Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

20 Menit di Area Jam Gadang Bukittinggi

Tinggalkan komentar

Sri Sugiastuti

Kunjungan Bu Kanjeng ke Sumatera Barat yang hanya sekejap tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Betapa tidak Solo – Padang-Dharmasraya – Padang – Solo hanya ada waktu 4×24 jam. Sungguh berpacu dengan waktu.

Bu Kanjeng ngarep banget dapat literasi dan juga dapat wisata. Banyak tempat wisata Sumatera Barat yang ingin dikunjungi apa daya tak semua dapat dikunjungi karena keterbatasan waktu.

Perjalanan dari Dharmasraya mampir Istano Basa Pagaruyung lanjut kuliner dan bermalam di Tanah Datar Batusangkar. Padahal besoknya pesawat dari Padang menuju Jakarta pukul 14.15. Hanya ada waktu setengah hari berada di Padang. Wisata yang diincar ya Bukittinggi.

Setelah sarapan lontong sayur, jalan-jalan melihat keindahan gunung Sago, bukit Batu dan gunung Merapi dari kejauhan. Hamparan pohon padi yang menghijau bak karpet empuk mentul mentul. Ada juga emang atau balong yang berisi ikan gurame dan nila. Bu Kanjeng jadi ingin berlama lama disana.

Setelah itu Bu Kanjeng lanjut diajak ke 3 spot di Bukittinggi. Berharap tidak macet dan bisa sampai bandara tepat waktu. Jarak Batusangkar- Bukit tinggi butuh waktu sekitar 1 jam lewat jalan pintas. Tepat pukul 8.30 sudah sampai Bukittinggi. 2 spot Taman Bacaan Panorama dan Museum Bung Hatta walaupun hanya sebentar sudah dikunjungi.

Baru saja Bu Kanjeng menikmati suasana jalan di kota Bukitinggi tiba-tiba mobil sudah parkir dan saat Bu Kanjeng menengok ke kiri, Taraaa menara jam Gadang sudah terlihat di depan mata.

” Onde Mande.. Ini jam Gadang yang sudah dikenal sejak ia sekolah di SD.” Udara segar menyerusup ke dada Bu Kanjeng. Dimanjakan mata memandang keindahan kota Bukitinggi tinggi dari halaman atau alun-alun dimana jam Gadang berdiri kokoh sebagai Ikon kota Bukitinggi.

Lokasinya itu Pasar Bawah, Pasar Atas, Plaza Bukittinggi dan Istana Bung Hatta. Konon nama Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”, nama ini diambil karena jam yang terdapat di keempat sisi menara tersebut yang berdiameter cukup besar, yaitu 80 cm.

Pada tahun 1826 saat Indonesia masih dijajah Belanda Menara Jam ini dibangun sebagai kado untuk sekretaris kota Bukittingi yaitu Rook Maker. Yazid Rajo Mangkuto, sebagai arsitektur pribumi, yang mendisign. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra Rook Maker yang saat itu masih berusia 6 tahun.

Hampir sama dengan bangunan sejarah yang ada di Nusantara, dejak didirikan hingga saat ini, ornamen jam gadang sudah beberapa kali mengalami perubahan khususnya pada bagian atapnya. Pertama kali dibangun, atap menara dibuat berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya yang menghadap ke arah timur.

Pada masa penjajahan Jepangpun atap tersebut direnovasi menjadi bentuk seperti Pagoda atau Klenteng. Kemudian setelah Indonesia merdeka, atap menara tersebut diubah menjadi bentuk seperti adat rumah Minangkabau sekaligus menjadi simbol dari suku Minangkabau.

Ternyata setelah Bu Kanjeng ngulik di Internet Jam gadang itu unik dan menarik. Ada kisah dibalik pembuatannya, Tulisan angka empat yang ada di jam tersebut menyimpang dari pakem, karena tertulis IIII, bukan IV. Di sinilah letak keunikannya.

Angka empat romawi yang seharusnya ditulis IV malah ditulis dengan angka satu berjejer empat (IIII). Keunikan penulisan angka pada jam tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi setiap orang yang melihatnya.

Apakah penulisan angka tersebut merupakan sebuah kesalahan dalam pembuatannya, atau memang sebuah patron kuno untuk angka romawi? Biarkan itu jadi misteri.

Sambil berfoto ria Bu Kanjeng menikmati keindahan langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih yang sangat cantik. Rasanya ia ingin berlama lama disana. Cukup 10 menit saja. Sisa 10 menit ia manfaat untuk beli kerudung dan bros. Bu Kanjeng tidak berani masuk toko fashion ia takut lapar mata dan tidak ingat waktu. Alhamdulillah apa yang diinginkan sudah sesuai dengan anggaran yang ada.

Mereka segera masuk mobil dan meluncur menuju Bandara, butuh waktu 3 jam. Bu Kanjeng sempat sport jantung, ketika ada kemacetan. di jalan. Walaupun bukan hari libur Bukittinggi di jalan- jalan tertentu memang macet atau padat merayap.

Sepertinya Bu Kanjeng harus puas dengan budaya literasi di sepanjang jalan yang dilalui. Mata dan batin ya hanya membaca tulisan toko yang menjual aneka makanan juga fashion khas Sumatera Barat. Untuk mengabadikan keindahan alam ia cukup membuat video dan foto ria.

Berpacu dengan waktu. Suami Bu Ides perlu didaulat sebagai pilot keren yang membawa kami semua. Tepat 14.00 kami tiba di bandara. Satu spot untuk makan basamo hilang. Bu Desi lari beli nasi bungkus khas bandara. Sementara Bu Kanjeng tidak bisa menunggu, namanya sudah dipanggil untuk segera masuk ke dalam pesawat.

Tak lama Bu Kanjeng duduk pesawat pun take off.. Alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat. Bu Kanjeng masih sempat membuka hape dan melihat nasi padang khas Bandara yang bukan rezekinya.

_Antara Padang Solon 16 Desember 2019_

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s