Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat

Jejak Bu Kanjeng di Museum Bung Hatta.

Tinggalkan komentar

Sri Sugiastuti

Depan Museum Bung Hatta Bukittinggi

Sebagai rakyat Indonesia, Bu Kanjeng ingat siapa itu Bung Hatta yang dikenal lewat pelajaran Sejarah saat duduk di bangku SD. Bung Hatta salah satu proklamator yang berdampingan dengan Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bu Kanjeng akhirnya bisa menginjakkan kakinya di Bukittinggi tanah tumpah darah Bung Hatta sang Proklamator. Tepatnya tanggal 16 Desember 2019. Allah izinkan Bu Kanjeng dan sohib literasinya berkunjung ke Museum Bung Hatta. Museum? Ya museum yang dibangun sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya sampai berusia 11 tahun. Karena setelah itu Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Hari masih pagi cuaca cerah dengan langit biru jernih, menambah keindahan dan kesejukan kota Bukitinggi. Rumah atau museum itu terletak di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatra Barat. Baru saja turun dari mobil. Bu Kanjeng selfie dulu.

Setelah itu ia mulai eksplore bagian dalam. Kamar sebelah samping kamar belajar, kamar berukuran kecil dengan dipan dan meja belajar. Tempat Bung Hatta belajar di malam hari. Semakin ke dalam decak kagum Bu Kanjeng tak tertahankan, Rumah model panggung dua lantai dengan struktur kayu di seluruh bagian yang dilengkapi pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan.

Seperti layaknya bangunan orang berada, bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan pavilion berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta.

Rumah atau Museum itu dibangun mengikuti bentuk aslinya yang dapat dilihat di memoir Bung Hatta dan berbagai foto dan dokumentasi milik keluarga Bung Hatta. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

Bu Kanjeng hanya 20 menit disana. Sebenarnya ia ingin menulis lebih detail tentang museum itu. Ia sempat naik ke lantai 2 rumah panggung itu. Melihat berbagai benda peninggalan Bung Hatta. Bu Kanjeng seakan merasakan kehadiran Bung Hatta yang sibuk menerima tamu dengan ramah.

Dari ruangan lantai dua bagian depan Bu Kanjeng bisa melihat jalan raya dengan berbagai kesibukannya. Sementara dari jendela bagian belakang Bu Kanjeng bisa menikmati semilir angin dan suasana tenang di lantai bawah.

Saat memasuki ruang dapur yang menyatu dengan kolam ikan. Rasanya ingin berlama – lama disana. Sampai di ujung barat bagian belakang ada seperangkat Kereta kuda yang tanpa kuda. Itu alat transportasi yang biasa digunakan keluarga besar Bung Hatta. Bu Kanjeng pun sempat berfoto sambil antri ke toilet.

Rumah sederhana yang diresmikan tahun 1995 berdasarkan bentuk aslinya memang sebagai simbol atau keberadaan Bung Hatta di dunia. Bung Hatta sebagai anak saudagar, mental, disiplin dan jiwa patriotiknya terbentuk di rumah ini.
Sekilas tentang Bung Hatta yang sangat meginspirasi.

Bung Hatta dilahirkan di rumah ini pada tanggal 12 Agustus 1902. Beliau adalah anak dari Haji Muhammad Djamil dan Saleha, dan merupakah keturunan kedua dari Syech Batuhampar yang bernama Syech Abdurrahman. Bung Hatta tinggal di rumah ini dari tahun 1902-1913 sebelum pindah ke rumah baru di depan rumah ini. Walaupun relatif singkat, tetapi suasana dari kehidupan di rumah ini memberikan kenangan yang mendalam serta berperan besar dalam pembentukan watak beliau. Disiplin kerja, ketepatan waktu, kasih sayang yang dilihat Bung Hatta pada kehidupan rumah ini sebagian memberikan andil dalam proses pembentukan kepribadiaan beliau.

Bila membaca buku memoar Bung Hatta hati Bu Kanjeng tersentuh. Perjuangan Bung Hatta luar biasa. Ia rela keluar dari zona nyaman merantau ke Jawa untuk belajar dan ikut organisasi agar kemerdekaan segera terwujud.

Bung Hatta sempat belajar atau sebenarnya dibuang ke Belanda karena dianggap membahayakan. Akhirnya perjuangannya berbuah manis. Beliau bisa mendampingi Bung Karno sebagai wakil presiden yang pertama.

Sebelum meninggalkan museum Bu Kanjeng berdoa semoga bisa datang lagi berwisata sejarah di Sumatera Barat.

Bukittinggi, 16 Desember 2019

Penulis: astutianamudjono

I am a teacher, motivator, blogger who try sharing and growing together.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s