Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


Tinggalkan komentar

Nulis Jurnal Yuk*

_Oleh :Sri Sugiastuti_

Rezeki itu tidak selalu berupa uang atau sesuatu yang berhubungan dengan materi. Ilmu yang saya peroleh secara ngga sengaja itu juga rezeki. Seperti yang saya tuliskan kali ini.

Singkatnya ketika sedang asyik berWAG ria ada info bakal ada kelas sharing online tentang Manfaatnya Menulis Jurnal. Tentu saja saya bergairah, Ahay ada yang saya dapat nih, apalagi pematerinya Jeng Artha Julie Nava seorang Outhor, personal banding, social branding, analyst, yang tinggal di Amrik.

Setelah say helo, sharing online dimulai. Menulis jurnal, sebetulnya bukanlah hal yang baru. Manusia sudah melakukan pencatatan terhadap aktifitas mereka sejak dulu kala. Kalau kita melihat dari catatan sejarah, ada banyak sekali bukti bahwa teknik jurnaling ini sudah dilakukan sejak dulu kala. Contohnya: masyarakat Mesir yang hidup sekitar 4500 tahun lalu, sudah menggunakan jurnal ketika mereka membangun piramida Giza.

Begitu juga dengan Leonardo da Vinci rajin menulis ide-idenya dalam jurnal. Lengkap dengan deskripsi mesin dan sebagainya yang jadi penemuan dia. Ada juga Frieda Kahlo. Ia pelukis terkenal dari Meksiko. Karena ia pelukis, dan jiwa seninya tinggi, tidak heran kalau jurnalnya juga penuh berisi goresan kuas dan warna.

Logbook alias jurnal kuno masa Mesir yang memuat jadwal pembangunan menara Giza sekitar 4500 tahun lalu pda masa 27 tahun pemerintahan raja Khufu. Lengkap dengan nama inspekturnya yang bernama Merer, dan ia membawahi 200 pekerja. Pengawasnya dari pejabat istana bernama Ankhaf, saudara tiri raja Khufu. Jurnal ini ditemukan di situs

Jurnal juga digunakan oleh ilmuwan, seniman, peneliti, dan penulis, selalu mencatat aktifitas dan pemikiran mereka dalam jurnal. Jeng Julie mem berikan contohnya ketika ia menggunakan jurnal sejak lama, karena pekerjaan saya sebagai social researcher yang harus ke lapangan dan mengumpulkan data.

Pertama kali yang mengenalkan sistem jurnal adalah professornya dari Cambridge University. Namanya Judith Ennew. Dia sekarang sudah almarhum. She is the best, guru paling hebat yang pernah dia kenal, Ia mendapatkan untuk soal penelitian sosial. Orangnya jutek, nggak toleran terhadap kesalahan sekecil apapun.

BEDA JURNAL DENGAN DIARY

Sebetulnya sih nggak beda-beda amat, karena fungsi keduanya adalah untuk mencatat/merekam hal-hal yang dialami oleh seseorang.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, orang membuat perbedaan tentang Diary dan Jurnal.

Diary, adalah istilah untuk catatan tentang aktifitas keseharian, mulai dari pagi hingga malam. Dan pencatatannya runtut, dari A (bangun tidur biasanya) hingga ke Z (saat pergi tidur lagi). Sehari penuh, dan tanpa tema spesifik.

Sedangkan Jurnal, adalah aktifitas menulis atau merekam sesuatu yang dialami penulisnya secara lebih rinci, dan dengan tema spesifik. Ia tidak sekedar mencatat aktifitas keseharian, namun juga bisa disertai dengan goal khusus. Misalnya daftar aktifitas yang harus dijalankan, goal untuk Mindset, goal untuk diet, goal olahraga, ngaji, dan sebagainya.

Pendeknya, jurnal punya tujuan yang lebih spesifik. Selanjutnya, sistem jurnal yang biasa jeng Julie gunakan untuk merekam jejak problem ya.

Kebetulan dia sering dapat gangguan berupa mimpi aneh-aneh. Akhirnya, ketimbang bingung sendiri, ia catat saja, sembari melakukan terapi spiritual semacam doa, dzikir, berpikir positif, rukyah, dll.

Alhamdulillah sekarang gangguannya sudah jauh berkurang. Mimpinya bagus-bagus sekarang, lucu, konyol, indah. Semacam itu. Ia hampir tidak pernah lagi bermimpi buruk. Dan kalaupun ada, itu cepat hilang sehingga tidak bisa dicatat.

Perbedaannya lagi, jurnal itu lebih fleksibel. Kita bisa memasukkan sekaligus beberapa hal yang kita anggap penting. Misalnya nih: kita punya goal diet, goal olahraga dll… itu bisa kita masukkan sekaligus ke dalam satu catatan. Jadi kita tidak lagi pakai agenda terpisah-pisah. Sekali jalan, beberapa pulau terlampau.

Dan jurnal juga bisa jadi penyalur kreatifitas kita. Misalnya kita gemar corat-coret (ini biasanya tipe Kinesik), kita bisa gunakan gambar, foto, warna-warni, kain perca dll… seperti halnya kita sedang scrapbooking.

Kita bisa memasukkan desain baju yang sedang kita rancang, bersamaan dengan jadwal harian, curhat dsb. Jadi, jurnal tidak harus hanya berupa tulisan. Seandainya muat pun, temen-temen bisa taruh pohon beringin di dalamnya istilahnya gitu.Menarik, bukan?

Kemudian, sistem jurnaling sesekali bisa dipakai untuk kelas Semacam Terapi Ikhlas, dan Menemukan Daya Tarik Diri serta Potensi Alamiah.

Jeng Julie berbagi bahwa Darwin, si Bapak Evolusi. Ia selalu mencatat dengan cermat setiap hal yang ditemukannya. Lengkap dengan gambar, peta, nomor penemuan, tanggal, dan sebagainya. Dari catatan hasil lapangan inilah, ia akhirnya berhasil menyajikan teorinya yang terkenal tentang evolusi.

Sistem jurnal, digunakan juga untuk membantu kita agar bisa FOKUS dalam kegiatan keseharian. Kita perlu banget ya, melatih diri untuk fokus. Apalagi buat mereka yang punya bisnis dan punya seabrek kegiatan. Kalau kita nggak fokus, ya gud bai deh yang namanya kesuksesan.

_Bersambung ya.._


Tinggalkan komentar

Masa Depan Profesi Menulis

_Oleh: Sri Sugiastuti_

Sudah kah Anda dapat bukti ada banyak orang sukses karena menulis buku? Atau orang yang sudah sukses lalu menulis buku? Konon menulis buku cara paling efektif adalah melipatgandakan kesuksesan.

Yang jadi pertanyaan siapkah Anda punya buku sendiri? Silakan dijawab, jadikan PR, atau cukuplah direnungkan saja. Pernahkah Anda mendengar istilah writerprenuer.”? Mereka biasanya disebut sebagai penulis lepas. Punya posisi mandiri.

Mengapa Masa depan profesi menulis perlu Anda ketahui sehingga profesi menulis menjadi pilihan utama. Ini fakta menariknya. Penulis itu tidak terkait kontrak kerja dari lembaga, perusahaan atau organisasi manapun. Penulis ini memiliki posisi merdeka.

Penulis lepas itu tidak tertekan, tidak dikejar _deadline_ , meskipun begitu ia punya jadwal kerja, target kerja yang ia buat sendiri secara jelas.

Artinya apa? _Ia bisa menjalankan profesi menulis ini dengan menyenangkan. Awet muda, banyak teman dan selalu berpikir positif_

Nah, jika menggunakan kaca mata profesi _Cashflow Quadrantny Robert Kiyosaki_ , profesi semacam ini masuk dalam Quadrat S ( _self employ_ ), artinya ia kerja untuk dirinya sendiri sebagai profesional.

Membaca paparan di atas pasti menggiurkan, berbahagia lah Anda bila punya passion menulis, mimpi Anda untuk menjadi orang sukses sudah di depan mata, tinggal lakukan, 3M, Menulis, Menulis menulis.

Beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Penulis Lepas:

1. Menulis buku sendiri dan diterbitkan sendiri ( _Self Publishing_ ) kerja sama dengan Penerbit.
2. _Blogger_ , menulis konten yang ia sukai.
3. Penulis artikel di media massa, portal berita bukan sebagai jurnalis, tapi sebagai koresponden.
4. _Ghostwriter_ , membantu orang lain menulis buku dengan jasa ketiknya.

Pekerjaan penulis lepas yang mungkin saja bisa menjadi rekomendasi teman-teman semua, jika ingin menekuni pekerjaan-pekerjaan tersebut dalam bidang penulisan, yaitu Menulis Buku. lalu ciptakan personal branding Caranya bagaimana? Jangan lelah untuk mengupgrade diri terus lah belajar dengan penuh semangat.

Tulisan ini terinspirasi dari belajar menulis online baik yang gratisan maupun berbayar. Saya pribadi sering tergoda dengan yang gratis padahal ujung-ujungnya tetap diarahkan untuk gabung dan berbayar. Jelas semua ada plus minusnya. Bisa sukses bisa gagal, semua kembali ke niat juga seberapa serius Anda berkomitmen dengan keputusan yang sudah diambil.

Salam Literasi penuh cinta


Tinggalkan komentar

Dari Penulis ke Motivator, Hayo Siapa yang mau ???

Hasil Belajar di TWC 3 Wisma UNJ 28-29 Des 2013

Apa kabar guraruers? Alhamdulillah semoga guraruers dalam keadaan damai, kreatif, produktif dan selalu mencari hakekat kebenaran. Itu yang menjadi harapan kita semua. Amin YRA. Semoga guraruers mengawali tahun 2014 dengan hati yang bersih, sehat lahir batin dan selalu semangat untuk mengadakan perubahan walau sekecil apapun dalam menuju kebaikan. Seperti janji saya pada diri sendiri untuk bisa menuangkan kembali apa yang saya peroleh di TWC 3, maka sesi ke 2 di hari ke 2 TWC 3, akan saya kupas tuntas ala pikiran dan daya tanggap saya. Sila bila pembaca punya masukan atau pertanyaan yang kritis mari kita diskusikan bersama sehingga membawa kemanfaatan bersama.

Panitia memang royal euy dalam mendatangkan pembicara. Peserta dibuat senang dan bahagia karena bisa mendapatkan materi yang sama dari sudut pandang dua orang pembicara. Mengapa saya katakan demikian? Karena pada sesi ini yang menyampaikan 2 orang pembicara yaitu Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Durasi waktu yang Cuma 2 jam jelas sangat singkat apalagi dilengkapi dengan sesi Tanya jawab. Saya mencoba merangkum apa yang saya dapat dari sesi ini.

Moderator secara singkat memperkenalkan dua pembicara dan peserta juga lebih jelas lagi bisa melihat profilnya dari tayangan slide yang membantu proses transfer ilmu dan sharing di acara TWC ini. Pak Alpiyanto yang berpostur bak seorang peragawan, tenang, santun dan terasa sekali kehangatannya ketika menyapa kami. Begitu slide dan pencerahannya dipaparkan semakin paham, ternyata beliau guru yang hebat dan layak dihadirkn panitia di ajang TWC 3 karena. Pak Alpiyanto bukan sekedar trainer dan motivator tapi beliau memang penulis banyak buku yang berhubungan dengan “ Hati”

Dalam kesempatan ini Pak Alpiyanto membagikan ilmunya yang katanya “ Rahasia” tapi koq dibagikan? Ya itulah salah satu contoh judul buku atau kalimat yang bombastis dan “eyes catching” yang mewakili dari keseluruhan isi buku itu. Karena Pak Alpiyanto adalah tokoh yang selalu menerbitkan buku melalui indie ( jadi dalam slidenya penuh dengan buku-buk karyanya dan juga bukti fisik berupa foto ketika buku itu dijadikan alat pelatihan atau seminar) wow sungguh luar biasa.

Pembawaan Pak Alpi yang tenang ketika membuka sesi ini memancing peserta TWC 3 dengan pertanyaan yang menggelitik menggunakan method “Samudra Hati” jujur saya baru tahu istilah ini di TWC 3 dan dari slide cove buku Pak Alpi. Ilmu yang Pak Alpi bagikan sungguh luar biasa.

Ini intinya;
1. Menulislah dengan gaya yang unik tapi dibutuhkan masyarakat. Yang seperti apa ya? Yaitu yang tulisan yang member solusi, sekaligus langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah. Tulisan yang memberi inspirasi berupa kisah nyata, dan testimony orang-orang yang unik dan sukses. Tulisan yang member motivasi dan penuh dengan kata-kata bijak. Banyak kata-kata mutiara yang bisa dijadikan ide tulisan yang baik.
2. Bila sudah menulis lalu mau diterbitkan dimana? Ngga usah bingung kata Pak Alpi. Terbitkan saja sendiri. Atu bisa juga bergabung dengan teman. Melalui lembaga juga bisa, melalui penerbit yang bisa membantu proses ISBN nya juga bisa.
3. Menulis sudah, diterbitkan sudah maka bagaimana memasarkannya? Mau tahu kan! Kata Pak Alpi, Pakai saja wadah institusi ada PGRI, gunakan untuk seminar dan pelatihan. EO (event Organizer) bisa juga sebagai jalan memasarkan buku yang sudah diterbitkan. Atau cara lain yang bisa diusahakan adalah dengan bekerjasama dengan teman. Dan menggunakan system bagi hasil.

Dalam pesan pamungkasnya Pak Alpi mengatakan bahwa yang terpenting adalah tindakan yang harus diperhatikan adalah mengikuti pelatihan lalu kembangkan dengan gaya pikiran sendiri. Pelajari buku-buku best seller yang akan memperluas wawasan yang akan melahirkan pemikiran baru. Setelah itu gandeng penerbit atau terbitkan sendiri dan yang tak kalah penting adalah membangun jaringan atau komunitas dalam memasarkan buku tersebut dan focus lah dalam semua kegiatan yang positif.

Dari menulis banyak buku, belajar dan mengadakan pelatihan maka Pak Alpi yang katanya dulu gagap, apatis, dan tidak PD berkat menulis dengan menggunakan samudera hatinya, beliau menjadi seorang motivator menulis kekerapa kota di Indonesia.