Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


26 Komentar

Telaga Warna yang Eksotik

112

Taman yang ada di dekat telaga warna di Dieng Wonosobo

Hi, mau nanya nih, sudah pernah jalan-jalan ke Dieng kah? Kalau sudah pasti banyak ya bisa dinikmati di sana. Sampai bingung  deh mana dulu  yang mau diceritain. Nah kali ini saya mau berbagi kenangan yang saya rasakan ketika jalan-jalan ke Telaga Warna yang jadi salah satu obyek wisata di Dieng Wonosobo.

Kami sengaja dari Solo pagi hari lewat Kopeng, Blabak, Magelang Secang, Temanggung baru menuju Ke Wonosobo. Sepanjang jalan mata ini dimanjakan dengan pemadangan pegunungan Telomoyo dan lereng lerengnya yang ditanami aneka jenis sayuran yang tumbuh di daerah pegunungan. Pas waktunya perut mulai keroncongan kami berhenti di pinggir jalan menikmati bekal yang kami bawa. Sudah niat mau sarapan di pinggir jalan sambil menikmati udara sejuk pegunungan Telomoyo.

033

Makan dulu di pinggir jalan sebelum melanjutkan ke tempat tujuan

Bekal yang kami bawa cukup menyelera. Nasi kotak yang sudah dilengkapi dengan ayam goreng, lalapan dan oseng kikil yang maknyoss. Acara sarapan selesai. Cuusss.. yuk lanjut mobil meluncur cepat melewati jalur yang kami pilih. Saya menikmati perjalanan Temanggung-Wonosobo yang terus menuju ke Dieng. Sebelum sampai di obyek wisata Telaga Warna kami sempat berhenti di gardu pandang karena si Aura cucu saya kebelet pipis. Yuk turun dulu yang mau pipis siapa lagi nih?

 
066

Yang bisa dilihat dari pos gardu pandang.. kebun kentang yang sangat terkenal dari Dieng

Karena perjalanan lancar jam 10 kami sudah sampai Telaga Warna. Hmm ternyata bener apa kata mbah Google pemandangan dan udara pegunungan di obyek wisata ini sejuk, bersih dan penuh dengan ketenangan. Waktu itu masih pagi dan harinya sabtu juga sedang tidak musim liburan jadi ngga terlalu ramai.

 
Setelah membeli tiket kami masuk  ke lokasi telaga Warna. Seakan ngga percaya melihat danau atau telaga yang saat itu dalam keadaan kering air danau tidak melimpah dan warna yang muncul siang itu hijau cantik sekali’
 
088

Telaga Warna yang sedang kering, tetap saja memancarkan keindahan dan ada misterinya

Pasti pada penasaran ya koq dibilang unik cantik dan ada kesan misterinya. Konon air di telaga ini kerap berubah-ubah warnanya. Kadang kekuningan, hijau, biru, bahkan sering juga memancarkan warna pelangi. Tepat sekali bila penduduk di sekitar Dieng menyebutnya telaga Warna.

Telaga Warna ini berada di ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, dan dikelilingi oleh pemandangan pegunungan dan pepohonan yang hijau. Jika kalian ingin menikmati cantiknya Telaga Warna Dieng ini, Pagi dan Siang Hari adalah waktu yang tepat untuk menikmatinya. Karena apabila kalian datang sore hari, Kalian hanya akan melihat kumpulan kabut yang menutupi lembah.

Kami merasa beruntung bisa berada di ketinggian 2000 meter.Telaga Warna berada di desa Dieng  Wetan, kecamatan Kejajar. Wonosobo. Menikmati keunikan pemandangan alam di sekitar telaga Warna. Air telaga yang mengering dan terkesan tenang sedang di pinggir telaga pepohonan rindangmenambah kekaguman saya dan keluarga ketika tadabur alam di Dieng.

085

Telaga yang kering dan pohon kering yang dibiarkan tumbang, memberi kesan bila telaga ini tidak kering pohon tersebut akan tenggelam.

Kami sempat menyusuri tepi telaga yang di kelilingi pohon rindang terkesan serem. Menurut sejarah telaga ini terjadi karena letusan gunung Purba ratusan tahun yang lalu.Kalau kisah mitosnya boleh percaya ngga percaya warna telaga itu berasal dari cicin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dasar telaga. Makany air di dalam telaga itu bersinar indah seperti cicin milik bangsawan tersebut.

Tapi kalau menurut pnelitian yang akurat, warna itu muncul karena ada pembiasan dari cahaya yang ada di sekitar telaga, warna langit biru, kekuningan, hijau atau mungkin bila cuaca mendung air telaga akan berubah warna menjadi abu-abu.

Oya di sebelah telaga Warna masih ada telaga Pengilon. Sayangnya kami tidak menunjunginya. Kami malah tertarik untuk menyusuri goa yang ada di sekitar tepi danau.Samapi saat ini masih ada salah satu goa yang digunakan untuk upacara keagamaan biasanya mereka adalah umat Hindu. Goa di sekitar telaga   cukup banyak ada goa Semar, Goa Sumur, goa Batu Tulis dan goa Jaran

108

Jalan menyusuri tepi telaga di antara pepohonan yang rindang menuju goa yang di sekitar tepi telaga

Rasanya kami betah berlama-lama di tepi telaga sambil menikmati jagung rebus dan iringan musik pengamen yang buka lapak di dekat tepi pantai yang berhasil menghibur pengunjung, sekaligus mengumpulkan rupiah yang bisa dibawa pulang.

Bila anda penasaran karena belum pernah kesana. Jangan ditunda. Sebelum jalan-jalan ke Luar Negeri wajib hukumnya menikmati keindahan alam Bumi Pertiwi ini.

Untuk saat ini wisata ke Dieng belum bisa menggunakan bus wisata yang besar. Pertimbangannya adalah jalan yang sempit dan naik turun plus berkelak kelok pula. Jadi sebaikanya menggunakan bus wisata mini, kendaraan pribadi, angkutana umum, sepeda motor atau carter bus mini yang dimiliki oleh Kabupaten Dieng.

 

 

Untuk tiket masuk, bayar parkir dan melihat obyek wisata yang berdekatan di komplek Dieng sangat bervariasi. Yang jelas bila membeli tiket perorangan dan rombongan tentunya berbeda.

Nah itu tadi sekelumit foto bercerita yang sempat saya simpan di memori saya. Semoga besok jumpa lagi dengan cerita jala- jalan kami yang lain.


Tinggalkan komentar

Biodata Saya

Salam. Perkenalkan saya seorang guru di SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta Jawa Tengah. Orangtua saya memberi nama Sri Sugiastuti berharap menjadi seorang dewi yang dilimpahi keselamatan dan keberkahan dalam hidup. Masa kecil saya sangat bahagia karena berada di Jakarta dengan lingkungan dan budaya betawi yang sangat kental. Masa sekolah saya dari mulai SD sampai SMA di Jakarta. Ambil S1 Pendidikan Bahasa Inggris th 1984 di UNS Surakarta, dan Tahun 2008 kuliah lagi di UMS Surakarta jurusan Pengkajian Bahasa Inggris.

Saya sempat mengajar di SMEA 3 Jakarta (SMKN 6 ) tahun 1985-1988 dan juga mengajar di Yayasan Menengah 17 Agustus 1945 di bawah pimpinan Bapak A.P Batubara. Sejak tahun 1990 saya hijrah ke Surakarta hingga saat ini.

Dalam berjuang dan belajar menulis saya pernah mengikuti Kursus jurnalistik yang di Interstudi jakrta tahun 1986. mengikuti Pelatihan di Lembaga Pelatihan Jurnalistik Solopos tahun 2011, mengikuti seminar ” Guru Plus adalah Guru yang Menulis tahun 2012. Dan yang baru-baru ini Teacher Writing Camp 3 tahnu 2013 yang diselenggarakan IGI dan Guraru di Wisma UNJ.
Kegiatan saya selain mengajar adalah belajar menulis dengan niat berdakwah melalui tulisan. Banyak tulisan saya yang saya posting di Kompasiana sebagai media pembelajaran saya, termasuk juga menulis artikel di majalah MTA, Solopos dan bulletin sekolah.
Buku yang sudah saya buat. “SPM Bahasa Inggris SMK” yang diterbitkan Erlangga, “ Seni Mendidik Anak Sesuai Tuntunan Islam” diterbitkan oleh Mitra Wacana Jakarta. 2 Novel Hidayah yaitu “ Kugelar Sajadah Cinta” dan “ Deburan Ombak Waktu” diterbitkan Indie.
Saya juga aktif di majlis ta’lim yang ada di Soloraya yang dikelola oleh istri dokter special yang ada di Soloraya. Selain itu saya juga ketua pengurus TPQ Masjid Al Fath yang sudah berjalan hampir berjalan 8 tahun. Memberi kegiatan ekskur “ Ayo Menulis”.
Belajar di media social dan berbagi ilmu merupakan passion saya dan berharap menjadi orang yang bermanfaat dan dimudahkan dalam menggapai ridha Allah. Motto hidup saya “ Hidup adalah berjuang untuk taat pada hukum Allah”
Keberadaan saya di dunia maya bisa dilihat di :

http://astutianamudjono.blogspot.com
http://guraru.org/anggota/astutiana/profile/edit/group
http://www.facebook.com/astutiana.sugiastuti
http://www.kompasiana.com/srisugiastuti
https://twitter.com/AstutianaM
https://astutianamudjono.wordpress.com/

Bila ingin mengenal saya dan berbagi tentang pendidikan, menulis, dan motivasi nomer kontak saya +6285728304241.