Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Ngebolang ke Blitar

 

“ Ibu sama Bapak mau ke mana, ke Blitar? Apaan yang bisa dilihat di Blitar?”

Itu kalimat yang terucap dari si Sulung ketika Pak Kanjeng pamitan sama anaknya.

Belum tau dia, kalau ibunya sudah punya planing ngebolang di Blitar. Zaman canggih seperti ini segala sesuatu bisa direncana dari awal, masalah ada melesetnya atau tidak sesuai dengan rencana, itu sih Kuasa Allah.

Banyak yang bisa dinikmati setelah googling dapat tiket online dan mencari tempat wisata di Blitar.

Candi Penataran atau Candi Panataran atau nama aslinya adalah Candi Palah adalah sebuah gugusan candi bersifat keagamaan Hindu Siwaitis yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi termegah dan terluas di Jawa Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut. Dari prasasti yang tersimpan di bagian candi diperkirakan candi ini dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri sekitar tahun 1200 Masehi dan berlanjut digunakan sampai masa pemerintahan Wikramawardhana, Raja Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.

Dalam kitab Desawarnana atau Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365, Candi ini disebut sebagai bangunan suci “Palah” yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanan kerajaan bertamasya keliling Jawa Timur.[1]

Pada tahun 1995 candi ini diajukan sebagai calon Situs Warisan Dunia UNESCO dalam daftar tentatifnya

Sepanjang dinding Pendopo Teras terukir kisah Bubhuksah dan Gagang Aking, serta kisah Sri Tanjung. Ceritanya adalah sebaga berikut, Bhuksa digambarkan sebagai sesosok makhluk yang berbadan besar, suka memakan apapun, ikhlas dan tidak pernah tidur. Sedangkan Gagang aking, kurus kering, suka berpuasa dan juga suka tidur. Suatu saat Dewa Siwa menjelma menjadi macan putih guna menguji kedua orang tersebut. Tanggapan dari Gagang Aking adalah ”saya orang yang kurus, jangan makan saya tetapi makanlah teman saya yang gemuk” sedangkan Bhuksa ”silakan makanlah tubuh saya”. Dalam ujian tersebut Bhuksa lulus dan ia kemudian masuk Surga. Hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut yakni manusia harus ikhlas dalam menjalani hidup ini.


Tinggalkan komentar

Jejak Bu Kanjeng di Museum Bung Hatta.

Sri Sugiastuti

Menuju Museum Bung Hatta

Sebagai rakyat Indonesia, Bu Kanjeng ingat siapa itu Bung Hatta yang dikenal lewat pelajaran Sejarah saat duduk di bangku SD. Bung Hatta salah satu proklamator yang berdampingan dengan Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bu Kanjeng akhirnya bisa menginjakkan kakinya di Bukittinggi tanah tumpah darah Bung Hatta sang Proklamator. Tepatnya tanggal 16 Desember 2019. Allah izinkan Bu Kanjeng dan sohib literasinya berkunjung ke Museum Bung Hatta. Museum? Ya museum yang dibangun sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya sampai berusia 11 tahun. Karena setelah itu Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Hari masih pagi cuaca cerah dengan langit biru jernih, menambah keindahan dan kesejukan kota Bukitinggi. Rumah atau museum itu terletak di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatra Barat. Baru saja turun dari mobil. Bu Kanjeng selfie dulu.

Setelah itu ia mulai eksplore bagian dalam. Kamar sebelah samping kamar belajar, kamar berukuran kecil dengan dipan dan meja belajar. Tempat Bung Hatta belajar di malam hari. Semakin ke dalam decak kagum Bu Kanjeng tak tertahankan, Rumah model panggung dua lantai dengan struktur kayu di seluruh bagian yang dilengkapi pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan.

Seperti layaknya bangunan orang berada, bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan pavilion berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta.

Rumah atau Museum itu dibangun mengikuti bentuk aslinya yang dapat dilihat di memoir Bung Hatta dan berbagai foto dan dokumentasi milik keluarga Bung Hatta. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

Bu Kanjeng hanya 20 menit disana. Sebenarnya ia ingin menulis lebih detail tentang museum itu. Ia sempat naik ke lantai 2 rumah panggung itu. Melihat berbagai benda peninggalan Bung Hatta. Bu Kanjeng seakan merasakan kehadiran Bung Hatta yang sibuk menerima tamu dengan ramah.

Dari ruangan lantai dua bagian depan Bu Kanjeng bisa melihat jalan raya dengan berbagai kesibukannya. Sementara dari jendela bagian belakang Bu Kanjeng bisa menikmati semilir angin dan suasana tenang di lantai bawah.

Saat memasuki ruang dapur yang menyatu dengan kolam ikan. Rasanya ingin berlama – lama disana. Sampai di ujung barat bagian belakang ada seperangkat Kereta kuda yang tanpa kuda. Itu alat transportasi yang biasa digunakan keluarga besar Bung Hatta. Bu Kanjeng pun sempat berfoto sambil antri ke toilet.

Rumah sederhana yang diresmikan tahun 1995 berdasarkan bentuk aslinya memang sebagai simbol atau keberadaan Bung Hatta di dunia. Bung Hatta sebagai anak saudagar, mental, disiplin dan jiwa patriotiknya terbentuk di rumah ini.
Sekilas tentang Bung Hatta yang sangat meginspirasi.

Bung Hatta dilahirkan di rumah ini pada tanggal 12 Agustus 1902. Beliau adalah anak dari Haji Muhammad Djamil dan Saleha, dan merupakah keturunan kedua dari Syech Batuhampar yang bernama Syech Abdurrahman. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902-1913 sebelum pindah ke rumah baru di depan rumah ini. Walaupun relatif singkat, tetapi suasana dari kehidupan di rumah ini memberikan kenangan yang mendalam serta berperan besar dalam pembentukan watak beliau. Disiplin kerja, ketepatan waktu, kasih sayang yang dilihat Bung Hatta pada kehidupan rumah ini sebagian memberikan andil dalam proses pembentukan kepribadiaan beliau.

Bila membaca buku memoar Bung Hatta hati Bu Kanjeng tersentuh. Perjuangan Bung Hatta luar biasa. Ia rela keluar dari zona nyaman merantau ke Jawa untuk belajar dan ikut organisasi agar kemerdekaan segera terwujud.

Bung Hatta sempat belajar atau sebenarnya dibuang ke Belanda karena dianggap membahayakan. Akhirnya perjuangannya berbuah manis. Beliau bisa mendampingi Bung Karno sebagai wakil presiden yang pertama.

Sebelum meninggalkan museum Bu Kanjeng berdoa semoga bisa datang lagi berwisata sejarah di Sumatera Barat.

Bukittinggi, 16 Desember 2019


Tinggalkan komentar

Jejak Bu Kanjeng di Museum Bung Hatta.

Sri Sugiastuti

Depan Museum Bung Hatta Bukittinggi

Sebagai rakyat Indonesia, Bu Kanjeng ingat siapa itu Bung Hatta yang dikenal lewat pelajaran Sejarah saat duduk di bangku SD. Bung Hatta salah satu proklamator yang berdampingan dengan Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bu Kanjeng akhirnya bisa menginjakkan kakinya di Bukittinggi tanah tumpah darah Bung Hatta sang Proklamator. Tepatnya tanggal 16 Desember 2019. Allah izinkan Bu Kanjeng dan sohib literasinya berkunjung ke Museum Bung Hatta. Museum? Ya museum yang dibangun sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya sampai berusia 11 tahun. Karena setelah itu Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Hari masih pagi cuaca cerah dengan langit biru jernih, menambah keindahan dan kesejukan kota Bukitinggi. Rumah atau museum itu terletak di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatra Barat. Baru saja turun dari mobil. Bu Kanjeng selfie dulu.

Setelah itu ia mulai eksplore bagian dalam. Kamar sebelah samping kamar belajar, kamar berukuran kecil dengan dipan dan meja belajar. Tempat Bung Hatta belajar di malam hari. Semakin ke dalam decak kagum Bu Kanjeng tak tertahankan, Rumah model panggung dua lantai dengan struktur kayu di seluruh bagian yang dilengkapi pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan.

Seperti layaknya bangunan orang berada, bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan pavilion berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta.

Rumah atau Museum itu dibangun mengikuti bentuk aslinya yang dapat dilihat di memoir Bung Hatta dan berbagai foto dan dokumentasi milik keluarga Bung Hatta. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

Bu Kanjeng hanya 20 menit disana. Sebenarnya ia ingin menulis lebih detail tentang museum itu. Ia sempat naik ke lantai 2 rumah panggung itu. Melihat berbagai benda peninggalan Bung Hatta. Bu Kanjeng seakan merasakan kehadiran Bung Hatta yang sibuk menerima tamu dengan ramah.

Dari ruangan lantai dua bagian depan Bu Kanjeng bisa melihat jalan raya dengan berbagai kesibukannya. Sementara dari jendela bagian belakang Bu Kanjeng bisa menikmati semilir angin dan suasana tenang di lantai bawah.

Saat memasuki ruang dapur yang menyatu dengan kolam ikan. Rasanya ingin berlama – lama disana. Sampai di ujung barat bagian belakang ada seperangkat Kereta kuda yang tanpa kuda. Itu alat transportasi yang biasa digunakan keluarga besar Bung Hatta. Bu Kanjeng pun sempat berfoto sambil antri ke toilet.

Rumah sederhana yang diresmikan tahun 1995 berdasarkan bentuk aslinya memang sebagai simbol atau keberadaan Bung Hatta di dunia. Bung Hatta sebagai anak saudagar, mental, disiplin dan jiwa patriotiknya terbentuk di rumah ini.
Sekilas tentang Bung Hatta yang sangat meginspirasi.

Bung Hatta dilahirkan di rumah ini pada tanggal 12 Agustus 1902. Beliau adalah anak dari Haji Muhammad Djamil dan Saleha, dan merupakah keturunan kedua dari Syech Batuhampar yang bernama Syech Abdurrahman. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902-1913 sebelum pindah ke rumah baru di depan rumah ini. Walaupun relatif singkat, tetapi suasana dari kehidupan di rumah ini memberikan kenangan yang mendalam serta berperan besar dalam pembentukan watak beliau. Disiplin kerja, ketepatan waktu, kasih sayang yang dilihat Bung Hatta pada kehidupan rumah ini sebagian memberikan andil dalam proses pembentukan kepribadiaan beliau.

Bila membaca buku memoar Bung Hatta hati Bu Kanjeng tersentuh. Perjuangan Bung Hatta luar biasa. Ia rela keluar dari zona nyaman merantau ke Jawa untuk belajar dan ikut organisasi agar kemerdekaan segera terwujud.

Bung Hatta sempat belajar atau sebenarnya dibuang ke Belanda karena dianggap membahayakan. Akhirnya perjuangannya berbuah manis. Beliau bisa mendampingi Bung Karno sebagai wakil presiden yang pertama.

Sebelum meninggalkan museum Bu Kanjeng berdoa semoga bisa datang lagi berwisata sejarah di Sumatera Barat.

Bukittinggi, 16 Desember 2019


Tinggalkan komentar

Bu Kanjeng dan Airbus A 330 Lion Air

Sri Sugiastuti

Airbus A 330 Lion Air, salah satu pesawat andalan Lion Air yang membawa Jamaah umroh dari beberapa kota besar yang ada di Indonesia menuju Jeddah atau Madinah PP. Kodratullah pesawat itu mengantar Bu Kanjeng pulang ke Solo yang sebelumnya transit di Jakarta setelah turun dari pesawat Boing 737 milik Lion yang mengantarnya dari Padang transit di Jakarta.

Perjalanan Padang Jakarta walau sempat sport jantung karena sempat terjebak macet di Bukitinggi. Ia tinggal punya waktu 7 menit untuk masuk ke dalam pesawat. Dapat nomer seat 6B terasa kurang nyaman. Setelah pesawat lepas landas Bu Kanjeng ke toilet. Matanya melirik kursi kosong yang ada di depan. Tanpa sungkan Bu Kanjeng minta izin pada Pramugara untuk pindah ke kursi kosong tersebut.

Mas Pramugara malah menyarankan Bu Kanjeng duduk di deretan depan. Langsung Bu Kanjeng pindah ke depan. Ia pun bisa melampiaskan hasrat laparnya dengan 1 cup indomie rasa sapi siap saji. Sambil memandang gugusan awan yang berjarak cantik, satu cup indomie itu dalam sekejap pindah ke perut Bu Kanjeng.

Bu Kanjeng yang sering merenung dengan apa yang sudah dialami lalu menyimpulkan bahwa semua kejadian yang dihadapi segala sesuatu baik yang kasat mata atau tidak adalah atas izin Allah SWT. Berjalan dari pintu keluar terminal 1/ B menuju terminal 1/A lumayan jauh. Sambil mendorong troly hati Bu Kanjeng galau pasalnya ia belum salat.

Segera ia menitipkan koper di petugas Lion ruang tunggu. Ia bersegera ke musala terdekat. Hatinya plong. Kewajiban dan juga kebutuhannya salat terpenuhi. Baru saja ia kembali ke ruang tunggu, terdengar suara keras pengumuman bahwa Lion mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang karena pesawat yang dari Makassar mengalami keterlambatan 60 menit. Dengan alasan operasional.

Bu Kanjeng sudah hapal bahkan pernah menjuluki Lion si raja delay. Lebih baik waktu yang ada dimanfaatkan untuk salat magrib berjamaah. Musala langsung full. Bu Kanjeng harus antri lumayan lama, karena hampir semua penumpang yang beragama Islam menyerbu musala.

Sambil menunggu musala agak longgar Bu Kanjeng ngobrol dengan seorang Bapak yang Kanjeng sebagai distributor buku di seluruh Indonesia. Bu Kanjeng pun bertambah ilmua tentang perbukuan dan penerbitan. Insyaallah ngobrol itu jadi berkualitas karena sesuai dengan yang Bu Kanjeng butuhkan sebagai penggiqt literasi.

Bu Kanjeng tergopoh-gopoh saat diumumkan agar penumpang segera naik ke pesawat tapi nomer dan pesawatnya beda dengan yang ada di tiket. Ketika sampai di mulut pesawat Bu Kanjeng baru sadar kalau pesawat itu Airbus A 330. Pesawat berbadan lebar dengan daya tampung 400 penumpang.

_”Hmmm, ini kan pesawat yang harusnya aku gunakan ketika umrah pada akhir tahun 2017.”_

Ya. Keinginan dan mindset Bu Kanjeng saat ibadah umroh dengan Lion yakin bahwa pesawat yang terbang Solo – Madinah adalah Airbus A330 ternyata salah. Rombongan itu naik pesawat yang lebih kecil yaitu Boing 737 yang daya tampung nya kurang dari 200 orang. Dengan dibayangi sejarah Lion yang bagaimana gituh, akhirnya Bu Kanjeng pasrah. Alhamdulillah ibadah umroh itu lancar.

Nah ternyata doa dan keinginan Bu Kanjeng baru dikabulkan hari Senin tanggal 16 Desember 2019. Padahal harapan dan doanya di November 2017. Semakin yakin lah Bu Kanjeng bahwa itu bagian dari cara Allah menunda sebuah doa.

Sedangkan ada juga doa yang disegerakan. Ini pun pernah dialami Bu Kanjeng. Ketika di tahun 2005 ia menabung 200 ribu rupiah tiap bulan dengan doa dan harapan di saat jelang pensiun ia sebagai guru saat menjelang pensiun bisa melaksanakan ibadah haji.

Ternyata baru bulan ke 3 menabung, panggilan itu datang. Adiknya meminta Bu Kanjeng untuk segera menyiapkan berkas kelengkapan ibadah haji dan biaya ditanggung adiknya full. Awal tahun 2006 pun Bu Kanjeng bersama ibu dan adiknya melaksanakan ibadah haji.

Airbus A 330 yang membawa Bu Kanjeng dan mendarat di bandara Adi Sumarmo mengajak pikiran Bu Kanjeng mengembara mengingat ibunya yang sudah tiada dan perjalanan haji mereka di tahun 2006.

_Padang – Jakarta – Solo 16 Des 2019__


4 Komentar

Lontar

Sri Sugiastuti

Saat buah Lontar dieksekusi

Ingat pohon Lontar jadi ingat sejarah menulis di daun lontar. Tidak semua orang tahu bagaimana bentuk pohon lontar. Bu Kanjeng kalau tidak berkunjung ke Kupang pasti tak ingat lagi dengan daun lontar yang punya sejarah besar dalam dunia literasi.

Saat berkunjung ke pantai Lasiana Bu Kanjeng sempat makan buah lontar. Ia yang baru pertama kali makan buah itu menikmati dengan tiap kunyahan hingga tuntas. Campuran rasa segar kenyal seperti jeli alami yang memang fresh diambil dari dalam buah lontar yang berwarna ungu di dalam buah itu lah 3 biji yang pipih lebih besar dari kolang kaling.

Sensasi makan buah Lontar membuat Bu Kanjeng penasaran tentang pohon lontar dan manfaatnya. Niat banget ia googling dan berusaha berdiskusi dengan Pak Kanjeng tentang pohon lontar. Orang boleh lupa dengan pohon lontar, tetapi untuk masyarakat di NTT pohon lontar punya andil cukup besar dalam mensejahterakan kehidupan mereka. Bahkan pohon lontar punya nama lain yaitu pohon Hayat atau pohon kehidupan.

Pohon Lontar punya nama latin Borassus flabellifer Linn. Pohon sejenis palem (Arecaceae) ini tumbuh liar dengan ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Konon pohon Lontar, berasal dari India dan Srilanka, menyebar ke Arab Saudi hingga negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, sampai Indonesia.

Indonesia yang subur menjadikan lontar mampu tumbuh setinggi 10 – 30 meter. Pohon ini bisa dijumpai di seluruh pesisir pulau dari ujung barat hingga timur. Lontar pun punya banyak nama. Di Sulawesi Selatan pohon lontar dijadikan lambang provinsi. Sedangkan yang paling banyak tumbuh ya di NTT.

Mengenal lebih jauh tentang pohon lontar dan kegunaannya membuat Bu Kanjeng menyadari betapa beruntung dan bersyukurnya ia hidup di belahan bumi Indonesia yang kaya raya.

Bu Kanjeng yang orang Jawa mengenalnya sebagai pohon siwalan atau rontal. Masyarakat Bali menyebut hal sama (rontal). Masyarakat Pulau Sabu NTT menyebut pohon ini kepuwe duwe, dan orang Pulau Rote menamakan pohon ini tua. Sedangkan di Papua menyebutnya dengan uga.

Dari hasil penelitian dinyatakan ada 800 manfaat pohon lontar, mulai dari manfaat fisik sampai kimia karena nyaris semua bagian pohon ini bisa digunakan. Sebagai contoh, ada gula dalam 100 cc air nira adalah 10,93 gram. Gula reduksi 0,96 gr, ada juga sedikit protein, nitrogen, mineral, kalsium, fosfor dan zat besi. Dengan pH berkisar 6,7 – 6-9, air nira punya vitamin C cukup tinggi yaitu 13,25 g/100 cc dan vitamin B1 sebesar 3,9 IU.

Bu Kanjeng semakin cinta Indonesia. Apalagi saat diketahui betapa daun lontar yang lebarnya satu sampai tiga meter itu banyak sekali manfaatnya. Daun yang berbentuk seperti kipas dengan diameter 1 meter lebih, punya sejarah tersendiri khususnya di bidang literasi dan sastra bangsa Indonesia.

Bu Kanjeng jadi ingat saat guru sejarahnya menerangkan bahwa peradaban manusia Di zaman dulu terdokumentasikan melalui daun lontar. Hal ini tak bisa disangkal karena manusia zaman dahulu menuliskan atau menggambarkan sesuatu di daun lontar. Bahkan ada beberapa literatur di zaman kolonial Belanda menyebutkan bahwa lontar masih dipakai dalam surat menyurat resmi para penghulu Suku Sasak sampai akhir abad 19.

Sambil menikmati buah lontar muda yang rasanya kenyal segar dan memiliki kandungan energi pastinya, Bu Kanjeng semakin penasaran dengan pohon lontar. Pak Zaenal dan Bu Syaidah yang asli pulau Rote pun berkata bahwa di NTT, batang lontar dijadikan bahan pembangun rumah. Batangnya bisa sebagai tiang. Juga bisa menjadi perabotan rumah seperti meja dan kursi serta dibuat perahu. Pelepahnya yang besar dan kuat bisa untuk pagar dan tembok rumah. Daunnya yang lebar bisa dimanfaatkan sebagai wadah penampung air yang disebut haik (semacam ember), sebagai atap rumah, alat musik Sasando dan topi Ti’ilangga (khas NTT) dan beberapa fungsi lainnya.

Dulu, rumah di NTT seluruhnya berasal dari pohon lontar sehingga kerap dinamakan rumah daun. Kini banyak rumah di sana yang sudah berdinding bata tetapi sebagian masih beratap daun pohon lontar sebelum diganti dengan seng.

Bu Kanjeng pun semakin penasaran dengan manfaat pohon lontar. Ternyata tandan buah atau mayang lontar yang masih muda bisa dimakan dan rasanya seperti kelapa muda tetapi airnya lebih sedikit. Sedangkan tandan buah pohon lontar yang sudah cukup tua, disadap dan menghasilkan air buah lontar (air nira) yang rasanya manis. Setiap mayang dapat menghasilkan buah sebanyak 20-24 butir dengan ukuran buah antara 15-20 cm. Setiap buah berisi tiga buah biji yang tidak terlalu besar dan pipih.
Nah buah itu lah yang dinikmati Bu Kanjeng sambil memandang laut lepas di tepi pantai Lasiana.

Bu Kanjeng pun berdiskusi lagi dengan Pak Kanjeng tentang pohon lontar. Ya di pulau Jawa, air nira ini disebut legen yang banyak ditemukan di pesisir utara Jawa seperti Pati, Tuban serta Gresik. Di beberapa daerah seperti Aceh dan Yogyakarta, masyarakat mengolah air nira lontar menjadi gula aren.
Bu Kanjeng sekeluarga penikmat gula aren.

Sayangnya saat di Kupang Bu Kanjeng tak terpikir untuk membawa oleh-oleh berupa gula aren karena di pesawat tanpa bagasi. Gula aren yang berasal dari mayang lontar itu bisa dimanfaatkan menjadi gula air, gula semut (gula merah butiran), dan gula lempeng (gula merah padat) atau difermentasi menjadi tuak, sopi juga sebagai bahan pembuatan kecap.

Ingin rasanya ia datang lagi ke Kupang untuk menikmati yang ada disana dan berbagi ilmu. Undangan Road show pun selalu didamba.

Bersambung