu Kanjeng dengan segala plus minusnya.

Bu Kanjeng memang bukan perempuan biasa dia lebih pada sosok pemain sirkus yang serba bisa. Menjadi pemain sirkus itu bagian dari cara bu Kanjeng menghadapi paketan hidup yang diberikan Allah padanya. Semua itu bisa dilakoni bukan tanpa sebab. Tetapi lebih dikarenakan the power of kepepet dan karakter yang ditanamkan ibunya untuk menjadi perempuan yang pantang menyerah dan selalu optimis. Di saat menghadapi masalah, usai sholat fardu atau sunnah selalu ada pembisik hatinya. Apa yang harus dikerjakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi keluarganya.

Perjuangannya memang belum selesai walau usianya jelang seksi. (seket siji). Buah hatinya, amanah yang dipercayakan Allah padanya baru akan wisuda awal September 2019. Si anak mahal itu diharapkan sebagai pembawa kunci pintu surga untuknya. Itu lah sebabnya dalam mengawal hidupnya bu Kanjeng selalu memeluknya dalam doa. Dua buah hati yang dikirim Allah untuknya. Memeluk dengan penuh cinta dan doa untuk dua pria yang disayangi itu bagian dari ikhtiar menggapai ridha Allah.

Jiwa raga bu Kanjeng full untuk kesuksesan dunia akhirat anaknya. Tiada kata lelah atau menolak untuk semua permintaan anak demi masa depannya. Ia selalu mengharapkan yang terbaik buat buah hatinya. Dijalin komunikasi yang intens agar tidak terjadi konflik. Memahamkan padanya bagaimana sekolah di universitas kehidupan yang ada selama hayat di kandung badan.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak pernah mendurhakai Allāh terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS At Tahrim: 6)

Penggalan ayat ini jadi pedoman bu Kanjeng untuk bertahan dan berjuang sepenuh hati menjauhkan Keluarganya agar terhindar dari azab Allah. Karena peringatan-Nya begitu keras dan jelas.

Bagaimana bu Kanjeng bisa ridha dan ikhlas dengan semua ketetapan Allah? Terutama dengan takdir dan jodohnya. Tentu ini tidak mudah. Semua berproses dan perlu kesabaran tingkat dewa. Bila tidak sabar mungkin sudah *”bubar jalan grak!”*. Andai bisa memilih atau tukar tambah pasti dilakukan. _Ehh tapi wani piro?_

Beruntung lah bu Kanjeng, saat galau pun masih ada malaikat yang mendekat. Ia banyak belajar dari Al Quran yang isinya memang petunjuk, hiburan, harapan dan pembeda mana yang hak dan mana yang batil. Sehingga ia tidak tersesat, tetapi bisa menata hatinya agar tetap bersyukur.

Apalagi ketika di sebuah taklim yang diikuti bu Kanjeng pernah membahas beberapa hadis yang menjelaskan bahwa ridha suami itu salah satu kunci terbukanya pintu surga.

“Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya”. (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, di shahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/. 54).

Hadis ini sangat tegas menyatakan maqam suami. Wajibnya seorang istri untuk patuh kepada suami karena ridha suami di atas Allah dan orang tua, maka jika ingin mendapatkan ridha Allah maka wajib untuk patuh pada suami.

Untuk bisa patuh pada suami seratus persen bukan hal yang mudah. Perlu napas panjang dan pengorbanan yang luar biasa. Dan Bu Kanjeng yakin dia tidak sendiri. Masih banyak para istri yang ujiannya lebih berat dari bu Kanjeng. Rupanya itulah bagian dari episode yang dilakoni bu Kanjeng sebagai kalifah di muka bumi yang harus mepertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan di dunia ini.

Kadang bu Kanjeng tersenyum sendiri atau bahkan merasa was-was dengan apa yang sudah dilakukan dengan hati-hati. _”Lah wong yang hati-hati saja masih sering kepleset, apa lagi yang sembrono tanpa perhitungan pastinya akan celaka.”_ Cuma masalahnya mereka menyadari atau tidak.

Rupanya malam ini bu Kanjeng menyempatkan diri untuk _cooling down_, sekaligus meluruskan niat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Hidup yang bagaikan orang asing di dunia tidak harus memiliki kekayaan materi yang melimpah, cukup kaya wawasan dan mengamalkan yang sedikit diketahui dari Alquran dan As sunnah.

Soloraya bada Isya
21 Dzulqaidah 1440

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s