Sri Sugiastuti gurujalanjalan

Berjuang Menggapai Ridho ALLAH di Dunia & Akhirat


20 Komentar

Curug Sidomba di Kaki Gunung Ceremai

DSCN2319

Ini mas Hubby sama mobil si Domba di Kuningan Jawa Barat medio April 2016

Kira kira dengan foto awal seperti ini mau cerita apa ya?  Ini sepenggal kisah saya bersama mas Hubby sepanjang  siang di kota Kuningan nan sejuk dan permai. Ini lokasi ke tiga yang kami kunjungi ketika ngebolang di kota Kuningan.

Nama tempat wisata ini Curug Si Domba. Untuk sampai ke lokasi ini kami mengajak Neng Cicih dan Aa Cecep dari mananya jelas mereka orang Kuningan ya. Pertemuan kami dengan kedua orang ini juga karena Allah semata. Koq bisa ? Apa sih yang tidak bisa kalau Allah sudah mengizinkan.? Buktinya kenekatan kami yang jalan semi backpackeran ala saya  dan mas Hubby

DSCN2299

Ini mas Hubby sama mobil si Domba di Kuningan Jawa Barat medio April 2016

Kisahnya begini, setelah hilang rasa penasaran saya denganpasar Tegalgubug kami melaju ke arah Kuningan diantar bus jurusan Cirebon dari Cirebon kami carter angkutan umum yang disebut si elf menuju ke Kuningan. Bermodal nanya ke Pak sopir dan ada gambaran sedikit tentang Kuningan ketika googling. Sampai lah kami di daerah yang namanya Sangkan Hurip yang konon ada Pemandian air panas alami.

Karena masih musim liburan hotel dan tempat penginapan disana fully , hampir putus asa juga nih, sambil nenteng tas yang lumayan berat setelah bertanya kesana kemari, akhirnya dapat juga guest house yang masih dalam dalam tahap pembangunan. Kami dapat kamar di lantai dua dengan view yang cantik.

DSCN2209

Ini mas Hubby sama mobil si Domba di Kuningan Jawa Barat medio April 2016

Alhamdulillah akhirnya dapat juga tempat untuk istirahat setelah semalaman berpacu di atas rel kereta, disambung angkot, bus dan elf. Rasa penat kami hilang setelah mandi air hangat dan sarapan roti dan teh hangat sementara mata juga dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukkan. Puas memandangi keindahan gunung Ceremai saya minta tolong sama Si Ibu pemilik rumah mungkin bisa kasih referensi obyek wisata yang bisa diliat di Kuningan juga caranya sampai ke tempat wisata tersebut.

Si ibu dengan semangatnya memberi info kalau di Kuningan ada waduk Darma, Curug Sidomba, Cibulan, Taman Ade Irma Suryani, Linggar Jati, kalau yang di Cirebon ada Goa Sunyarunyi, Kraton Kasepuhan, dan Kampung Batik Trusmi.”Tapi kalau satu hari ngga cukup deh waktunya, sebentar ya Bu, saya coba hubungi teman saya yang biasa dicarter mobilnya.”

Sambil menunggu jawaban dari teman si Ibu saya dan mas Hubby ke luar kamar menikmati bumi Sangkan Hurip yang memukau, udara pagi mulai menghangat dan cuaca sangat cerah.

DSCN2221

Suasana pagi di sudut kamar saya terlihat asri dan bikin kita betah berlama lama di sudut itu

DSCN2224

Jadi ingin berselfie ria disini sudah siap mas Hubby dengan kamera digital lungsuran Anak lanang 4 tahun lalu

Singkat cerita kami berjodoh dengan teman si Ibu pemilik rumah. Deal si AA cecep siap mengantar kami tapi dia minta ditemani Neng Cicih.. karena mereka semi amatir karena ini pekerjaan partimer mereka. Aslinya mereka pengawai rumah sakit daerah. Si Aa Cecep driver sedang Neng Cicih bagian admin.

DSCN2317

Di pinggir kolam yang berisi ikan nila dan ikan Mas dengan latar belakang masjid yang megah membuat orang betah berlama lama di sana

Curug Sidomba jadi salah satu pilihan yang kami kunjungi. Curug ini   berada di kecamatan Jalaksana, di bawah kaki gunung Ceremai Kuningan. Kami tidak turun samapai ke curug karena lumayan jauh jalannya selain mempertimbangkan waktu yang ada. Si Aa juga bilang ini musim kemarau biasa airnya ngga deras dan kurang bagus dan tingginya juga cuma 3 meter.

Curug Sidomba itu sebenarnya punya mitos bahwa diapa saja yang cuci muka dari air terjun Sidomba bakal enteng jodoh banyak rezeki, dan apa aja yang jadi hajatnya bakal terkabul. Ada juga yang meyakini bahwa tempat ini dulu sebagi salah satu tempat untuk tetirah atau bersemedinya Syech Jenar.

Karena tidak bisa ambil foto air terjun yang kering mas Hubby pilih ambil gambar domba bertanduk 3 yang jadi ikon obyek wisata di Sidomba.

DSCN2305

Di curug Sidomba bisa melihat domba bertanduk 3. Domba ini sudah berpuluh generasi dan dijaga kelestariannya

Di sebelah kandang domba ada kandang burung merak yang cukup besar mas Hubby cukup puas dengan hasil jepretannya walau terhalang kawat halus di lensa kameranya.

DSCN2307

Cantik ya si burung merak ini. dia sedang menyapa saya.. Halo selamat datang.. hehehe

Taman, masjid dan kolam ikan yang ada di lokasi Curug Sidomba terawat dengan rapih, konon ini milik perorangan, tentu membutuhkan dana yang besar untuk merawatnya. Ketika kami berkunjung tidak banyak pengunjung lain yang datang. Ini karena kurang promosi, salah urus atau memang tersa.ingi dengan obyek wisata water boom yang sedang menjamur

Oh iya sebelum meninggalkan lokasi curug Sidomba kami sempat keliling melihat bumi perkemahan yang letaknya ngga jauh dari curug Sidomba.

DSCN2312

Cukup bergaya di depan pintu masuk menuju curug Sidomba

DSCN2303

Bumi perkemahannya ada di bawah sana bersih rapih dan udaranya juga sejuk

Mungkin ada yang mau tau untuk sampai kesana bagaimana gitu? Pengunjung bisa samapai di lokasi dengan kendaraan pribadi atau angkuan umum, tapi ya harus sabar karena menunggunya cukup lama. ketika kami kesana hanya mengeluarkan uang 25 ribu. dengan perincian 4 orang pengunjung plus parkir mobil 5 ribu.

Perlahan mobil kami meluncur meninggalkan lokasi curug Sidomba, untuk melanjutkan ke obyek wisata sejarah yaitu Linggar Jati..

 

 

 

 

 


8 Komentar

Donoloyo Hutan Jati Yang Mempesona

DSCN2747[1]

Selamat datang di hutan Donoloyo nan asri dan eksostis

Buat saya dan mas Hubby silahturahim dan jalan jalan itu penting. Kami menggunakan istilah ngerabuk nyowo untuk bisa menikmati kebersamaan kami yang hampir 30 tahun tepatnya besok tanggal 19 Oktober 2016. Nah karena alasan ini juga kami bisa menikmati keindahan hutan jati Donoloyo. Ini bukan kebetulan tapi izin Allah lah yang mengantarkan kami bisa sampai di hutan jati yang keren dan eksotik.

Kami berangkat dari Solo sudah agak sore menempuh jarak kurang lebih 110 KM. Jalan menuju Slogohimo lumayan mulus tapi penuh dengan tanjakan dan tikungan mesra. Alhamdulillah kami ngga kesasar walau sempat panik antara sudah kelewatan atau belum sampai. Cipika cipiki saya helo, langsung naruh barang cuci kaki cuci tangan dan muka, dengan sedikit basa basi langsunga aja deh ke acara makan malam. Tadi magrib baru sempat berbuka puasa dengan segelas teh anget dan sepotong roti sekedar buat membatalkan puasa sunnah saya.

Menu yang dihidangkan cukup nendang nih, ada oseng kulit melinjo yang dicampur kikil dengan ranjau cabe rawit, plus kulupan /urap daun khas dari gunung yang seger dan telur dadar. Menu ini bikin makan semakin gembul lagi dan lagi. Setelah makan kami masih ngobrol asyik hingga larut sambil merencanakan acara kami besok pagi. Nah yang jadi tujuan kami besok salah satunya ya hutan Donoloyo

Donoloyo 8 Agustus 2016

Selamat datang di hutan Donoloyo nan asri dan eksostis

Keponakan saya dan suaminya berbaik hati mau mengantar kami ngebolang Keberadaan hutan jati Donoloyo ada di Desa Watusono, Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah, tidak terlalu jauh dari rumah keponakan saya..melewati jalan kampung yang cukup mulus. Kami melewati rumah penduduk yang masih memiliki kebun yang luas. Suasana memperingati hari kemerdekaan sangat terasa aromanya kemeriahan bendera dan umbul umbul memenuhi jalan jalan kampung yang kami lalui. Kami beristirahat sejenak sambil mendengarkan asal muasal hutan ini dan juga kisah mistisnya. Hampir semua pohon jati yang besar besar memiliki nama  seperti berbagai tokoh yang ada. ada jati petruk, jati wedok, jati semar dan berbagai nama lain’

DSCN2755[1]

Selamat datang di hutan Donoloyo nan asri dan eksostis

Konon Donoloyo   menyimpan kisah bersejarah tentang kerajaan Majapahit.Hutan ini  dulunya merupakan pemasok kayu jati untuk kerajaan Majapahit, yang dipimpin  Raja Airlangga.

Koq dikasih nama Donoloyo sih? Tepatnya si Ki Ageng Donoloyo seorang laskar kerajaan Majapahit yang sengaja menanam pohon jati di desa itu untuk persediaan bahan bangunan kerajaan. Setelah Majapahit runtuh, kayu jati dari Donoloyo masih digunakan di era Wali Songo, tepatnya untuk pembangunan Masjid Demak dan Keraton Surakarta.

Kualitas kayu dari hutan Donoloyo khususnya di kawasan Punden memang tak perlu diragukan. Kayu jati di hutan tersebut rata-rata memiliki tinggi 10 meter dengan diameter 1 meter. Tak heran jika bangunan tempo dulu dengan bahan kayu jati asal alas Donoloyo tidak lapuk meski sudah berumur puluhan tahun.

DSCN2768[1]

Di sbelah hutan jati ada hutan pinus yang tertata rapih.

Hutan ini dianggap sakral dan cukup angker. Tidak semua orang bisa membawa pulang atau menebang kayu jati sembarangan di hutan ini. Pernah ada pencuri kayu dari luar kota yang membawa kayu jati dari hutan Donoloyo, ternyata kayu jati tersebut raib alias kembali ke tempat asalnya di Donoloyo.

Ada juga yang mengisahkan bila mengambil kayu tersebut untuk pembangunan masjid di Demak atau di Surakarta, ketika membawanya harus diiringi gamelan lengkap dengan ledek/sinden agar tidak sia-sia.Penduduk setempat dan yang masih percaya akan kesaktian dari Ki Ageng Donoloyo sering mengadakan upacara di pesanggarahan tersebut sambil mengadakan ritual menyembelih kambing. Para penziarah atau pengunjung biasa para pengusaha yang bergerak di bidang perkayuan. Merka sengajaja datang untuk ngalap berkah.

DSCN2773[1]

Bahagianya berada di bawah pohon besar perpaduan pohon jati dan pohon beringin yang ada di pertigaan jalan menuju hutan Donoloyo

Kisah lain yang tak kalah seru konon sebagian penduduk dan penziarah menyakini bahwa Ki Ageng Donoloyo masih hidup. Denagn alasan bahwa mereka tidak menemukan makamnya. atau Ki Ageng Donoloyo menjelma jadi salah satu pohon jati yang dikeramatkan. Itulah sebabnya setiap jelang malam juat kliwon dan jumat pon hutan ini rami dikunjungi penziarah yang punya maksud lain. Meraka berkeyakina bila datang dan berdoa di hutan Donoloyo usaha mereka akan berhasil dan jadi orang sukses.

Biarkan lah mereka mempercayai semua  itu., bagi saya yang terpenting adalah menikmati keindahannya dan takjub dengan ciptaan Allah. Jati merupakan salah satu kekayaan bangsa kita yang harus dilestarikan.

Rasanya ingin berlama lama di hutan itu, tapi mengingat masih ada lagi yang harus kami datangi, setelah puas berfoto ria dan mengamati berbagai bentuk pohon jati yang begitu mempesona, kami lanjut perjalanan ini.