Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Tenang, Semua Berproses

Tinggalkan komentar

“Jangan dikira ketika anak selesai wisuda, pekerjaan langsung menghampiri dan berpuas diri. ” Kalimat itu jadi penangkal ketidaksabaran seorang anak sekaligus orangtuanya.

Bu Kanjeng boleh memberi nasihat orang lain, tapi tidak fair kalau dia tidak merasakan. Allah berikan juga rasa kekhawatiran itu padanya. Dikira setelah si anak lulus, skenario dia berlaku. Mengatur ini itu dan bermuara pada Happy ending. Ternyata tidak.

Bu Kanjeng, masih menggandeng anaknya sama seperti ketika si anak masuk Taman Kanak-kanak. Ia ke toko beli sepatu baru, baju baru dan pernak perniknya untuk persiapan magang. Dihadapi dengan senyum karena semua itu masih full tanggung jawabnya sebagai orangtua.

Sementara si anak, kekeh. Selesai kuliah kerja. Tanpa memikirkan _backgound_ ilmu yang dimiliki. Rasanya bu Kanjeng ingin membujuknya sekali lagi agar dia mau menuruti keinginan dan arahan ibunya.

Bu Kanjeng merasa masih harus banyak istiqfar dan mengingat Al Quran yang banyak menghibur dan diyakini bahwa janji Allah itu benar.

_”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15]._

Angan bu Kanjeng _flashback_ saat si buah hati berusia 5 tahun digandeng ke TK Islam yang saat itu masih langka. Ia rela bayar mahal demi pendidikan anaknya. “ora popo”. Ia ingin pondasi yang kuat untuk buah hatinya.

Keinginan bu Kanjeng juga yang mengajak anak itu lompat dari TK A, /O kecil langsung diikutkan tes masuk SD Islam yang notabene super ketat dan punya nilai plus dibanding SD umumnya. Alhamdulillah berhasil, sang anak bisa mengikuti pelajaran yang ada.

Jelang ujian kelas 6, bu Kanjeng sibuk lagi. Anaknya yang saat itu sedang berada di kelas, dimintakan izin mengikuti tes di MTS negeri yang membuka kelas full Day. Sang anak tidak bisa protes tapi berkata lirih.

“Ibu, apakah aku pintar dan bisa masuk di sekolah itu?”

“Hhhsst, pokoknya dicoba.” bu Kanjeng masih ingat itu hari terakhir pendaftaran dan si anak langsung mengerjakan tes yang sudah ada di ruang komputer, lanjut tes baca tulis Al Quran dan tes wawancara. Satu hari selesai lusa sudah pengumuman. Alhamdulillah anak itu diterima walaupun bukan di urutan terbatas.

Tak terasa tiga tahun dijalani dan sampai pada jenjang berikut. Sang anak sudah berinteraksi dengan smartphone juga warnet. Ini yang sering membuat perut bu Kanjeng sering mules. Dan satu cita-cita sang anak, kalau sudah lulus smp minta diantar pak Kanjeng, dia mau bermalam di warnet menyelesaikan games ya. Bu Kanjeng pun mengizinkan selama masih bisa dipantau .

Untuk jenjang SLA, bu Kanjeng turun tangan lagi. Karena di kelas 8 delapan , sang anak pernah studi banding di MAN Insan Cendikia. Bu Kanjeng pun berharap sang anak mau sekolah disana dan berani ikut tes masuk. Sang anak tidak pede. Tetapi bu Kanjeng punya tekad mengawal anaknya mendapatkan apa yang terbaik dunia akhirat.

Tes masuk diadakan di MAN 4 Semarang, untuk peserta dari jawa tengah. Konon ada 4000 yang mendaftar diambil 240 yang ditempatkan di MAN IC Gorontalo dan MAN IC Serpong. Madrasah berbasis boarding School dan gratis.

Bu Kanjeng dengan rombongan sekolah bersama dua orang guru dan 7 siswa yang mau mendaftar pun mencari tempat penginapan dan sewa mobil untuk mendampingi siswa yang ikut tes masuk.

Sementara anak-anak mengerjakan tes untuk 5 mapel plus psykotes. Bu Kanjeng bermunajat di masjid. Bila bel istirahat ganti mapel, anak keluar diberi makan dan dipompa lagi semangatnya. Persis seperti pemain tinju yang berada di pojok ring diberi motivasi lalu bertanding lagi.

Hasil akhir saat diumumkan, Alhamdulillah anak bu Kanjeng termasuk yang bejo. dari sekolahnya yang ikut 7 orang tersaring 3 termasuk anak bu Kanjeng. Sujud syukur dapat sekolah yang baik dan gratis. Sang anak harus mondok dan patuh dengan aturan yang ada. Tingkat pelajaran yang lebih tinggi, dikumpulkan dengan siswa berprestasi yang penuh ambisi.

Dengan susah payah dan penuh perjuangan fase itu bisa dilalui, saat harus melanjutkan kuliah ternyata mereka pemburu beasiswa kuliah di Jepang dan punya target masuk perguruan tinggi negeri favorit.

Tentu saja bu Kanjeng galau lagi ketika sang anak ingin kuliah di jurusan kriminalogi UI. Bu Kanjeng mikir biaya hidup di Jakarta dan pergaulannya. Sebagai orang tua tetap harus mengawal dan mencarikan yang terbaik.

Hmm, sepertinya kalau laki-laki lebih baik kuliah yang di kedinasan. Pilihan jatuh ke STPI. Lagi-lagi sang anak pesimis. Sedang bu Kanjeng selama masih ada kesempatan harus diambil.

” Jurusan ku IPS. Ini ada nilai fisika yang harus diisi.” Salah satu keluhan sang anak ketika mengisi data online.

“Yang penting tidak menyalahi
prosedur. Nilai fisikamu waktu klas 10 cantumkan.” begitu bu Kanjeng memberi saran anaknya.

Setelah itu bu Kanjeng yang sibuk cari materi latihan soal masuk stpi dari berbagai penjuru dan dikirim ke anaknya. Sementara sang anak tetap ikut jalur tes masuk perguruan tinggi.

Semua berproses mengikuti tes 5 tahap, sang anak diterima di STPI sesuai yang ditulis jurusan Air traffic control atau Lalu Lintas Udara. Yang tadinya program D3 ada program lanjut D4. Ikuti saja prosesnya hingga ia lulus.

Setiap anak sudah ada rezekinya masing-masing. Masih harus diminta bersabar dalam proses itu. Karena Airnav baru ada perekrutan pegawai di April 2020. Dan magang itu belum diacc hingga saat ini.

Bu Kanjeng pun sibuk membesarkan hati anaknya. Saat ini dia masih harus kuliah lagi di universitas kehidupan yang sesungguhnya. Ia berada di Yogyakarta berbaur dengan adik-adik sepupu sesama pelajar yang belajar hidup mandiri.

Ada satu peluang lagi yang ingin ditawarkan pada buah hatinya. Lowongan Perwira Karir angkatan udara menantinya. Tetapi rupanya sang anak punya pilihan dan menolak saran ibunya. Bu Kanjeng harus ridha dan ikhlas dengan apa yang jadi pilihan anaknya.

Kembali bu Kanjeng mengingat satu ayat favoritnya yang ada dalam Al Quran

Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( QS Ibrahim:7)

Plong rasanya hati bu Kanjeng. Biarkan semua berproses dan akan indah pada waktunya.

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s