Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Rela Dimadu Demi Anak-anak

1 Komentar

Sri SugiastutiSisi lain dari sosok seorang ibu tak pernah diduga endingnya. Ia dijadikan Allah sebagai malaikat bagi anak-anaknya. Sampai Rasul pun menekankan kata: “ibumu, ibumu, ibumu.” Tiga kata itu untuk siapa orang yang harus dihormati di dunia ini.Beliau sudah tiada sebelas tahun lalu. Tepatnya 8 Mei 2008. Di usia 71 tahun lebih 2 bulan. Memang bonus usia yang Allah berikan padanya cukup banyak. Namun di sisa usianya ia meregang nyawa setelah melawan penyakit borongan yang diderita.Semangat beliau untuk bisa sembuh sangat luar biasa. Kami tiga orang putra putrinya ikut ikhtiar, dengan doa dan merawatnya sepenuh hati. Apa yang kami berikan tentu tak sebanding dengan apa yang diperjuangkan beliau untuk kami bertiga. Beliau sosok ibu yang tegar, cekatan, pintar cari rezeki, humble, suka menolong, tegas, disiplin, keras, dan sedikit otoriter.Beliau bisa memiliki sifat dan sikap yang luar biasa itu, tentunya ada pemicunya. Ya. Di usianya yang masih remaja beliau sudah yatim piatu. Ia harus rela ikut budenya penjual beras di salah satu pasar di kota Solo. Gemblengan budenya yang cukup keras membuatnya kuat. Lulus SMP beliau masuk sekolah perawat di Semarang.Ia bertemu jodoh pun di Rumah Sakit. Tempat dia bekerja setelah lulus sekolah perawat tahun 1959. Berjodoh dengan lelaki yang memberikan 3 anak. Sayang jodohnya singkat. Ia harus sanggup menghidupi dirinya sendiri dan ketiga anaknya yang masih usia balita.Statusnya yang janda sering diganggu pria iseng, membuatnya ambil keputusan rela dinikahi oleh pria yang sudah beristri. Ini bukan pilihan yang tepat, secara materi dia bisa menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Tetapi ia ingin status yang lebih dihormati daripada menyandang status janda.Anehnya ia bisa rukun dengan istri tua. Ayah tiri kami punya 5 anak dari istri terdahulu yang biasa kami panggil Bude. Sedangkan dengan ibu kami tidak dikaruniai anak. Anak-anak Bude, biasa memanggil ibu ku dengan panggilan Bulek.3 anak dari ibuku dan 5 anak dari Bude hidup rukun walaupun tidak satu rumah.Kadang kalau liburan kami saling berkunjung atau liburan bareng mengunjungi sanak saudara di Solo atau pun di Temanggung.Ibu seorang pekerja keras. Ia punya klinik pengobatan di rumah. Selain itu ia punya jadwal keliling kampung seminggu 2 kali mengunjungi pasiennya yang tidak bisa datang ke rumah. Ibu naik sepeda onthel. Sore hari ia pulang dengan oleh-oleh yang selalu dinanti anak-anaknya. Ada pisang kesukaan adikku yang paling kecil, ada biskuit regal kesukaanku juga. Kue soes pesanan adik perempuanku.Ibu akan marah besar kalau sore hari beliau pulang, kami belum mandi. Jadi kami tidak pernah menunda waktu mandi kami, kalau ingin selamat tidak kena marah ibu. Malam hari saat kami selesai belajar, ibu meminta kami untuk membaca koran dengan suara keras. Bila ada artikel yang menarik pasti ibu membahasnya.Kesibukan ibu dalam mengais rezeki memang luar biasa. Walaupun statusnya punya suami tapi urusan nafkah dirinya dan anak-anaknya cukup dari rezeki yang diperoleh bukan dari suaminya.Aku ingat saat ibu cari pinjaman mobil sedan plus sopir dari salah satu pasiennya. Ibu khusus ingin mengajak piknik anak-anaknya ke Lido Sukabumi. Kadang kami diajak ke Hotel Indonesia untuk melihat pertunjukan atau kalau sekarang istilahnya konser Hentje penyanyi dari Belanda yang sedang naik daun.
Untuk pertama kali kami paham naik lift. Atau sesekali ibu ngajak kami ke pusat perbelanjaan “Sarinah”. Kami masih SD walaupun dari keluarga yang pas-pasan, kalau untuk pengetahuan dan majunya pendidikan ibu sangat perhatian.Ibu ingin anak-anaknya punya nasib yang lebih baik darinya. Sejak kecil aku dan adik-adik sudah diajarkan bagaimana, menjaga kerapihan rumah, punya tugas masing-masing saat libur maupun bangun tidur. Tugasku nyemir sepatu, adikku menyapu dan mengelap jendela dan meja kursi. Ada juga yang nyapu halaman. Semua dapat tugas.Pukul 06.00. sarapan sudah tersedia tak lupa cangkir kami yang berisi susu harus diminum. Menu sarapan kadang diganti dengan roti tawar disemir mentega dan diisi meses. Kalau ada nasi sisa malam, ibu dibantu mbok Kem membuat nasi goreng komplet, ada telur, abon, kerupuk dan tomat. Walaupun kata orang kalau sarapan nasi goreng bikin ngantuk tetapi tidak masalah untuk keluargaku.Cara ibu mengjariku menghargai uang dengan menyuruh aku ke pasar.. Saat itu usia ku 10 tahun kelas 4 SD. Ibu sudah siap dengan daftar belanjaan yang harus aku beli di pasar. Ada minyak goreng, gula pasir pokoknya sembako. Aku harus tahu harga saat itu, dan jangan pernah salah hitung. Semua harus jelas. Termasuk uang kembalian.Menurutku ibu itu luar biasa ilmu parentingnya. Untuk mengajari kami bersyukur salah satunya dengan banyak memberi keringanan pada pasiennya yang datang ke tempat praktiknya. Salah satu keringanan yang diberikan, banyak pasien yang datang tidak bawa uang, alias minta gratis atau membayarnya kalau sudah punya uang.Kadang ada juga yang berobat pagi hari tetapi belum sarapan. Karena ibu harus menyuntik pasien itu, biasanya ibu akan ke dapur, membuatkan teh manis dan nasi sepiring lengkap dengan lauknya . Setelah kenyang baru pasien itu diobati dan disuntik.Banyak hal yang bisa kukenang dari ibuku sayang. Karena mobilitasnya cukup tinggi tak heran kalau ibu sering capek. Akibat capek, ibu punya kebiasaan suka dipijat atau tiga anaknya yang masih di SD, sering mendapat tugas memijat dengan kaki, kami menyebutnya di injak- injak. Saat memijat ini lah seringkali proposal ku muncul untuk minta ini itu keperluan yang aku butuhkan. Bisa sepatu baru, uang untuk bayar piknik, atau tas baru.Ibu sangat piawai dalam menanggapi proposal anak-anaknya.
” Tenang ya Nduk, bulan depan ibu dapat arisan nanti uangnya sebagian bisa untuk bayar piknik.”
Atau di lain hari ibu akan berkata: ” Masih banyak pasien ibu bulan lalu yang pesan obat dan berobat tapi belum bayar, mereka janji minggu ini mau bayar. Besok ibu kasih catatannya dan bantu ibu menagih ya ke rumah bu Halimah, bu Hasan, juga bu Darto! ” Besoknya ibu sudah menyodorkan daftar tagihan yang harus aku bawa dan pergi ke rumah orang tersebut untuk menagihnya.Ibuku punya misi ke depan yang super demi kemajuan pendidikan anak-anaknya. Aku yang masih duduk di kelas 6 SD, diikutsertakan kursus bahasa Inggris bersama program dewasa. Ibu juga mengajarkan tata krama Jawa yang luar biasa dan sangat jarang digunakan di lingkungan tetangga yang tinggal di Jakarta.Menjelang ketiga anaknya tumbuh dewasa ibu juga ikut menaruh perhatian dengan 5 anak tirinya. Kami tumbuh bersama walau beda rumah dan lumayan berjauhan. Kami berkumpul saat Liburan, hari raya atau acara keluarga lainnya. Sekolah kami disesuaikan dengan minat dan hobi masing-masing. Ada yang STM, Sekolah perawat, sekolah Sosial dan SMA.Hampir semua anak kandung dan anak tirinya dikawal ketika mencari sekolah ke jenjang sekolah menengah. Ibu juga paham mana sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Aku merasa beruntung bisa sekolah di SMAN favorit pada zamannya. Bersekolah di sekolah favorit tentu ada plus minusnya. Sekolah favorit didominasi oleh anak-anak orang kaya. Perlengkapan sekolah yang dipakai juga branded.Aku bisa banyak belajar dari keadaan yang ada. Dan yang utama aku jadi lebih bersyukur.. Aku punya seorang ibu yang hebat dan berhati mulia. Ia rela dimadu agar status anak-anaknya di mata umum punya sosok seorang bapak yang melindungi.Untuk urusan rohani, awalnya ibu memang kurang paham urusan Akherat. Tetapi ia ingin anaknya pintar ngaji. jadi aku dan adik-adik. Sempat sekolah madrasah di siang hari, belajar ngaji dengan ustadzah yang tinggal di dekat rumah. Tetapi karena kurang fokus jadi belajarnya kurang optimal.Ibu selalu membuat hatiku terharu. Saat aku lulus sma dan harus kuliah, waktu itu belum zaman online. Ibu lah yang antri di UNS untuk mendapatkan selembar formulir pendaftaran. Ibu juga bersusah payah menengok aku di tempat KKN yang ada di perbatasan Karanganyar dan Wonogiri yang angkutan umum adanya di hari Pasaran. Yang jaraknya 70 km dari Solo. Padahal sampai disana aku tidak ada.Ibu juga yang sangat mengerti perasaanku yang sedang patah hati, karena lelaki yang aku cintai adalah pecundang. Kuliah ku yang sukses tidak diiringi dengan kesuksesan jodoh. Hanya ibu yang bisa mengiburku. Termasuk mencarikan tempat mengajar sebagai guru wiyata bakti di salah satu sekolah di Jakarta.Urusan perjodohan pun ibu yang paling khawatir. Padahal aku yang sedang patah hati baik-baik saja. Kunikmati sebagai guru muda dan tetap membuka diri. Dan di usia ku jelang 25 tahun ada seorang duda beranak tiga yang langsung melamarku lewat ibuku. Anehnya ibu berharap aku mau menerima lamaran orang itu.Jujur saat itu yang terbayang bukan gantengnya sang duda dengan kumis hitam, gigi rapih dan hidung standar. Tetapi naluri keibuanku yang muncul. Kubayangkan anak berusia 7 tahun, 4 tahun dan terkecil 1 tahun, mereka tidak punya ibu. Bisa kah aku menjadi ibu tiri yang baik. Hanya kepada ibu juga aku membuat perjanjian bahwa sepenuhnya aku mohon dukungan dan doa restunya. Bila suatu saat terjadi yang tidak diinginkan ibu yang menyelesaikan atau mencarikan solusinya.Akhirnya aku menerima lamaran itu. Ternyata dia memang jodohku. Saat ini genap 33 tahun, kami membangun keluarga sakinah mawadah warohmah dengan perjuangan yang luar biasa. Karena jadi ibu tiri, jadi mantu yang baik, juga mendampingi pasangan dengan latar belakang yang berbeda itu ujiannya luar biasa.Saat aku terpuruk ibu selalu ada menghibur sekaligus mensupport agar aku tegar. Ibu ada saat aku hamil pertama dan bayiku meninggal di dalam perut. Ibu yang mengantar dan menungguku. Dokter kandungan pilihan ibu juga yang membantu melahirkan. Ya walaupun aku sudah menikah, aku lebih nyaman tinggal bersama ibu.Untuk kedua kali di Jakarta aku kehilangan bayi lagi, walaupun kasusnya berbeda. Lagi-lagi ibu yang paling sedih dan rempong. Betapa tidak saat itu usia kandungan anak kedua ku itu masuk 26 minggu belum 7 bulan. Saat selesai kontrol ke dokter info yang didapat bayiku sungsang, bobotnya masih 1,2 kg. Aku disarankan senam hamil. Hari itu juga aku ikut kelas senam hamil. Tetapi apa yang terjadi? Belum ganti baju aku harus kembali ke Rumah Sakit karena terjadi kontraksi.Tentu saja ibu yang paling panik. Ia menemaniku sampai masuk ke kamar bersalin. Rupanya bayi ini tidak bisa dipertahankan. Bayi yang lahir prematur dan hanya bertahan 2 minggu di inkubator. Sementara aku harus menunggu di rumah sambil recovery usai melahirkan. Ibu lah yang wira-wiri ke Rumah Sakit menu nggu cucunya dan akhirnya tetap diambil oleh sang Khalik.Ibu terus mendampingiku, walaupun kondisinya sudah tidak prima lagi. Ketika aku diajak suami pindah ke Solo, sebenarnya ibu tidak rela. Ada gurat kesedihan. Apalagi ketika ia menilai rumah mertua ku tidak layak huni. Tetapi ia harus mengikhlaskan anak perempuannya hidup bersama suami dan mertuanya.Aku masih berikhtiar untuk mendapatkan anak, sambil membesarkan ketiga anak tiriku. Hidup di Solo menghidupi keluarga besar , ada 3 anak, mertua dan pembantu total 8 orang yang tiap hari makan 3 kali dan punya kebutuhan masing – masing cukup membuatku harus ekstra sabar dan hati-hati . Aku yang mejalani berusaha tegar. Tetapi hati seorang ibu pasti tak tega melihat kehidupanku yang sedang diuji Allah.Tak lelah ibu masih terus membantuku dengan caranya. Aku dikirimi uang untuk belanja dagangan di pasar klewer ada daster, kain ataupun sarung. Kadang juga abon dan makanan khas lainnya yang ada di Solo. Tentu saja ada lebihan yang bisa aku terima.Ketika ibu mendengar kabar kalau aku hamil. Ibu langsung berinisiatif kalau aku harus bedrest di usia kehamilan bulan ke 6. Ya setelah izin ambil cuti besar aku bisa bedrest di Jakarta. Aku harus fokus untuk keselamatan anak ketiga ini. Ibu rajin mengantar ku ke dokter dan banyak saran dan nasihatnya agar aku menjaga kandunganku dengan baik.Alhamdulillah, aku melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama oleh neneknya. Usia bayi 2 bulan saat kuboyong ke Solo. Aku harus kembali mengajar dan mengurusi keluarga. Hubungan ku dengan ibu hanya lewat telpon atau kadang ibu mengunjungi kami ke Solo.Cita-cita ibu menghabiskan hari tua nya di Salatiga bisa terlaksana karena aku mendukungnya. Ibu memang hebat. Uangnya tidak banyak tetapi ia punya mimpi. Mimpi punya rumah dengan beberapa kamar untuk anak kos. Dalam waktu satu tahun rumahnya jadi. Aku dan keluarga yang lebih sering menikmati rumah itu. Ternyata ibu dan bapak kurang cocok dengan udara di Salatiga. Jadi rencana untuk boyongan dan menetap di Salatiga batal. Mulai saat itu ibu sudah sering sakit dan rajin berobat ke mana-mana.Walaupun sakit, semangat ibu tetap luar biasa. Dia bisa tetap “nyebar roso seneng ” dan menyejukkan untuk orang yang ada di sekitarnya. Terutama buat orang-orang yang dikunjungi. Ibu sering memberi tali asih. Bisa berupa uang, makanan atau baju. Jadi kehadirannya di Solo banyak dinanti sanak saudara. Terutama aku anaknya.Rasanya aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini. Ibu begitu berarti bagiku. Ia sangat berduka ketika aku harus kehilangan anakku yang ke 3 di usianya yang 4 tahun lebih dua bulan. Cucu perempuan yang sedang lucu dan tumbuh sehat. Nyamuk nakal yang ada di penyakit Demam berdarah jadi suatu penyebab Allah mengambilnya.Baru dikabari saja ibu sudah bingung. Esok paginya ia sudah di Solo menunggu cucunya yang sakit sampai akhirnya Allah memanggil cucunya untuk selama-lamanya. Perasaan sedihnya disimpan ia lebih banyak menghiburku. Banyak sekali nasihat untukku agar aku tegar dan ikhlas menerima kenyataan yang ada.Dan akhirnya saat aku dipercaya Allah untuk hamil lagi. Ibu sibuk lagi dan paling bersemangat. Sayang dia hanya bisa menemani cucunya hingga kelas 6 SD. Ibu sudah lelah dan menyerah dengan penyakit yang diderita. Beberapa kali terserang stroke ditambah melebar penyakitnya, ada di Jantung, Diabetes, hipertensi dan terakhir kanker hati.Ada yang harus kuingat tentang ibu. Alhamdulillah, saat pasca stroke ibu mendapat hidayah dimudahkan Allah menjalankan rukun Islam yang ke lima. Aku pun mendapatkan hidayah itu. Karena ibu dalam melaksanakan ibadah haji, memilih aku untuk mendampinginya. Tahun 2006 jadi kenangan manis aku bersama ibu selama 40 hari. Dari mulai berada di pondok gede asrama haji sampai kembali ke tanah air sungguh perjalanan dan ibadah yang tak mungkin terlupakan.Bagaimana ibu tertawa bahagia dengan kursi rodanya, saat berada di depan kabah pagi hari. Saat sebagian Jamaah Haji sudah pulang ke tanah air.Ibu aku ingin memelukmu dalam doaku di setiap waktu. Semoga dilapangkan kuburmu, diampuni dosamu dan kita dipertemukan di jannah kelak. Aamiin YRATulisan ini aku dedikasikan untuk ananda Yassin Cahyo Ramadhan

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

One thought on “Rela Dimadu Demi Anak-anak

  1. daleeeeem banget isinya bunda … good posting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s