Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Sepenggal Siang di Paragon bersama LTPro

Oleh : Sri Sugiastuti

“Kesempatan ngga akan datang dua kali. ” kalimat itu selalu jadi semangat bu Kanjeng dalam melangkah. Siang itu tanggal 8 September 2019, sebenarnya jadwal bu Kanjeng padat merayap. Tetapi karena sudah komitmen di emak Blogger untuk gabung di acara beauty class ala LTPro Latulipe, maka rasa ngantuk dan capek karena semalaman di kereta api, dan pagi hari sambung ke resepsi pernikahan ya ngga masalah. Thx show must go On.

Pukul 14.00 lebih sedikit bu Kanjeng sudah meluncur ke Paragon mall. Kebetulan ngga jauh dari rumahnya. Ia langsung duduk di kursi yang masih kosong. Terlihat nuansa hitam seperti dress code yang sudah disepakati. Di atas panggung sudah ada mba MC yang akan memandu acara beauty class ala LTPro yang mengangkat tema hijaber berpesta dengan sentuhan LTPro Latulipe.

Bu Kanjeng salah satu peserta yang paling tua. Ia berprinsip bahwa cantik bukan hanya milik kaula muda. Maka dengan penuh perhatian step demi step apa yang diajarkan secara massal sore ini diikuti bu Kanjeng dengan serius.

Tahapan make up muka dengan berbagai lapisan sudah diikuti. Nampak beda wajahnya yang dipoles itu. Untuk pembuktian bahwa make up itu awet, perias wajah itu menepuk berkali- kali wajah model itu. Dan memang tetap awet dan tidak luntur. Hasil make itu, sa gat luar biasa. Tidak menor tapi nampak natural dan alami.

Bagaimana mana dengan make up bu Kanjeng? Lumayan keren walau tanpa perona wajah dan bulu mata palsu. Bu Kanjeng saat kesulitan saat membuat alis mata. Terus terang membuat alis mata itu, salah satu yang paling susah. Bu Kanjeng peu dibantu beauty consultan dari La Tulipe agar bisa membuat alis dengan benar.

Wow ternyata hasilnya luar biasa. Walaupun bu Kanjeng tidak pede dgn alis yang tebal itu. Untuk riasan wajah bu Kanjeng puas dengan LTPro e super duper itu. Bu Kanjeng jadi mikir ingin punya sesuatu dari LTPro yang ada. Akhirnya ada 3 produk yang dibawa pulang bu Kanjeng.

Ada Longlasting matte w
lip cream nomer 08. Wah itu keren banget. Karena warnanya g norak, ngga menor. Natural seperti warna bibir. Ada juga pencil eye liner yang menurut bu Kanjeng sangat penting. Matanya yang sudah mulai menciut dimakan usia bila digaris atas bawahnya dengan pencil itu terlihat lebih tajam. Satu lagi yang dibeli bu Kanjeng bedak padat khusus untuk sentuhan terakhir make up wajah.

Yes, bu Kanjeng pulang dengan membeli tiga produk LTPro Latulipe yang keren. Alhamdulillah sesekali me time dengan belanja kosmetik memang asyik.

Bu Kanjeng sempat juga memberikan testimoni ketika menggunakan produk LTPro dan mengikuti beauty class singkat tadi. Kesannya dia sangat senang lah. Ia banyak belajar bagaimana bermake up yang benar. Juga pentingnya menyamakan kekurangan yang ada di wajah dengan polesan yang benar. Ia jadi paham agar bermake up tidak menor dan norak.

Hati bu Kanjeng tambah gembira ketika menerima goodie bag saat berpamitan dan diintip apa isinya. Ternyata ada bedak padat, spray wajah dan pembersih make up yang sangat keren. Alhamdulillah, ini rezeki nenek yang selalu mau belajar dan penuh semangat untuk dapat ilmu dari mana saja sumbernya.

Paragon Mall.
8 Sept 2019.


Tinggalkan komentar

Nulis Jurnal Yuk*

_Oleh :Sri Sugiastuti_

Rezeki itu tidak selalu berupa uang atau sesuatu yang berhubungan dengan materi. Ilmu yang saya peroleh secara ngga sengaja itu juga rezeki. Seperti yang saya tuliskan kali ini.

Singkatnya ketika sedang asyik berWAG ria ada info bakal ada kelas sharing online tentang Manfaatnya Menulis Jurnal. Tentu saja saya bergairah, Ahay ada yang saya dapat nih, apalagi pematerinya Jeng Artha Julie Nava seorang Outhor, personal banding, social branding, analyst, yang tinggal di Amrik.

Setelah say helo, sharing online dimulai. Menulis jurnal, sebetulnya bukanlah hal yang baru. Manusia sudah melakukan pencatatan terhadap aktifitas mereka sejak dulu kala. Kalau kita melihat dari catatan sejarah, ada banyak sekali bukti bahwa teknik jurnaling ini sudah dilakukan sejak dulu kala. Contohnya: masyarakat Mesir yang hidup sekitar 4500 tahun lalu, sudah menggunakan jurnal ketika mereka membangun piramida Giza.

Begitu juga dengan Leonardo da Vinci rajin menulis ide-idenya dalam jurnal. Lengkap dengan deskripsi mesin dan sebagainya yang jadi penemuan dia. Ada juga Frieda Kahlo. Ia pelukis terkenal dari Meksiko. Karena ia pelukis, dan jiwa seninya tinggi, tidak heran kalau jurnalnya juga penuh berisi goresan kuas dan warna.

Logbook alias jurnal kuno masa Mesir yang memuat jadwal pembangunan menara Giza sekitar 4500 tahun lalu pda masa 27 tahun pemerintahan raja Khufu. Lengkap dengan nama inspekturnya yang bernama Merer, dan ia membawahi 200 pekerja. Pengawasnya dari pejabat istana bernama Ankhaf, saudara tiri raja Khufu. Jurnal ini ditemukan di situs

Jurnal juga digunakan oleh ilmuwan, seniman, peneliti, dan penulis, selalu mencatat aktifitas dan pemikiran mereka dalam jurnal. Jeng Julie mem berikan contohnya ketika ia menggunakan jurnal sejak lama, karena pekerjaan saya sebagai social researcher yang harus ke lapangan dan mengumpulkan data.

Pertama kali yang mengenalkan sistem jurnal adalah professornya dari Cambridge University. Namanya Judith Ennew. Dia sekarang sudah almarhum. She is the best, guru paling hebat yang pernah dia kenal, Ia mendapatkan untuk soal penelitian sosial. Orangnya jutek, nggak toleran terhadap kesalahan sekecil apapun.

BEDA JURNAL DENGAN DIARY

Sebetulnya sih nggak beda-beda amat, karena fungsi keduanya adalah untuk mencatat/merekam hal-hal yang dialami oleh seseorang.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, orang membuat perbedaan tentang Diary dan Jurnal.

Diary, adalah istilah untuk catatan tentang aktifitas keseharian, mulai dari pagi hingga malam. Dan pencatatannya runtut, dari A (bangun tidur biasanya) hingga ke Z (saat pergi tidur lagi). Sehari penuh, dan tanpa tema spesifik.

Sedangkan Jurnal, adalah aktifitas menulis atau merekam sesuatu yang dialami penulisnya secara lebih rinci, dan dengan tema spesifik. Ia tidak sekedar mencatat aktifitas keseharian, namun juga bisa disertai dengan goal khusus. Misalnya daftar aktifitas yang harus dijalankan, goal untuk Mindset, goal untuk diet, goal olahraga, ngaji, dan sebagainya.

Pendeknya, jurnal punya tujuan yang lebih spesifik. Selanjutnya, sistem jurnal yang biasa jeng Julie gunakan untuk merekam jejak problem ya.

Kebetulan dia sering dapat gangguan berupa mimpi aneh-aneh. Akhirnya, ketimbang bingung sendiri, ia catat saja, sembari melakukan terapi spiritual semacam doa, dzikir, berpikir positif, rukyah, dll.

Alhamdulillah sekarang gangguannya sudah jauh berkurang. Mimpinya bagus-bagus sekarang, lucu, konyol, indah. Semacam itu. Ia hampir tidak pernah lagi bermimpi buruk. Dan kalaupun ada, itu cepat hilang sehingga tidak bisa dicatat.

Perbedaannya lagi, jurnal itu lebih fleksibel. Kita bisa memasukkan sekaligus beberapa hal yang kita anggap penting. Misalnya nih: kita punya goal diet, goal olahraga dll… itu bisa kita masukkan sekaligus ke dalam satu catatan. Jadi kita tidak lagi pakai agenda terpisah-pisah. Sekali jalan, beberapa pulau terlampau.

Dan jurnal juga bisa jadi penyalur kreatifitas kita. Misalnya kita gemar corat-coret (ini biasanya tipe Kinesik), kita bisa gunakan gambar, foto, warna-warni, kain perca dll… seperti halnya kita sedang scrapbooking.

Kita bisa memasukkan desain baju yang sedang kita rancang, bersamaan dengan jadwal harian, curhat dsb. Jadi, jurnal tidak harus hanya berupa tulisan. Seandainya muat pun, temen-temen bisa taruh pohon beringin di dalamnya istilahnya gitu.Menarik, bukan?

Kemudian, sistem jurnaling sesekali bisa dipakai untuk kelas Semacam Terapi Ikhlas, dan Menemukan Daya Tarik Diri serta Potensi Alamiah.

Jeng Julie berbagi bahwa Darwin, si Bapak Evolusi. Ia selalu mencatat dengan cermat setiap hal yang ditemukannya. Lengkap dengan gambar, peta, nomor penemuan, tanggal, dan sebagainya. Dari catatan hasil lapangan inilah, ia akhirnya berhasil menyajikan teorinya yang terkenal tentang evolusi.

Sistem jurnal, digunakan juga untuk membantu kita agar bisa FOKUS dalam kegiatan keseharian. Kita perlu banget ya, melatih diri untuk fokus. Apalagi buat mereka yang punya bisnis dan punya seabrek kegiatan. Kalau kita nggak fokus, ya gud bai deh yang namanya kesuksesan.

_Bersambung ya.._


Tinggalkan komentar

Masa Depan Profesi Menulis

_Oleh: Sri Sugiastuti_

Sudah kah Anda dapat bukti ada banyak orang sukses karena menulis buku? Atau orang yang sudah sukses lalu menulis buku? Konon menulis buku cara paling efektif adalah melipatgandakan kesuksesan.

Yang jadi pertanyaan siapkah Anda punya buku sendiri? Silakan dijawab, jadikan PR, atau cukuplah direnungkan saja. Pernahkah Anda mendengar istilah writerprenuer.”? Mereka biasanya disebut sebagai penulis lepas. Punya posisi mandiri.

Mengapa Masa depan profesi menulis perlu Anda ketahui sehingga profesi menulis menjadi pilihan utama. Ini fakta menariknya. Penulis itu tidak terkait kontrak kerja dari lembaga, perusahaan atau organisasi manapun. Penulis ini memiliki posisi merdeka.

Penulis lepas itu tidak tertekan, tidak dikejar _deadline_ , meskipun begitu ia punya jadwal kerja, target kerja yang ia buat sendiri secara jelas.

Artinya apa? _Ia bisa menjalankan profesi menulis ini dengan menyenangkan. Awet muda, banyak teman dan selalu berpikir positif_

Nah, jika menggunakan kaca mata profesi _Cashflow Quadrantny Robert Kiyosaki_ , profesi semacam ini masuk dalam Quadrat S ( _self employ_ ), artinya ia kerja untuk dirinya sendiri sebagai profesional.

Membaca paparan di atas pasti menggiurkan, berbahagia lah Anda bila punya passion menulis, mimpi Anda untuk menjadi orang sukses sudah di depan mata, tinggal lakukan, 3M, Menulis, Menulis menulis.

Beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Penulis Lepas:

1. Menulis buku sendiri dan diterbitkan sendiri ( _Self Publishing_ ) kerja sama dengan Penerbit.
2. _Blogger_ , menulis konten yang ia sukai.
3. Penulis artikel di media massa, portal berita bukan sebagai jurnalis, tapi sebagai koresponden.
4. _Ghostwriter_ , membantu orang lain menulis buku dengan jasa ketiknya.

Pekerjaan penulis lepas yang mungkin saja bisa menjadi rekomendasi teman-teman semua, jika ingin menekuni pekerjaan-pekerjaan tersebut dalam bidang penulisan, yaitu Menulis Buku. lalu ciptakan personal branding Caranya bagaimana? Jangan lelah untuk mengupgrade diri terus lah belajar dengan penuh semangat.

Tulisan ini terinspirasi dari belajar menulis online baik yang gratisan maupun berbayar. Saya pribadi sering tergoda dengan yang gratis padahal ujung-ujungnya tetap diarahkan untuk gabung dan berbayar. Jelas semua ada plus minusnya. Bisa sukses bisa gagal, semua kembali ke niat juga seberapa serius Anda berkomitmen dengan keputusan yang sudah diambil.

Salam Literasi penuh cinta


4 Komentar

My Beloved Son …We Love You

20150501_055957
My happy Family

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerinduan seorang ibu pada  anaknya sering datang tiba-tiba. Itu yang saya alami setelah puas memeluknya dalam doa..Allah gerakkan tangan ini membuka album lama yang ada di lepi jadul saya. Biarkan saya menulisnya dalam blog ini ya sebagai bukti bahwa saya begitu mencintainya karena kau amanah berharga yang Allah berikan pada saya.

Mau flash back bentar ya..My son  ini anak mahal dan ujian untuk mendapatkan amanah ini juga luar biasa. Saya harus hamil empat kali, pada hamil yang ke empat ini saya baru dipercaya Allah merawatnya menyayanginya dan menjaganya agar menjadi anak yang saleh. My Bocin lahir pada tanggal 7 Januari 1998 dengan berat badan 4 kg. di bulan ramadhan di saat waktu orang tertidur lelap, ketuban pecah lebih dulu berhamburan di sepanjang jalan menuju rumah sakit. My Son lahir normal tanpa bantuan alat tapi saya sempat berhenti mengejan sejenak.

Baca lebih lanjut


3 Komentar

Tradisi Orang Betawi Pergi Haji

1. TRADISI ORANG BETAWI PERGI HAJI

Ya Allah ya Robbi
Cari untung yang lebi
Biar bisa pegi haji
Jiarah kuburan nabi nabi

Catatan hati saya menuju tanah suci akan diawali dengan masa kecil saya di tahun 1960 an dan tradisi orang Betawi pergi haji. Tentu ada alasannya. Sungguh bagi saya tradisi ini sebagai motivasi awal betapa saya ingin menjadi tamu Allah. Orangtua saya berasal dari Solo tapi kami tinggal di lingkungan orang Betawi. Kami sebagai pendatang mendapat julukan orang Jawa kowek yang ngendon di Jakarta. Orang Betawi walau kadang bicaranya nyelekit pada prinsipnya mereka sangat baik kebanyakan dari mereka memiliki sifat ikhlas dan tidak kikir.

Konon kata “Betawi” itu plesetan dari nama Batavia kota yang berada di pinggir teluk Jakarta. Ada juga yang mengatakan Betawi itu berasal dari kata “Bataav”. Sedangkan yang lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa kata “ Betawi “ berasal dari “mambet tahi” yang artinya bau kotoran. Hal ini berdasarkan kisah perang yang dialami antara antara pasukan Mataram dan Kompeni berperang. Karena sisa kompeni tinggal beberapa orang persediaan peluru juga sudah menipis, salah satu dari Kompeni itu mengambil kotoran manusia lalu memasukkan ke dalam panci, lalu kotoran tersebut dilemparkan kepada pasukan Mataram yang berada di luar tembok sehingga mereka menjauh dan berteriak “Mambet tahi” !, Mambet tahi! Sejak itu Batavia sering disebut Betawi.

Keluarga kami bergaul dengan orang Betawi dengan baik. Kehidupan dan tradisi orang Betawi sangat mewarnai masa kecil saya. Hampir semua tradisi yang ada di Betawi bisa saya amati. Ada tradisi pernikahan, khitanan, kematian, kelahiran, ajang silahturahmi, makanan khas, mencari hiburan dan juga ritual keagamaan orang Betawi yang sangat agamis ikut mewarnai kehidupanku dalam beragama.
Saya masih ingat ketika di siang hari tetangga kami datang ke rumah. Kebetulan Ibu tidak ada jadi saya yang menemuinya.
“Salamualaikum. Ibu ade Neng,?” terdengar suara seorang perempuan memasuki teras rumah.
“ Ibu belum pulang Nyak Haji,”jawab saya spontan.
“Oh. Tolong sampein aje ye Neng, minggu depan diajak nonton penganten. Si Dijeh anak perawan nyak Haji udeh ketemu jodonye.”
“Iye Nyak Haji, ntar aye sampein. Nanggap orkes melayu apa layar tancep Nyak Haji?” Tanya saya ingin tahu.
“Orkes Melayu. Pan calon lakinye Dijeh emang demen banget orkes Melayu,”jelas nyak Haji

Masa kecil hingga masa remaja saya memang kental tradisi yang ada di Betawi. Saya juga larut dengan kegiatan agama yang sering diadakan oleh kelompok atau majlis ta’lim yang ada di sekitar rumah. Saya sering ikut ibu saya atau tetangga sebelah rumah yang asli orang Betawi menghadiri banyak pengajiaan yang diadakan pada tiap perayaan hari besar umat Islam. Moment Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzurul Quran, atau perayaan lain dimana sering mendatangkan ustadz dan ustadzah ternama saat itu seperti Habib Umar, Habib Abdullah Syafei ayah dari Ustadzah kondang Tuty Alawiyah, dan juga Ustadzah Royani

Siang hari kesibukan di setiap rumah akan tampak. Begitu juga dengan kesibukan di masjid tempat diadakannya perayaan. Mereka sibuk menghias masjid dan menata tempat yang akan digunakan untuk perayaan malam itu. Semua bersemangat sehingga terlihat kerukunan di antara warga dan jamaah pengajian itu.
“Udeh beres semua kan! Konsumsi sama perlengkapan lain dah siap belon,?”tanya Bang Dullah salah satu pengurus masjid itu.
“ Lah udeh rapi jali Bang. Inshaallah tar malem ngga ujan jadi yang datang banyak dan meriah.”
“Amin.” Serentak yang sedang duduk menghias podium mengamini.

Perayaan hari besar Islam jadi agenda yang saya tunggu karena ada perasaan kagum dan termotivasi dengan inti pengajian yang beliau berikan. Dalam acara tersebut unsur kebersamaan dari warga atau jamaah sangat terasa terutama dalam menyiapkan tempat, makanan, minuman dan akomodasi untuk ustadz dan ustadzah yang diundang. Perayaan ini biasanya melibatkan seluruh warga atau jamaah masjid tersebut.
Ucapan salawatan bergitu melekat di hati saya;

Ya Nabi salam Alaika
Ya Rasul salam Alaika
Ya Habib salam Alaika
Shalawatullah Aalaika

Tiap keluarga diminta untuk membawa nasi uduk, nasi ulam, aneka jajanan ada kue bugis, cucur, kue talam, kue jongkong dan makanan lain yang khas Betawi lainnya.
Sejak itu saya punya motivasi dan pemahaman bahwa ketika kita mengaji ada malaikat yang hadir dan mencatat kegiatan kita saat itu. Malaikat juga ikut mendoakan orang yang sedang mengkaji Al Quran atau berada di jalan Allah supaya mendapat kemudahan dan kemuliaan di dunia maupun di akherat.

Tradisi orang Betawi pergi haji dengan tata caranya juga keunikannya sangat membekas di hati saya yang kala itu baru klas 2 SR. (sekolah rakyat ). Sedang sore hari saya belajar mengaji. Saat itu pergi haji sudah menjadi prioritas utama orang Betawi karena pendidikan agama yang diberikan orangtua cukup kuat sehingga tertanam di hati mereka untuk bisa menyempurnakan rukun Islam. Orang Betawi yang mapan tidak ada masalah dengan biaya pergi haji, ia menyegerakan ibadah haji bahkan berulang ulang. Sedangkan orang Betawi yang status ekonominya tidak terlalu tinggi juga punya obsesi yang sama untuk segera bisa pergi haji.

Pergi haji membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mereka harus naik kapal laut dan istilah orang Betawi “ pegi belayar” selama 6 bulan. Di tahun 60-70 an ketika pembangunan kota Jakarta berkembang pesat ini saat yang paling menguntungkan bagi orang Betawi terutama mereka yang memiliki lahan luas. Terjadi penggusuran dan harga tanah pekarangan merangkak naik. Dari hasil penjualan tanah mereka bisa mewujudkan niatnya pergi haji. Mereka segera membelanjakan uangnya untuk membeli “Qutum” sepadan artinya dengan tiket pergi haji. Atau istilah sekarang langsung mendaftar haji.

BERSAMBUNG


Tinggalkan komentar

Menjadi Pribadi Yang Mulia Dengan Kritik

Salam, Guraru yang dimuliakan Allah. Saya sedang ingin menulis yang adem dan ngga memaju adrenalien bekerja keras. Yuk cooling down sejenak. Semoga menginspirasi dan memotivasi gurarues agar menjadi pribadi yang mulia dengan kritik.

Menyimak di guraru beberapa hari ini, jadi terinspirasi untuk menulis tentang norma yang seharusnya kita miliki dalam pergaulan agar tidak kebablasan dalam bertindak, ada norma yang mengikat ketika bertutur kata baik lisan maupun tulisan. Rasanya kita sebagai orang timur bagaimanapun keadaannya menjaga kesopanan dalam pergaulan sangat penting.

Sebagai manusia tidak bisa dipungkiri merupakan tempat salah dan lupa. Untuk itu kita perlu sahabat dan teman,atau orang lain sebagai “alarm” yang akan mengingatkan kita ketika ada yang melenceng dari diri kita, juga menuntun kita kembali ke jalan yang benar. Atau segera sadar bahwa kita baru saja membuat kesalahan.

Lalu upaya apa yang bisa kita lakukan? Salah satunya adalah mendengarkan saran atau kritik yang disampaikan orang lain tentang diri kita. Namun hal ini tidak mudah. Mendengarkan kritik pedas saja tidak nyaman,apalagi melakukan perbaikan dan menjalankan saran yang diberikan. Karena kita kadang salah menilai sebuah kritik. Kita mengganggap kritik sebagai suatu penghinaan atau suatu pelecehan, yang bisa menurunkan nama baik kita.

Agar kita bisa memaknai suatu kritik dengan lapang dada maka ada beberapa trik yang bisa kita lakukan. Sehingga kritik itu bisa jadi sarana yang ampuh untuk membangun kualitas kemuliaan kita sebagai pribadi yang mulia.

• Harus ditanamkan dalam hati bahwa kritik dan saran itu penting. Sehingga kita selalu menunggu kapan ya kita dikritik dan diberi saran untuk meningkatkan kualitas pribadi diri kita.
• Belajarlah dari orang lain. Dianjurkan untuk bertanya dan mencari tahu dan ilmu. Kita memerlukan orang yang jujur untuk saling mengoreksi kekurangan diri masing-masing
• Nikmati kritik dan syukurilah. Ingat tidak semua kritik dan saran sesuai dengan yang kita inginkan. Sebenarnya tidak ada yang rugi ketika dikriti atau dikoreksi. Usahakan tidak berkomentar atau membantahnya. Kecuali ucapan terima kasih yang tulus kepada sang pengeritik karena sudah memberi saran.
• Evaluasi dan perbaiki diri. Jujur pada diri sendiri ketika menerima kritik , jangan sibuk menyalahkan pengeritik dan mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.
• Buat program perbaikan. Cari kelemahan diri dan perbaiki diri. Agar tidak arogan, lebih hati hati dan bijaksana dalam bertindak.
• Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah memberi saran dan kritik pada kita minimal info bahwa sarannya sangat bagus dan bisa diterima dengan baik.
• Dan berdoalah “ Yaa Allah Engkaulah yang telah membaguskan kejadianku,maka baguskanlah oleh Engkau perangaiku” yaa doa yang kita baca ketika menghadapkan wajah kita ke cermin.

Seperti rindunya kita pada cermin supaya penampilan kita bagus. Maka jadikan saran dan kritik sebagai sarana untuk memperbagus diri kita. Jangan membenci orang yang mengeritik kita. Boleh jadi itu sebagai tanda kasih sayangnya pada kita. Ia tidak ingin orang yang dikasihinya tersesat di jalan.

Nah,gimana guraru maukan menjadi pribadi yang mulia dengan kritik.


Tinggalkan komentar

Pentingnya Time Management

Waktu. Adalah salah satu hal yang berharga yang kita miliki. Selain berharga, waktu dalam Islam juga termasuk hal yang utama. Keutamaan waktu telah terukir indah dan tegas dalam QS. Al-‘Ashr. Dalam Al-Quran disebutkan, “Demi waktu. Sesungguhnya manusia (benar-benar) berada dalam kerugian. Kecuali, orang—orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. Sehingga dari sini nampak jelas bahwa alokasi waktu itu sebenarnya hanya digunakan untuk 2 (dua ) hal saja, berbuat baik dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Nah…bunda, karena begitu utamanya waktu ini maka kita memerlukan sebuah ilmu managemen (mengatur) agar waktu kita menjadi efektif, efisien dan tentu saja produktif.
Bunda Septi semakin mempertajam “serius”nya perkara waktu ini dengan mengingatkan kita, bahwa jika ibarat pedang samurai, waktu akan menebas kita bila tidak diatur dengan sungguh-sungguh. Hii… syereem.
Waktu juga tak akan pernah kembali atau diulang lagi. Bila sudah lewat ya sudah, kita hanya bisa memperbaikinya di masa depan dengan berusaha tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjadikan waktu kita benar-benar berkualitas.

Efektif dan Efisien
Sebelum mengupas lebih dalam tentang waktu ini, maka perlu kita pahami makna efektif dan efisien terlebih dahulu.

Efektif dimaknai sebagai memberikan hasil yang maksimal, atau sesuai dengan tujuan. Maka agar waktu kita efektif kita membutuhkan tujuan yang jelas, focus dan alokasi waktu yang cukup.
Karena efektif ini berkaitan dengan hasil, maka kita perlu kejelasan tujuan kegiatan/aktivitas yang kta rencanakan. Sehingga dimanapun bunda bekerja (baik ranah public maupun domestic), pastikan bunda memiliki kejelasan tujuan, target pencapaian yang spesifik.
Lalu apa bedanya dengan efisien?

Efisien terkadang lebih berkaitan pada aspek sumber daya yang kita miliki. Termasuk waktu. Misalnya seperti ini, bunda ingin menyelesaikan sebuah kegiatan. Kegiatan ini bunda targetkan bisa rampung dalam waktu 1 jam. Dan bila bunda bisa menyelesaikan kegiatan itu benar dalam waktu 1 jam, maka itulah efisien. Namun, bila kegiatan itu belum selesai dalam target waktu anda maka itu namanya tidak efisien.

Maka agar bisa efektif dan efisien kita perlu menata kegiatan-kegiatan kita. Sebab efektif dan efisien ini tidak bisa dipisahkan.

Sumber : http://www.ibuprofesional.com


Tinggalkan komentar

Dari Penulis ke Motivator, Hayo Siapa yang mau ???

Hasil Belajar di TWC 3 Wisma UNJ 28-29 Des 2013

Apa kabar guraruers? Alhamdulillah semoga guraruers dalam keadaan damai, kreatif, produktif dan selalu mencari hakekat kebenaran. Itu yang menjadi harapan kita semua. Amin YRA. Semoga guraruers mengawali tahun 2014 dengan hati yang bersih, sehat lahir batin dan selalu semangat untuk mengadakan perubahan walau sekecil apapun dalam menuju kebaikan. Seperti janji saya pada diri sendiri untuk bisa menuangkan kembali apa yang saya peroleh di TWC 3, maka sesi ke 2 di hari ke 2 TWC 3, akan saya kupas tuntas ala pikiran dan daya tanggap saya. Sila bila pembaca punya masukan atau pertanyaan yang kritis mari kita diskusikan bersama sehingga membawa kemanfaatan bersama.

Panitia memang royal euy dalam mendatangkan pembicara. Peserta dibuat senang dan bahagia karena bisa mendapatkan materi yang sama dari sudut pandang dua orang pembicara. Mengapa saya katakan demikian? Karena pada sesi ini yang menyampaikan 2 orang pembicara yaitu Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Durasi waktu yang Cuma 2 jam jelas sangat singkat apalagi dilengkapi dengan sesi Tanya jawab. Saya mencoba merangkum apa yang saya dapat dari sesi ini.

Moderator secara singkat memperkenalkan dua pembicara dan peserta juga lebih jelas lagi bisa melihat profilnya dari tayangan slide yang membantu proses transfer ilmu dan sharing di acara TWC ini. Pak Alpiyanto yang berpostur bak seorang peragawan, tenang, santun dan terasa sekali kehangatannya ketika menyapa kami. Begitu slide dan pencerahannya dipaparkan semakin paham, ternyata beliau guru yang hebat dan layak dihadirkn panitia di ajang TWC 3 karena. Pak Alpiyanto bukan sekedar trainer dan motivator tapi beliau memang penulis banyak buku yang berhubungan dengan “ Hati”

Dalam kesempatan ini Pak Alpiyanto membagikan ilmunya yang katanya “ Rahasia” tapi koq dibagikan? Ya itulah salah satu contoh judul buku atau kalimat yang bombastis dan “eyes catching” yang mewakili dari keseluruhan isi buku itu. Karena Pak Alpiyanto adalah tokoh yang selalu menerbitkan buku melalui indie ( jadi dalam slidenya penuh dengan buku-buk karyanya dan juga bukti fisik berupa foto ketika buku itu dijadikan alat pelatihan atau seminar) wow sungguh luar biasa.

Pembawaan Pak Alpi yang tenang ketika membuka sesi ini memancing peserta TWC 3 dengan pertanyaan yang menggelitik menggunakan method “Samudra Hati” jujur saya baru tahu istilah ini di TWC 3 dan dari slide cove buku Pak Alpi. Ilmu yang Pak Alpi bagikan sungguh luar biasa.

Ini intinya;
1. Menulislah dengan gaya yang unik tapi dibutuhkan masyarakat. Yang seperti apa ya? Yaitu yang tulisan yang member solusi, sekaligus langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah. Tulisan yang memberi inspirasi berupa kisah nyata, dan testimony orang-orang yang unik dan sukses. Tulisan yang member motivasi dan penuh dengan kata-kata bijak. Banyak kata-kata mutiara yang bisa dijadikan ide tulisan yang baik.
2. Bila sudah menulis lalu mau diterbitkan dimana? Ngga usah bingung kata Pak Alpi. Terbitkan saja sendiri. Atu bisa juga bergabung dengan teman. Melalui lembaga juga bisa, melalui penerbit yang bisa membantu proses ISBN nya juga bisa.
3. Menulis sudah, diterbitkan sudah maka bagaimana memasarkannya? Mau tahu kan! Kata Pak Alpi, Pakai saja wadah institusi ada PGRI, gunakan untuk seminar dan pelatihan. EO (event Organizer) bisa juga sebagai jalan memasarkan buku yang sudah diterbitkan. Atau cara lain yang bisa diusahakan adalah dengan bekerjasama dengan teman. Dan menggunakan system bagi hasil.

Dalam pesan pamungkasnya Pak Alpi mengatakan bahwa yang terpenting adalah tindakan yang harus diperhatikan adalah mengikuti pelatihan lalu kembangkan dengan gaya pikiran sendiri. Pelajari buku-buku best seller yang akan memperluas wawasan yang akan melahirkan pemikiran baru. Setelah itu gandeng penerbit atau terbitkan sendiri dan yang tak kalah penting adalah membangun jaringan atau komunitas dalam memasarkan buku tersebut dan focus lah dalam semua kegiatan yang positif.

Dari menulis banyak buku, belajar dan mengadakan pelatihan maka Pak Alpi yang katanya dulu gagap, apatis, dan tidak PD berkat menulis dengan menggunakan samudera hatinya, beliau menjadi seorang motivator menulis kekerapa kota di Indonesia.


Tinggalkan komentar

Jadikan Hidup Punya Makna Yuk…!!!

Salam motivasi. Luar biasa pagi ini kita masih bisa berbagi disini. Mengikuti acara chanel TV di pagi hari yang diisi oleh santapan ruhani, kali ini saya juga ingin berbagi untuk diamalkan terutama yang meyakini Islam sebagai agamanya. Dan ini merupakan bagian dari dakwah yang hukumnya fardu ain.

Saya hanya ingin berbagi ilmu atau renungan yang menjadikan hidup kita penuh makna sesuai dengan hakekatnya di jum’at ceria pagi ini.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku” (QS adz-Dzariyat[51]:56)
Agar hidup kita punya makna sebaiknya kita dapat meraih 4 nilai dalam kehidupan ini. Keempat nilai tersebut adalah;

1. Nilai ruhiyah yang dapat kita peroleh dengan menjalankan ibadah-ibadah mahdhah kepad Allah SWT. Shalat wajib tak pernah dilupakan, shalat sunnah, dhuha, tahajud,istikharah dan lainnya diupayakan, dakwah tidak dilalaikan, demikian juga dengan kewajiban lainnya.

2. Nilai Khuluqiyah. Bagaimana meraih nilai yang ini? Yaitu dengan mendarah-dagingkan akhlak mulia di dalam dirinya. Senantiasa berkasih sayang kepada sesame muslim, hormat kepada yang lebih tua, menengok orang sakit, hormat kepada guru, dan membantu orang yang lemah, seluruh akhak mulia sesuai ajaran Islam dilakukan.

3. Nilai Insaniyah. Artinya peduli kepada sesame manusia tanpa memandang, suku, ras, ataupun agamanya. Ini dilakukan dengan melaksananakan seluruh hokum-hukum Allah SWT yang berkaitan dengan manusia secara umum. Misalnya ketika ada kecelakaan di jalan raya. Tanpa perlu bertanya kita segera menolong, ketika jadi penguasa harus bisa menerapkan hokum Allah secara benar. Ketika datang ke kamp pengungsian harus mau membantu tanpa memandang siapa mereka.

4. Nilai Madiah atau materil. Kita berhak mendapatkan nilai ini sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya; Sebagai seorang pedagang ia berupaya mendapat untuk dengan cara yang benar. Sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai pegawai ia paham mana yang hak dan mana yang bathil, apapun pekerjaannya, ia selalu taat dan paham mana yang halal dan haram. Begitu juga ketika membangun rumah. Ia berusaha membuat rumah yang kokoh yang bisa melindungi keluarganya dan juga kesehatannya terjaga.

Mungkinkah kita mendapatkan keempat nilai tersebut dalam hidup kita? Semua tergantung dari sejauh mana usaha kita memaknai hidup ini. Karena semua itu baru bisa tercapai dengan melakukan seluruh hukum Islam. Artinya seseorang yang betul-betul tunduk, taat dan patuh pada hokum Islam. Tidak ada acara pilih-pilih ayat, tidak ada alasan-alasan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Tidak menunda apa yang sudah jadi hukum Allah. Jadikan hidup ini untuk ibadah maka hidup ini akan bermakna.

Bagaimana menurut anda?