Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Senja di Istano Basa Pagaruyung*

4 Komentar

_Sri Sugiastuti_

Alhamdulillah entah sudah berapa kontainer Bu Kanjeng bersyukur setiap kali bisa wisata budaya di belahan bumi nusantara. Ya Allah telah mengizinkan perjalanan yang memudahkan semua urusan Bu Kanjeng dan mitranya. Mereka Bu Ides dan suami juga Bu Desi dan dua krucil pengwalnya. Setelah menempuh perjalanan 5 jam akhirnya sampai juga lokasi wisata budaya Sumatera Barat.

Bu Kanjeng dan rombongan tiba di Istano Basa Pagaruyung jelang senja saat usai turun hujan. Hatinya sempat cemas khawatir sudah tutup dan menjadi penyesalan tidak bisa berwisata budaya.

Jujur Bu Kanjeng bisa mengunjungi Istano Basa Pagaruyung memang tidak terlalu berharap. Tujuan utama adalah berbagi ilmu menularkan virus cinta literasi di komunitas yang diikuti. Perkara akhirnya ia bisa sampai di Istano Basa itu semata bonus dari Allah yang meringankan hati Bu Ides dan Bu Desi mengantar Bu Kanjeng ke lokasi tersebut.

Sejak zaman dahulu bumi Nusantara memiliki budaya yang menarik. Bentuk bangunan rumah, adat istiadat, lagu daerah, kuliner juga pesona alam yang digabungkan dengan budaya. Semua perlu dikelola dengan baik. Agar tetap terjaga dan diberdayakan sesuai dengan fungsinya. Itu yang jadi pemikiran Bu Kanjeng.

Berhubung Bu Kanjeng tiba saat senja, tentu saja tidak sepuas bila berkunjungnya di siang hari. Bu Kanjeng ingin mengabadikan senja indah saat hujan sudah reda sangat menawan. Pergantian dari sore ke malam itu sangat indah. Dengan latar belakang Istano Basa yang menyatu dengan alam sungguh tak bisa dilukiskan dengan untaian kata. Adanya hanya bersyukur dan bersyukur.

Bu Kanjeng diminta segera masuk ke lantai dasar memiliki model baju yang akan dikenakan untuk berfoto. Ia memilih warna merah. Dengan membayar 35 ribu rupiah tanpa melepas baju yang dikenakan. Ia terlihat semakin bulat dan sudah mirip dengan Bundo Kandung. Dipilihnya spot untuk foto sampai puas. Jepret sana sini dengan kesan tergesa. Baik indoor maupun outdoor.

Sambil mengagumi bangunan Istana Pagaruyung, Bu Kanjeng mendengarkan Informasi dari sohibnya tentang Istana tersebut.

Istana Pagaruyung yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dibangun pada zaman Belanda. Konon Istano Basa yang asli dulu terletak di atas bukit Batu Patah. Tragisnya, Istana Pagaruyung yang asli ini terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah tahun 1804 pada zaman Belanda. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar pada tahun 1966.

Konstruksi Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di lokasi istana yang asli, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya.

Karena Bu Kanjeng dan rombongan datang sudah senja, loket masuk sudah tutup. Terpaksa main mata dengan petugas karcis. Ada dana yang dibayar dan masuk dana pribadi. Sungguh ini tidak mendidik. Kesannya jadi pungli. Tapi ini solusi sesaat. So Bu Kanjeng dan rombongan bisa masuk area Istana Pagaruyung.

Karena Bu Kanjeng pakai guide lokal, ia tidak kurang akal. Untuk melengkapi tulisan ini ia ambil info dari suara.com. Alhamdulillah informasinya bisa berbagi disini.

Istana Pagaruyung ternyata terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar, dan sebuah singgasana di bagian tengah. Jika Istana Pagaruyung dilihat dari luar, maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya.

Nah Bu Kanjeng sempat berfoto ria di anak tangga, di jendela gadang juga di meja khusus dengan latar belakang ormanen yang cantik. Tak lupa ia foto dengan patung atau replika dari Datuk dan keluarga raja.

Bu Kanjeng melihat beberapa ruang ada bagian yang disebut sebagai anjuang. Keberadaan anjuang adalah salah satu ciri khas rumah adat Koto Piliang. Anjuang yang berada di sebelah kanan disebut sebagai anjuang Rajo Babandiang sedangkan yang di sebelah kanan disebut anjuang Perak. Anjuang ini adalah ruang kehormatan bagi keluarga kerajaan.

Masih dari hasil ngintip di Internet Bu Kanjeng jadi paham silsilah penempatan kamar yang ada di istana Pagaruyung. Pada bagian tengah terdapat 7 kamar tidur untuk anak raja yang sudah menikah. Anak yang paling tua menempati kamar yang paling kanan, begitu seterusnya sampai anak yang termuda menempati kamar yang berada paling kiri. Tepat di tengah ruangan, persis di depan pintu masuk terdapat sebuah singgasana yang disebut sebagai Bundo Kanduang karena yang duduk di sana memang ibunda raja.

Pantas ketika Bu Kanjeng mengirimkan fotonya yang berbaju Minang dipanggil sebagai Bundo Kanduang.

Bundo Kanduang yang asli akan duduk di sana sehari-hari untuk mengawasi setiap tamu yang datang. Apabila kerajaan mengadakan perjamuan atau rapat maka ibunda raja yang akan memastikan setiap orang duduk pada tempatnya yang benar, hidangan disajikan tepat waktu dan mengawasi apapun keperluan dalam ruangan sedangkan raja berada di anjuang Rajo Babandiang.

Sedang yang ada di lantai dua biasa disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah.

Adapun lantai tiga adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus Raja 3 selo. Raja 3 selo adalah institusi tertinggi dalam hirarki kerajaan Pagaruyung, berasal dari keturunan yang sama dan masing-masing bertugas untuk memutuskan perkara-perkara yang berhubungan dengan alam, adat dan ibadat.

Akhirnya Bu Kanjeng tidak penasaran lagi. Rombongan pun meluncur ke arah parkir mobil. Nah menuju ke arah sana walaupun sudah Rembang-remang, tetapi penjual buah lokal masih buka. Bu Kanjeng tertarik dengan buah sawo, alpukat dan mangga.

Setelah membeli buah secukupnya, Bu Kanjeng dengan hati lega dan rasa syukur yang luar biasa melanjutkan langkahnya menuju tempat kuliner.

Tanah Datar, 15 Desember 2019

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

4 thoughts on “Senja di Istano Basa Pagaruyung*

  1. Alhamdulilah tambah wawasan..tentang sumatra barat yang aduhai dan megah
    Tulisan bunda astuti ngalir..enak utk fiikutiā€¦makadih bun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s