Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


3 Komentar

Better Late Than Never

Sri Sugiastuti

Istilah Better Than Never memang mendunia untuk menyamakan istilah Mendingan telat daripada kagak. Seperti itu untuk mengumpamakan Bu Kanjeng yang bergelut di dunia tulis menulis yang bisa dibilang telat banget.

Bayangin aja, masak di umur 50 tahun, Bu Kanjeng baru belajar menulis ( Halo! Sebelumnya ngapain aja?) Ahhh… Bu Kanjeng jadi malu. Kasih tau ngga ya? Jujur kalau untuk melahap bacaan, dari mulai, koran, berbagai majalah, novel, sampai aneka buku pengetahuan hampir tiap hari Bu Kanjeng melahapnya.

Ya, jelas ketemunya buku dan membaca. Bu Kanjeng yang berprofesi sebagai guru ngga bisa jauh dari dunia baca dan tulis. Ternyata sebelumnya memang Bu Kanjeng mengalami ketidakseimbangan antara menulis dan membaca. Ia tidak mencoba menuliskan apa yang sudah dibaca. Sayang ia menyadarinya terlambat.

Keinginan Bu Kanjeng menulis sebenarnya sudah ada sejak SMP dengan bukti punya diary, punya buku kenangan yang ditulis teman-teman, punya koleksi buku bacaan, punya komunitas korespondensi dari nusantara juga negara tetangga yang masih terjalin hingga kini. Nah bibit inilah akhirnya jadi modal dan semangatnya untuk belajar menulis.

Bergulirnya waktu, saat ia mendapat kesempatan kuliah S2 di tahun 2007 diikuti merebaknya dunia maya dan adanya medsos tuh. Nah ambil S2 Itu juga suatu obsesi Bu Kanjeng yang terpendam tapi untuk meraihnya hanya setengah hati.

Namanya mahasiswa S2, Bu Kanjeng harus melek IT dong. Kenalanlah ia dengan Internet, kenalan juga dengan blog keroyokan sekelas Kompasiana, dan ada Guraru juga yang baru-baru ini Gurusiana.

Aktivitas Bu Kanjeng yang baru itu dampaknya luar biasa. Semangat terpacu, punya banyak teman dan ngga merasa tua. Tiap hari punya kesempatan nulis status di medsos. Nulis dan baca postingan teman di blog. Pokoknya asyik aja. Setelah itu kok ya berani ikut lomba nulis tentang “Diary Ketika Buah Sakit”. Tulisan ini True story yang mengharu biru. Tulisan saat Bu Kanjeng kehilangan buah hatinya. Kisah seorang bocah imut yang berusia 4 tahun harus meregang nyawa melawan virus nyamuk DB. Bu Kanjeng harus rela ketika Allah memanggilnya. Kisah yang ditulis itu menang peringkat 3. Tentu saja hati Bu Kanjeng membuncah.

“Aku bisa nulis tah” dan Tulisanku bisa menang. Alhamdulillah.

Sejak itu harapan Bu Kanjeng jadi penulis semakin menggebu. Termasuk segudang harapan lainnya seperti bisa berdakwah lewat tulisan, keinginan jadi novelis, jadi motivator dan jadi narasumber yang keliling nusantara untuk berbagi.

Di dalam hati Bu Kanjeng selalu bertanya Apa bisa? Caranya bagaimana? Ia harus yakin dan mengubah mindsetnya bahwa ia bisa. Banyak celah dan peluang yang bisa diambil bila mau. Ya kata kuncinya “Mau”.

Akhirnya Bu Kanjeng menyadari, ternyata di saat ia baru mimpi dan punya niat untuk mewujudkannya, ada banyak jalan. Tergantung mau mengambilnya atau tidak. Seberapa kuat usaha untuk mewujudkan mimpi itu.

Bu Kanjeng punya jejak langkah yang bisa dicontoh. Ia mau berproses. Yang diambil lumayan
banyak. Intinya, apakah Bu Kanjeng berproses berdarah-darah? Lah iya lah.

Bu Kanjeng pernah belajar Web dengan bayar 1 juta dan gagal. Mentornya cuma datang 2 kali. Setelah itu Good bye. Padahal perjanjiannya sampai bisa dapat duit dari blog/Web.

Pernah juga Bu Kanjeng disarankan membuat buku memoar. Katanya tulisan Bu Kanjeng bagus, mau dibantu dihubungkan dengan penerbit Gramedia. Wah Bu Kanjeng langsung terbakar semangatnya. Ia berhasil menulis ketika dilayout pdf sampai 418 halaman.

Naskah itu diprint lewat dengan jasa700 ribu. Katanya dikirim ke penerbit Gramedia. Saat ditanya kapan dan prosesnya bagaimana eehhhhh ternyata zonk. Telan saja kata batin Bu Kanjeng. Mungkin prosesnya harus begitu.

Ada lagi yang bikin nyesek hati Bu Kanjeng saat jadi penulis pemula. Sebagai penulis ia dapat order nulis 6 buku / naskah jual putus. Bu Kanjeng menerima DP satu juta rupiah. Ia pun ngebut menyiapkan banyak referensi. Dalam waktu 2 bulan ngebut dan tulisan selesai. Naskah lengkap segera kirim. Ketika ditagih uang kekurangannya, susahnya minta ampun. Dan sampai saat ini ngga ada kabarnya. Mungkin akan ditagih Bu Kanjeng kelak di akhirat. Ahh engga lah. Mending dkikhlaskan saja. Kata hatinya yang paling dalam.

Menurut Bu Kanjeng berproses dari manusia biasa dan jadi penulis pemula itu gurih gurih sedap. Bu Kanjeng harus bisa membaca dengan kacamata 5 dimensi.

Bu Kanjeng berproses diawali menulis content writer yang dibayar 15 rb untuk nulis 500-700 karakter dengan berbagai tema yang kadang sangat asing dengan dunia pendidikan. Bagi Bu Kanjeng Ini juga sangat mengasyikkan. Ia kerja secara online. Setor tulisan, honor masuk rekening. Besar kecil rezeki yang diterima tetap disyukuri.

Dari honor nulis, dari uang tunjangan sertifikasi, Bu Kanjeng bisa menyisihkan untuk mengupgrade diri. Ia belajar baik secara offline atau online. Dari hasil belajar itu Bu Kanjeng punya banyak komunitas dan semangat belajar semakin kencang. Untuk semua ikhtiar itu, Allah berikan banyak reward. Bu Kanjeng dapat kesempatan menyusun buku ajar permintaan dari penerbit nasional sekelas Erlangga. Ada kerja sama selama 5 tahun dimana tiap semester mengalir dana ke rekening tabungannya. Lumayan lah kalau dihitung ada 9 digit.

Bu Kanjeng merasa uang yang ada itu full barokah. Sebagian bisa untuk biaya sekolah anak, silaturahmi dan berbagi. Intinya penulis itu memang orang kaya. Ia punya teman di mana saja, mudah bergaul dan merasa sangat bahagia.

Pada Akhirnya Bu Kanjeng mulai berani menerima tawaran sebagai editor, ghost writer, narasumber atau sekedar berbagi untuk membantu proses kelahiran sebuah buku. Ini pekerjaan yang membahagiakan. Bagaikan malaikat tanpa sayap yang bekerja dalam senyap. Ketika buku terbit dan sampai ke tangan penulis dengan senyum bahagia mereka. Jadi kebahagiaan tersendiri di hati Bu Kanjeng.

Bu Kanjeng menyadari sebagai penulis pemula yang berproses baru 10 tahun rasanya masih terlalu dini untuk leha-leha. Masih harus banyak membaca dan belajar. Belajar dari mana saja, kapan saja dan dimana saja. Adapun kerikil penghalang yang kadang membuat resah dan kecewa tidak usah digagas. Begitu yang jadi semboyan Bu Kanjeng.

Berbagilah suka dukamu. Bila ada pengalaman buruk juga bagikan agar yang lain waspada dan tidak ada korban. Atau setidaknya bisa mengingatkan bahwa budaya baca itu penting. Kadang karena malas membaca secara runtut menyebabkan pesan tidak sampai dan akhirnya gagal paham. Yang terjadi bertanya lagi dan mengulangi lagi. Pesan Bu Kanjeng yang sok bijak.

Yuk berproses biar naik kelas dari penulis pemula jadi penulis mulia. Semoga. Keren juga ya pesan Bu Kanjeng.